kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45749,52   23,69   3.26%
  • EMAS920.000 0,66%
  • RD.SAHAM 0.55%
  • RD.CAMPURAN 0.20%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Hore! Antibiotik penguat tanaman ditemukan ilmuwan


Selasa, 03 Desember 2019 / 14:45 WIB
Hore! Antibiotik penguat tanaman ditemukan ilmuwan
ILUSTRASI. Bakteria yang memproduksi antibiotik dapat menguatkan tanaman kacang-kacangan.

Reporter: Tri Sulistiowati | Editor: Tri

KONTAN.CO.ID - Para ilmuwan telah menemukan antibiotik baru. Berdasarkan penelitian, antibiotik tersebut diproduksi oleh bakteri tanah di hutan tropis Meksiko. Mereka memperkirakan antibiotik ini dapat menjadi probiotic tanaman.

Asal tahu saja, probiotic bermanfaat untuk kesehatan manusia. Selain itu, probiotic juga dapat membuat tanaman menjadi kuat. Karena Antibiotik tersebut dapat mencegah bakteri berbahaya masuk ke dalam sistem akar tanaman kacang.

Baca Juga: Asyik! Ilmuwan berhasil ciptakan detektor norovirus yang murah

Asal tahu saja, para ilmuwan memberikan nama antibiotik ini Phazolicin. Mereka sengaja memilih nama tersebut karena antibiotik ini ditemukan di tanah dan akar kacang liar yang disebut Phaseolus Vulgaris.

Sekedar info, bakteri penghasil Phazolicin adalah spesies Rhizobium yang tidak teridentifikasi.

Sama seperti Rizobia lainnya, mikroba penghasil phazolicin membentuk nodul pada akar tanaman kacang dan memberinya nitrogen. Phazolicin melindungi tanaman dari bakateri berbahaya yang sensitif terhadap Phazolicin.

Antibiotik ini dapat digunakan pada tanaman kacang-kacangan lainnya seperti buncis, kacang polong, kacang kedelai, dan kacang tanah.

Baca Juga: Hujan badai terus terjadi, ini penjelasan para ilmuwan

Para ilmuwan menggunakan analisis komputer dan bioinformatik untuk memprediksikan keberadaan Phazolicin. Mereka mengungkapkan struktur atom antibiotik terikat dan menarget ribosom.

Asal tahu saja, ribosom merupakan tempat produksi protein dalam sel bakteri.

Para ilmuwan menunjukkan Phazolicin dapat melakukan modifikasi serta mengontrol tingkat sensitivitas terhadap antibiotik dengan cara mutasi ribosom.

"Resistensi antibiotik merupakan masalah besar dalam kedokteran dan pertanian. Pencarian antibiotik baru sangat penting karena dapat memberikan petunjuk bagi agen anti bakteri di masa depan," kata Konstantin Severinov, Ilmuwan Rutgers University.

Baca Juga: Urbanisasi ternyata mengubah tanda-tanda perubahan musim

Sekedar info, Direktorat Pendidikan dan Sumber Daya Manusia National Science Foundation mendanai proyek penelitian tersebut melalui Graduate Research Fellowship untuk Zoe Watson dari University of California Berkeley.

Mereka mempublikasikan hasil penelitian tersebut di dalam Journal of Nature Communications.

 

Sumber : National Science Foundation 



TERBARU

[X]
×