kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.733.000   -10.000   -0,36%
  • USD/IDR 18.188   -12,00   -0,07%
  • IDX 5.381   38,69   0,72%
  • KOMPAS100 707   8,98   1,29%
  • LQ45 534   7,33   1,39%
  • ISSI 187   1,93   1,04%
  • IDX30 303   4,28   1,43%
  • IDXHIDIV20 374   3,62   0,98%
  • IDX80 80   1,00   1,26%
  • IDXV30 103   0,26   0,26%
  • IDXQ30 98   1,70   1,77%

Harga Minyak Dunia Naik Tipis Selasa (9/6): Brent ke US$ 94,38 & WTI ke US$ 91,41


Selasa, 09 Juni 2026 / 08:01 WIB
Harga Minyak Dunia Naik Tipis Selasa (9/6): Brent ke US$ 94,38 & WTI ke US$ 91,41
ILUSTRASI. Minyak Dunia (REUTERS/Eli Hartman)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia menguat tipis pada perdagangan Selasa (9/6/2026) pagi setelah Iran dan Israel menghentikan serangan langsung satu sama lain.

Namun, pelaku pasar masih menunggu kejelasan apakah penghentian serangan tersebut akan berkembang menjadi perdamaian yang lebih permanen atau hanya jeda sementara dalam konflik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.

Baca Juga: Trump Ancam Tinggalkan Netanyahu, Ketegangan AS-Israel Menghangat

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 13 sen atau 0,14% menjadi US$ 94,38 per barel pada awal perdagangan.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 11 sen atau 0,12% ke level US$ 91,41 per barel.

Pada sesi sebelumnya, harga minyak sempat melonjak lebih dari 5% setelah serangan baru Israel ke Iran dan Lebanon memicu kekhawatiran bahwa konflik di Timur Tengah akan semakin meluas.

Namun, kenaikan tersebut berangsur menyusut setelah militer Iran mengumumkan penghentian operasi militernya terhadap Israel.

Baca Juga: Era Baru Pasar Saham: 3 Raksasa Teknologi Siap Cetak Sejarah IPO Terbesar di Wall St

Chief Market Analyst KCM Trade Tim Waterer mengatakan, pasar masih meragukan ketahanan gencatan senjata yang terjadi saat ini.

"Meskipun ada sedikit kelegaan karena serangan langsung dihentikan sementara, investor belum yakin bahwa gencatan senjata ini akan bertahan lama," ujarnya.

Menurut Waterer, harga minyak saat ini lebih mencerminkan ketidakpastian yang masih tinggi dibandingkan optimisme terhadap penyelesaian konflik secara permanen.

Sementara itu, Market Analyst IG Tony Sycamore menilai, upaya meredakan ketegangan memang berhasil mencegah konflik berkembang lebih luas. Namun, situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah masih tetap rentan.

"Perdamaian yang berkelanjutan masih sulit diwujudkan sehingga risiko geopolitik tetap menjadi faktor yang mendukung harga minyak," kata Sycamore.

Baca Juga: Bidik Valuasi setara 5 Kali Lipat APBN RI, OpenAI Resmi Mendaftar IPO di AS

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyerukan agar Iran dan Israel segera menghentikan aksi saling serang.

Menanggapi seruan tersebut, kedua negara menyatakan telah menghentikan serangan langsung untuk sementara waktu.

Meski demikian, Teheran menegaskan akan kembali melancarkan serangan apabila Israel melanjutkan operasi militernya terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon.

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan negaranya akan merespons dengan kekuatan penuh jika Iran kembali melakukan serangan.

Dalam wawancara dengan Axios, Trump mengungkapkan dirinya telah memperingatkan Netanyahu agar tidak kembali membuka front perang dengan Iran.

"Saya mengatakan kepada Bibi, Anda harus berhati-hati karena Anda bisa berjuang sendirian jika kembali berperang dengan Iran," ujar Trump.

Baca Juga: Survei Reuters/Ipsos: Kepuasan Publik Terhadap Trump Anjlok ke 35% Akibat Perang Iran

Pasar juga terus mencermati perkembangan negosiasi antara Washington dan Teheran. Salah satu isu utama yang didorong Amerika Serikat adalah pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelumnya dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia sebelum konflik meningkat pada akhir Februari lalu.

Pada Senin (8/6), militer AS juga dilaporkan menghentikan sebuah kapal tanker minyak kosong di Teluk Oman yang berupaya berlayar menuju pelabuhan Iran, yang disebut melanggar blokade yang masih diberlakukan terhadap negara tersebut.

Pelaku pasar kini menilai arah harga minyak dalam jangka pendek akan sangat bergantung pada perkembangan hubungan Iran-Israel dan peluang tercapainya kesepakatan damai yang lebih permanen di kawasan Timur Tengah.




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×