Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga minyak mentah dunia bergerak mendekati level tertinggi dalam enam pekan pada Senin (7/9/2026). Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah aksi saling serang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menyasar kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz serta wilayah perairan lainnya.
Situasi tersebut semakin meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kelancaran arus pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah, terutama jika lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz terus mengalami gangguan.
Mengutip Reuters, harga minyak Brent berjangka turun 9 sen atau 0,1% menjadi US$96,19 per barel pada pukul 08.22 GMT (15:22 WIB). Sebelumnya, harga Brent sempat menyentuh US$97,93 per barel, yang merupakan level tertinggi sejak 24 Juli 2026.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun 45 sen menjadi US$91,03 per barel. Harga WTI juga masih berada di dekat level tertinggi dalam enam pekan terakhir.
Kenaikan harga minyak semakin kuat setelah AS dan Iran kembali melakukan serangan. Sepanjang pekan lalu, harga Brent melonjak sekitar 8%, sedangkan WTI naik hampir 10%.
Serangan Kapal Tanker Picu Kekhawatiran Pasokan Minyak
Ketegangan terbaru terjadi setelah pasukan AS menyerang tiga kapal tanker minyak Iran pada Sabtu (5/9/2026), menurut Komando Pusat AS. Salah satu kapal yang menjadi sasaran berada di lepas pantai Pulau Kharg, yang merupakan salah satu pusat penting ekspor minyak Iran.
Baca Juga: FTSE 100 Tertekan Harga Minyak dan Prospek Kenaikan Suku Bunga The Fed
Di sisi lain, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran menyatakan pada Sabtu telah menargetkan tiga kapal tanker minyak yang melintasi jalur tidak resmi di Selat Hormuz. Iran juga menyebut telah menargetkan tiga kapal AS lainnya di wilayah berbeda.
Perusahaan intelijen maritim Marisks menilai serangan tersebut sebagai sebuah "eskalasi besar."
"Kapal tanker komersial kini sengaja digunakan sebagai instrumen tekanan ekonomi timbal balik, yang secara signifikan melemahkan perbedaan sebelumnya antara konfrontasi militer dan pelayaran komersial," ujar Marisks.
Kondisi tersebut berpotensi memberikan dampak langsung terhadap pasar minyak global. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia, sehingga gangguan terhadap aktivitas pelayaran dapat meningkatkan risiko keterlambatan pasokan dan lonjakan harga minyak.
Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Menurun
Data dari perusahaan analitik Kpler menunjukkan aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz mulai mengalami penurunan.
Rata-rata hanya sekitar 10 kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz setiap hari dalam 10 hari terakhir. Angka tersebut merupakan yang terendah sejak Mei 2026.
Penurunan lalu lintas kapal menjadi perhatian pelaku pasar karena semakin lama gangguan berlangsung, semakin besar potensi dampaknya terhadap pasokan minyak global.
Priyanka Sachdeva, Head of Market Insights di Phillip Nova, mengatakan pasar minyak dapat memperhitungkan potensi guncangan pasokan yang jauh lebih besar jika lalu lintas kapal tanker terus mengalami perlambatan.
"Jika lalu lintas kapal tanker mulai melambat secara material, pasar dapat memperhitungkan guncangan pasokan yang jauh lebih besar. Dan sudah ada tanda-tanda bahwa hal ini sedang terjadi," kata Sachdeva.
Goldman Sachs Prediksi Harga Minyak Bisa Tembus US$120
Potensi eskalasi konflik AS-Iran juga membuat proyeksi harga minyak semakin agresif.
Baca Juga: Bank Sentral China Makin Agresif Memborong Emas
Goldman Sachs memperkirakan harga minyak dapat melonjak hingga US$120 per barel apabila serangan terhadap kapal-kapal yang melintas di kawasan tersebut semakin meningkat.
Proyeksi tersebut mencerminkan kekhawatiran bahwa gangguan terhadap transportasi minyak dapat berkembang menjadi masalah pasokan yang lebih luas.
Risiko tersebut semakin besar apabila kapal tanker memilih menghindari Selat Hormuz atau perusahaan pelayaran menghentikan sementara aktivitasnya di kawasan tersebut akibat meningkatnya ancaman keamanan.
Iran sendiri dilaporkan akan mengumumkan zona terbatas di luar Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang. Pernyataan tersebut disampaikan Mohsen Rezaei, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, sebagaimana dilaporkan media pemerintah Iran.
OPEC+ Pertahankan Kebijakan Produksi Minyak
Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan kekhawatiran pasokan, OPEC+ memilih mempertahankan kebijakan produksi minyak untuk Oktober.
Keputusan tersebut diambil dalam pertemuan kelompok produsen minyak pada Minggu (6/9/2026). OPEC+ menyatakan kebijakan produksi untuk Oktober tidak berubah.
Kelompok produsen minyak tersebut masih perlu menyepakati kuota baru sebelum menentukan langkah produksi berikutnya.














