Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga tembaga di London berpotensi mencatat kerugian mingguan ketiga berturut-turut meskipun menguat tipis pada perdagangan Jumat. Kenaikan persediaan global di tengah lemahnya permintaan dari China serta penguatan dolar AS menjadi faktor penekan utama.
Kontrak tembaga acuan tiga bulan di London Metal Exchange naik 0,3% menjadi US$12.842,50 per metrik ton pada pukul 10.51 WIB. Namun, secara mingguan logam merah ini masih menuju penurunan sekitar 0,3%.
Sementara itu, perdagangan di Shanghai Futures Exchange masih tutup karena libur Tahun Baru Imlek dan dijadwalkan kembali buka pada 24 Februari.
Baca Juga: Harga Tembaga LME Rebound Tipis dari Level Terendah Sepekan Rabu (18/2)
Analis pasar utama KCM Trade, Tim Waterer, mengatakan bahwa tembaga dan logam dasar lain di LME menunjukkan sedikit penguatan meski dolar AS lebih kuat. Ia menilai kenaikan harga sebagian didorong aksi short-covering, yakni pelaku pasar yang sebelumnya menjual kembali membeli untuk menutup posisi.
Dolar AS pada Jumat diperkirakan mencatat kinerja mingguan terkuat sejak Oktober, didorong oleh serangkaian data ekonomi yang lebih baik dari perkiraan serta prospek kebijakan moneter yang lebih agresif dari Federal Reserve. Penguatan dolar biasanya membuat komoditas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Di sisi pasokan, stok tembaga di gudang yang disetujui LME meningkat 925 ton menjadi 225.575 ton pada Kamis, level tertinggi sejak Maret 2025.
Operator bursa komoditas AS, CME Group, juga menerima permohonan untuk mendaftarkan gudang tembaga di pinggiran Chicago. Langkah ini muncul di tengah kekhawatiran potensi tarif yang mendorong pelaku pasar menimbun stok.
Analis Marex, Edward Meir, menyebutkan level dukungan penting untuk tembaga tiga bulan berada di US$12.528 per ton dan US$12.414 per ton, dengan level terakhir dinilai krusial untuk dipertahankan.
Baca Juga: Pasar China Libur, Harga Tembaga dan Aluminium Turun
Untuk logam lainnya, harga seng naik 0,4% menjadi US$ 3.351,50 per ton, sementara nikel stabil di US$ 17.285 per ton. Aluminium menguat 0,5% ke US$ 3.082,50, sedangkan timbal turun 0,2% menjadi US$ 1.950,50 per ton.
Waterer menambahkan bahwa gangguan tambang di Chile dan Peru, serta indikasi bahwa proyek-proyek baru tidak akan beroperasi cukup cepat untuk memenuhi permintaan, turut menopang harga logam dasar. Rendahnya persediaan serta penutupan dan penundaan tambang juga mendukung harga nikel dan seng.













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)