kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.546.000   -13.000   -0,51%
  • USD/IDR 18.159   -7,00   -0,04%
  • IDX 5.057   -41,01   -0,80%
  • KOMPAS100 651   -4,49   -0,68%
  • LQ45 515   -0,12   -0,02%
  • ISSI 169   -2,02   -1,18%
  • IDX30 290   0,46   0,16%
  • IDXHIDIV20 392   3,47   0,89%
  • IDX80 75   -0,37   -0,49%
  • IDXV30 109   1,70   1,58%
  • IDXQ30 98   0,32   0,33%

Bursa Kripto Binance Dibobol, Aset Kripto Senilai US$ 6,3 Miliar Raib


Jumat, 30 Oktober 2026 / 17:15 WIB
Bursa Kripto Binance Dibobol, Aset Kripto Senilai US$ 6,3 Miliar Raib
ILUSTRASI. Peretas mencuri aset kripto senilai US$ 6,3 miliar dari Binance. Korea Utara diduga menjadi dalang serangan siber terbesar dalam sejarah. ( REUTERS/DARRIN ZAMMIT LUPI)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - SINGAPURA/TOKYO. Serangan siber berskala besar mengguncang industri aset kripto setelah peretas mencuri aset digital senilai US$ 6,3 miliar dari Binance, bursa mata uang kripto terbesar di dunia. Sejumlah analis menduga serangan yang menjadi pencurian kripto terbesar dalam sejarah tersebut melibatkan kelompok peretas Korea Utara.

Insiden ini langsung memicu tekanan di pasar aset digital. Harga sejumlah mata uang kripto utama melemah setelah kabar pencurian tersebut mencuat. Binance juga menghentikan sementara layanan penarikan dana dan menyatakan akan menanggung seluruh kerugian pengguna.

Sekitar setengah dari aset yang dicuri berhasil dibekukan dalam waktu relatif singkat oleh sejumlah penerbit stablecoin, termasuk Tether, Circle, dan World Liberty Financial yang didukung Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Menurut perusahaan analisis blockchain asal AS, TRM Labs dan Chainalysis, sebagian besar aksi pencurian berlangsung hanya dalam waktu sekitar 20 menit pada Kamis malam. Pola serangan tersebut memiliki kemiripan dengan sejumlah peretasan besar sebelumnya yang diduga melibatkan Korea Utara.

TRM Labs menyebut para pelaku mampu mengarahkan dompet digital yang digunakan Binance untuk mengirimkan aset ke dompet yang dikendalikan peretas. Modus tersebut menyerupai pencurian besar yang menimpa bursa kripto Bybit pada 2025, yang sebelumnya dikaitkan oleh Biro Investigasi Federal AS (FBI) dengan Korea Utara.

Baca Juga: Tarif Donald Trump Gagal Kurangi Defisit Perdagangan AS

"TRM mengaitkan serangan tersebut dengan ... unit peretasan elit Korea Utara," tulis TRM dalam analisis yang dipublikasikan di situs resminya.

TRM Labs dan Chainalysis menyatakan memiliki tingkat keyakinan yang tinggi bahwa Korea Utara berada di balik serangan tersebut.

Peretasan kripto terbesar dalam sejarah

Korea Utara selama bertahun-tahun diduga memanfaatkan unit siber yang terafiliasi dengan negara untuk kegiatan spionase, pencurian keuangan, serta menghasilkan pendapatan. Dugaan tersebut sebelumnya juga disampaikan oleh otoritas AS dan Korea Selatan serta sejumlah pakar keamanan siber.

Namun, pemerintah Korea Utara secara rutin membantah tuduhan tersebut. Perwakilan negara itu di Jenewa dan kedutaan besarnya di China belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters.

Sementara itu, Binance menyatakan dana pengguna tetap aman. Perusahaan juga bekerja sama dengan sejumlah mitra untuk membekukan aset yang terdampak. Hingga saat ini, sekitar US$ 3 miliar aset telah berhasil ditemukan dan dibekukan.

Binance memperkirakan layanan penarikan dana dapat kembali beroperasi dalam 48 jam ke depan. Namun, perusahaan belum menjelaskan secara terperinci status sisa aset senilai US$ 3,3 miliar yang belum disebutkan berhasil dibekukan.

Co-CEO Binance Richard Teng melalui platform X menyampaikan bahwa perusahaan akan bertanggung jawab atas kerugian tersebut.

"Uang Anda aman dan kami akan menanggung setiap kerugian," kata Teng. "Investigasi kami belum mengaitkan tanggung jawab tersebut dengan individu mana pun."

Besarnya pencurian ini juga menjadi perhatian pelaku pasar. Aravind Srinivasan dari perusahaan penyedia likuiditas pasar GSR menyebut insiden tersebut sebagai peretasan terbesar dalam sejarah.

Harga Bitcoin sempat menyentuh level terendah dalam enam pekan di US$ 76.368. Sementara itu, Ethereum atau Ether turun lebih dari 3% ke level terendah dalam dua bulan sebesar US$ 2.178 sebelum pasar mulai stabil.

