Harga Minyak Turun Lebih 1% Tertekan Kekhawatiran Permintaan dan Penguatan Dolar AS

Senin, 19 September 2022 | 16:09 WIB Sumber: Reuters
Harga Minyak Turun Lebih 1% Tertekan Kekhawatiran Permintaan dan Penguatan Dolar AS

Harga Minyak Turun Lebih 1% Tertekan Kekhawatiran Permintaan dan Penguatan Dolar AS

KONTAN.CO.ID -  LONDON. Harga minyak dunia turun lebih dari 1% pada perdagangan hari Senin (19/9). Penurunan harga minyak ini tertekan permintaan global yang melemah dan menguatnya mata uang dolar Amerika Serikat (AS).

Penguatan dolar AS menyambut kemungkinan kenaikan suku bunga Bank Sentral AS The Fed yang lebih besar pada pekan ini. Namun munculnya kekhawatiran akan pasokan minyak membatasi penurunan harga minyak.

Pialang minyak PVM, Tamas Varga mengatakan, pertemuan The Fed mendatang dan dolar AS yang menguat menahan harga minyak.

Baca Juga: Harga Emas Memudar Seiring Penguatan Dolar AS Menjelang Pertemuan The Fed

Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman November turun US$ 1,17, atau 1,3%, menjadi US$ 90,18 pada 0822 GMT. West Texas Intermediate (WTI) AS untuk Oktober turun US$ 1,14, atau 1,3%, menjadi US$ 83,97.

Seperti diketahui, harga minyak dunia telah  melonjak pada 2022 dengan Brent mendekati level tertinggi sepanjang masa di level US$ 147 pada Maret pasca invasi Rusia ke Ukraina. 

Namun kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi yang lebih lemah dan permintaan yang telah telah mendorong harga minyak lebih rendah.

Baca Juga: Menebak Arah Pergerakan IHSG Jelang FOMC dan RDG BI September 2022

Harga minyak juga tertekan setelah ekspektasi permintaan yang lebih lemah pada pekan ini dari Badan Energi Nasional AS yang melihat pertumbuhan permintaan minyak mencapai nol pada kuartal IV mendatang.

Terlepas dari kekhawatiran itu, kekhawatiran pasokan menahan penurunan.

"Pasar masih memiliki awal sanksi Eropa terhadap minyak Rusia yang menggantung di atasnya. Karena pasokan terganggu pada awal Desember, pasar tidak mungkin melihat respons cepat dari produsen AS," kata analis ANZ.

Pelonggaran pembatasan COVID-19 di China, yang telah mengurangi prospek permintaan di konsumen energi terbesar kedua di dunia, juga dapat memberikan optimisme, kata para analis.

Editor: Noverius Laoli

Terbaru