kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45891,58   -16,96   -1.87%
  • EMAS1.358.000 -0,37%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Harga Minyak Mentah Anjlok 1,5% di Pagi Ini (12/7), Terseret Pembatasan Baru di China


Selasa, 12 Juli 2022 / 08:13 WIB
Harga Minyak Mentah Anjlok 1,5% di Pagi Ini (12/7), Terseret Pembatasan Baru di China
ILUSTRASI. Harga minyak mentah acuan anjlok 1,5% di pagi ini


Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Harga minyak mentah melemah pada awal perdagangan hari ini. Sentimen negatif datang dari pembatasan baru Covid-19 di China dan kekhawatiran perlambatan ekonomi global membebani prospek permintaan bahan bakar.

Selasa (12/7) pukul 08.00 WIB, harga minyak mentah berjangka jenis Brent untuk kontrak pengiriman September 2022 turun US$ 1,47 atau 1,4% menjadi US$ 105,63 per barel.

Sejalan, harga minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Agustus 2022 melemah US$ 1,59 atau 1,5% ke US$ 102,50 per barel.

"Kekhawatiran yang meningkat akan resesi dan permintaan yang terus lesu di China menarik harga minyak lebih rendah, meskipun keseimbangan pasokan-permintaan saat ini tetap genting," kata analis dari konsultan Eurasia Group dalam sebuah catatan.

Beberapa kota di China mengadopsi pembatasan Covid-19 baru, dari penghentian bisnis hingga penguncian, untuk mengendalikan infeksi baru karena subvarian BA.5.2.1 yang sangat menular telah terdeteksi di negara tersebut.

Namun, sanksi Barat terhadap Rusia atas perang di Ukraina, yang disebut Rusia sebagai "operasi militer khusus", telah mengganggu arus perdagangan minyak mentah dan bahan bakar.

Baca Juga: Harga Minyak Ditutup Bervariasi, WTI Tergelincir 0,7% ke US$ 104,09 Per Barel

Ada juga pembatasan lain dari rute pasokan energi dari Rusia, pemasok utama minyak, bahan bakar dan gas alam ke Eropa, yang membuat pedagang dan utilitas gelisah.

Kekhawatiran akan gangguan pada sistem Konsorsium Pipa Kaspia (CPC) mereda setelah pengadilan Rusia pada Senin (11/7) membatalkan keputusan sebelumnya yang menangguhkan operasi di pipa selama 30 hari.

Namun, para pedagang dan analis tetap khawatir bahwa Rusia akan menangguhkan pipa, yang membawa minyak dari Kazakhstan ke Laut Hitam, dan berpotensi mengganggu 1% dari pasokan minyak mentah global.

Selain itu, kapasitas cadangan di OPEC hampir habis, dengan sebagian besar produsen memompa pada kapasitas maksimum.

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden akan membuat sesi khusus terkait produksi minyak yang lebih besar dari OPEC, ketika ia bertemu dengan para pemimpin Teluk di Arab Saudi minggu ini, kata penasihat keamanan nasional Gedung Putih Jake Sullivan pada hari Senin.

Baca Juga: Pasokan Gas Rusia ke Eropa Berhenti Bakal Menyulut Harga Komoditas Energi

"Arab Saudi diperkirakan tidak akan menambah volume yang signifikan dalam waktu dekat, terlepas dari kunjungan Presiden Joe Biden yang akan datang, karena Riyadh akan memprioritaskan komitmennya terhadap manajemen pasar dan menjaga kapasitas cadangan untuk kerugian darurat," kata analis Eurasia.

Di AS, persediaan minyak mentah dan bensin terlihat turun minggu lalu, sementara stok sulingan kemungkinan naik, jajak pendapat awal Reuters menunjukkan pada hari Senin.




TERBARU

[X]
×