kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.546.000   -13.000   -0,51%
  • USD/IDR 18.159   -7,00   -0,04%
  • IDX 5.057   -41,01   -0,80%
  • KOMPAS100 651   -4,49   -0,68%
  • LQ45 515   -0,12   -0,02%
  • ISSI 169   -2,02   -1,18%
  • IDX30 290   0,46   0,16%
  • IDXHIDIV20 392   3,47   0,89%
  • IDX80 75   -0,37   -0,49%
  • IDXV30 109   1,70   1,58%
  • IDXQ30 98   0,32   0,33%

Harga Minyak Naik, Serangan Kapal Tanker di Selat Hormuz Menyoroti Risiko Pasokan


Jumat, 30 Oktober 2026 / 20:37 WIB
Harga Minyak Naik, Serangan Kapal Tanker di Selat Hormuz Menyoroti Risiko Pasokan
ILUSTRASI. Harga minyak naik pada Jumat (30/10/2026) dan berada di jalur untuk mencatatkan kenaikan bulanan keempat. (REUTERS/Christian Hartmann)


Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga minyak naik pada  Jumat (30/10/2026) dan berada di jalur untuk mencatatkan kenaikan bulanan keempat. Para pedagang bersiap menghadapi potensi eskalasi dalam konflik AS-Iran setelah pemilihan paruh waktu (midterm) di AS, sementara serangan terhadap sebuah kapal tanker di Selat Hormuz menyoroti risiko pasokan akibat konflik tersebut.

Mengutip Reuters, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember, yang akan berakhir pada hari Jumat, naik US$ 2,26 atau 2% menjadi US$ 117,14 per barel pada pukul 12.36 GMT. Kontrak untuk bulan Januari yang lebih aktif diperdagangkan naik US$ 2,30 menjadi US$ 113,10.

Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$ 1,94 atau 1,9% menjadi US$ 103,94.

Untuk bulan ini, Brent diperkirakan akan ditutup naik 13%, sementara WTI diperkirakan melonjak 15%.

"Pasar minyak semakin cemas seiring mendekatnya pemilihan paruh waktu," ujar Ole Hansen, kepala strategi komoditas di Saxo Bank. 

Menurutnya, beberapa investor dan analis memperkirakan akan ada kembali serangan dari AS terhadap Iran setelah pemilihan tersebut.

Baca Juga: Harga Emas Sentuh Level Terendah 4 Bulan, Dipicu Kekhawatiran Kenaikan Bunga The Fed

Pada hari Jumat, sebuah kapal tanker di Selat Hormuz terkena perangkat peledak yang dipasang oleh sebuah perahu kecil, menurut UKMTO. 

Belum diketahui secara pasti pihak mana yang berada di balik serangan tersebut. Menurut sumber-sumber di sektor maritim, ini merupakan serangan sukses pertama yang diketahui menggunakan limpet mine—bahan peledak yang ditempelkan pada lambung kapal menggunakan perahu kecil—di jalur perairan tersebut sejak ketegangan antara AS dan Iran dimulai pada bulan Februari.

"Aksi kinetik yang terus berlanjut di sekitar Selat Hormuz, di tengah keraguan akan adanya jalur diplomatik yang layak, membuat harga minyak tetap tinggi karena adanya ekspektasi akan eskalasi konflik dalam beberapa minggu mendatang," ujar Saul Kavonic, kepala riset energi di MST Marquee.

Peluang Eskalasi yang Lebih Tinggi

Para mediator dari Qatar kembali ke Teheran pada hari Jumat sebagai bagian dari upaya terkoordinasi untuk mencapai kesepakatan antara AS dan Iran, ungkap seorang pejabat yang mengetahui perundingan tersebut kepada Reuters.

Meskipun demikian, "kami masih melihat peluang yang lebih tinggi untuk terjadinya eskalasi dan gangguan pasokan," kata Giovanni Staunovo, analis komoditas di UBS. 

"Para pejabat Iran bersikap hati-hati mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat."

Pada hari Kamis, kelompok militan Houthi di Yaman yang didukung Iran menyatakan telah menyerang beberapa lokasi di Arab Saudi, termasuk kilang minyak terbesar negara itu, Ras Tanura; kilang Rabigh; serta fasilitas produksi di Abqaiq milik perusahaan negara Saudi Aramco.

Baca Juga: China Gelar Patroli Militer di Scarborough Shoal, Ketegangan dengan Filipina Memanas

Koalisi pimpinan Arab Saudi juga menyatakan telah mencegat sebuah rudal jelajah yang diluncurkan oleh kelompok Houthi ke arah wilayah barat kerajaan tersebut.

Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Kamis bahwa Wakil Presiden JD Vance telah menghubungi Iran untuk membantu negara tersebut memperoleh pasokan medis. Hal ini menyusul laporan media AS yang menyebutkan bahwa Vance telah menyurati pejabat keamanan tertinggi Teheran guna menghidupkan kembali perundingan damai.

Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan bahwa Iran telah menerima surat dari Vance namun belum memberikan tanggapan. Tasnim menambahkan bahwa Teheran menginginkan AS untuk memenuhi syarat-syarat yang mereka ajukan, seraya menegaskan bahwa "posisi apa pun yang bertentangan dengan kerangka kerja ini tidak dapat diterima."

Di tengah kekhawatiran keamanan di Timur Tengah, ExxonMobil dan Chevron telah membatalkan rencana perjalanan para eksekutif mereka ke pameran minyak terbesar di Uni Emirat Arab yang akan berlangsung minggu depan, ungkap dua sumber yang mengetahui perkembangan tersebut kepada Reuters. 

Harga minyak berpotensi menjadi jauh lebih fluktuatif dalam beberapa minggu ke depan akibat pemilihan parlemen di Israel serta pemilihan paruh waktu untuk Kongres Amerika Serikat, menurut sebuah taklimat dari Saxo Bank di Singapura pada hari Kamis.

Baca Juga: Bursa Kripto Binance Dibobol, Aset Kripto Senilai US$ 6,3 Miliar Raib

Meningkatnya ketidakpastian membuat prakiraan harga menjadi sulit dilakukan. Namun, bank asal Denmark tersebut memperkirakan harga minyak mentah akan bergerak dalam kisaran yang lebih tinggi, yakni antara $70 hingga $90 per barel—dibandingkan dengan kisaran $60 hingga $70 sebelum perang—bahkan setelah konflik berakhir.

Pihak bank menyebutkan adanya risiko kembali meletusnya permusuhan serta kebutuhan untuk mengisi kembali persediaan sebagai faktor penyebabnya.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×