Baca Juga: BOJ Tahan Suku Bunga 1,25%, Sinyalkan Kenaikan Lagi pada Desember

Token BNB, yang awalnya diluncurkan dengan nama Binance Coin dan dapat digunakan untuk membayar biaya transaksi di Binance, juga melemah 5% dalam 24 jam menjadi US$ 709,70, berdasarkan data CoinGecko.

Tekanan turut menjalar ke saham perusahaan yang berkaitan dengan industri kripto. Saham Coinbase Global, bursa kripto yang menyatakan tidak terdampak insiden tersebut, turun 4,8%. Adapun saham Strategy, perusahaan yang dikenal sebagai salah satu pembeli Bitcoin terbesar, merosot hampir 6% dalam perdagangan lanjutan di AS.

Diduga berawal dari laptop milik insinyur Binance

Investigasi awal Binance mengindikasikan bahwa serangan siber tersebut kemungkinan bermula dari peretasan laptop milik salah satu insinyur perusahaan.

Perangkat yang telah diretas itu diduga menjadi pintu masuk bagi pelaku untuk mengakses salah satu sistem Binance dan melakukan penarikan aset tanpa izin.

"Tim keamanan kami sedang menelusuri seluruh jalur serangan melalui komputer yang telah disusupi, yang mungkin menjadi titik masuk insiden ini," kata Binance.

Mark Karpeles, mantan pimpinan bursa Bitcoin Mt Gox yang berbasis di Tokyo dan telah bangkrut, mengatakan pelaku kemungkinan berhasil mengakses kunci privat (private key) dari setidaknya dua dompet digital Binance.

Mt Gox sendiri pernah mengalami keruntuhan sekitar 12 tahun lalu setelah Bitcoin senilai US$ 500 juta dicuri dari platform tersebut.

"Binance tampaknya telah membagi asetnya ke beberapa sistem untuk memastikan bahwa peretasan hanya dapat memengaruhi sebagian aset. Meski demikian, satu serangan saja tetap dapat menimbulkan kerugian besar," ujar Karpeles.

Dampak insiden ini diperkirakan tidak hanya terbatas pada kerugian aset. Kepercayaan investor terhadap industri kripto secara keseluruhan juga berpotensi tertekan.

Baca Juga: Kasus PHK di Singapura Tembus 4.800 Orang, Tertinggi Sejak Pandemi Covid-19

Sebelum peretasan Binance terjadi, pasar kripto telah menghadapi tekanan akibat tingginya suku bunga AS dan melemahnya permintaan dari investor produk dana yang diperdagangkan di bursa atau exchange-traded fund (ETF).

Tim Sun, peneliti senior di HashKey Group yang berbasis di Hong Kong, menilai peretasan tersebut dapat memperburuk sentimen investor.

"Hal ini dapat semakin menekan selera risiko dan mendorong investor untuk mengevaluasi kembali keamanan aset yang disimpan di bursa terpusat," kata Sun.

Nilai pencurian lampaui dana perlindungan Binance

Binance merupakan platform perdagangan aset digital yang memiliki sekitar 335 juta pengguna terdaftar di seluruh dunia. Berdasarkan laporan tahunan 2025, perusahaan mengelola aset pengguna sekitar US$ 162,8 miliar.

Untuk melindungi aset pengguna dari risiko keamanan, Binance memiliki Secure Asset Fund for Users (SAFU), yakni dana cadangan senilai US$ 1 miliar yang seluruhnya disimpan dalam bentuk Bitcoin.

Dana tersebut dirancang untuk memberikan perlindungan kepada pengguna apabila terjadi insiden keamanan.

Namun, nilai pencurian kali ini mencapai US$ 6,3 miliar atau jauh melampaui nilai dana perlindungan SAFU. Co-CEO Richard Teng menyatakan kerugian akan ditanggung menggunakan dana perusahaan dan sumber pendanaan lainnya.

Baca Juga: Ringgit dan Won Pimpin Penguatan Mata Uang Asia, Rupiah Naik 0,11%

Sejumlah penerbit stablecoin juga bergerak untuk membatasi dampak pencurian dengan membekukan aset yang terhubung dengan insiden tersebut.

Tether menyatakan telah membekukan aset hampir US$ 1,57 miliar. Sementara itu, Circle membekukan aset senilai lebih dari US$ 800 juta.

World Liberty Financial juga menyatakan telah bekerja sama dengan kustodian aset digital BitGo untuk membekukan dana terkait serangan tersebut.

Salah satu pendiri Binance, Yi He, mengatakan bahwa sekitar US$ 27 juta dalam bentuk stablecoin dan token World Liberty senilai sekitar US$ 2 juta telah berhasil dibekukan.

Perusahaan kripto Ripple juga membekukan dana sekitar US$ 200 juta, menurut Yi He.

Kasus ini menambah panjang daftar pencurian aset digital yang menimpa industri kripto global. Berdasarkan data peneliti TRM Labs, sepanjang tahun lalu peretas mencuri aset kripto senilai US$ 2,9 miliar melalui hampir 150 serangan.

Pada September 2026, bursa kripto Bitget juga mengungkapkan bahwa aset kripto senilai sekitar US$ 350 juta telah dicuri dari platformnya.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×