kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.773.000   -15.000   -0,54%
  • USD/IDR 17.739   71,00   0,40%
  • IDX 6.162   67,10   1,10%
  • KOMPAS100 813   8,13   1,01%
  • LQ45 620   4,04   0,66%
  • ISSI 218   3,97   1,85%
  • IDX30 355   2,58   0,73%
  • IDXHIDIV20 437   -1,89   -0,43%
  • IDX80 94   1,08   1,17%
  • IDXV30 121   0,41   0,34%
  • IDXQ30 115   -0,63   -0,54%

Hari kebebasan pers Myanmar datang juga


Senin, 20 Agustus 2012 / 16:59 WIB
ILUSTRASI. Karyawan melintas di dekat layar monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/hp.


Reporter: Rika Theo, Huffington Post |

YANGON. Hari ini menjadi hari bersejarah bagi pers Myanmar. Pemerintah Myanmar mengumumkan akan menyetop sensor bagi semua media lokal. Ini merupakan langkah dramatis menuju kebebasan berekspresi di negara yang telah lama berada di bawah represi itu.

Pers Myanmar merupakan salah satu pers yang paling dibatasi di dunia. Namun, pemerintah reformasi di bawah Presiden Thein Sein akhirnya mulai melonggarkan kontrol pemerintah atas media sejak tahun lalu. Para reporter pun kini mulai bisa menulis artikel yang sebelumnya tak pernah bisa turun di masa pemerintahan rejim militer.

Kementerian Informasi yang selama ini mengendalikan media memasang pengumuman itu di situsnya. Kepala Pemeriksaan Pers dan Registrasi Tint Swe juga menyampaikan kabar itu kepada kelompok editor di ibukota Yangon.

Di bawah aturan baru, jurnalis tak lagi wajib menyetor tulisan mereka ke badan sensor negara sebelum dipublikasikan. Praktek tersebut sudah berlangsung hampir selama setengah abad.

Namun begitu, mereka tetap harus mengirim artikel mereka ke Departemen Pemeriksaan Pers setelah dimuat. Dengan demikian, pemerintah dapat menentukan apakah tulisan mereka melanggar hukum penerbitan, kata seorang jurnalis. Tapi, belum sepenuhnya jelas sampai tingkat apa yang akan masuk ke wilayah sensor pemerintah.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×