Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – LONDON/DUBAI. Kelompok Houthi di Yaman dilaporkan tengah mempertimbangkan penerapan pungutan terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi wilayah selatan Laut Merah. Langkah ini muncul sepekan setelah kelompok yang didukung Iran tersebut mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi.
Mengutip laporan Reuters pada Rabu (29/7/2026), sejumlah sumber regional yang mengetahui pembahasan tersebut menyebut Houthi sedang mengkaji kebijakan pengenaan biaya bagi sebagian besar kapal yang melintas di Selat Bab el-Mandeb, jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah bagian selatan dengan Teluk Aden.
Pada 20 Juli lalu, Houthi mendeklarasikan embargo maritim terhadap Arab Saudi. Kebijakan itu membuka front baru dalam konflik Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya, sekaligus memperluas serangan terhadap kapal tanker yang mengangkut energi serta berbagai komoditas global hingga ke perairan di luar Teluk Persia.
Meski demikian, sumber-sumber tersebut mengatakan hingga kini belum ada kepastian mengenai waktu penerapan kebijakan pungutan tersebut.
Kantor media Houthi belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters.
Iran Disebut Beri Masukan
Dua pejabat regional yang memperoleh penjelasan dari Teheran mengatakan, sejumlah pejabat Houthi mengunjungi Iran pada Juli untuk menghadiri upacara pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Dalam kesempatan itu, pihak Iran disebut membahas rencana pengenaan biaya bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Bab el-Mandeb.
Menurut sumber tersebut, tujuan kebijakan ini adalah menormalisasi praktik pungutan di jalur pelayaran internasional sekaligus meningkatkan tekanan terhadap Amerika Serikat.
Sumber yang sama menambahkan, kapal-kapal China kemungkinan akan dibebaskan dari pungutan tersebut dan Houthi disebut mendukung pengaturan itu.
Sebelumnya, Reuters juga melaporkan bahwa China telah melakukan pembicaraan langsung dengan Houthi agar kapal tanker miliknya dapat melintasi Laut Merah bagian selatan tanpa menjadi sasaran serangan. China merupakan pembeli minyak terbesar dari Arab Saudi.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 4% Rabu (29/7) usai Serangan AS-Saudi ke Irak
Penasihat Iran Bantu Susun Skema
Seorang pejabat Arab di kawasan mengatakan pejabat Houthi yang kembali dari Teheran turut didampingi para penasihat Iran. Mereka disebut membantu menyusun rencana pembentukan otoritas yang nantinya akan mengatur mekanisme pungutan di Selat Bab el-Mandeb.
Menteri Luar Negeri yang ditunjuk pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, Afrah al-Zouba, menilai Houthi berupaya memperkuat kendali atas jalur pelayaran tersebut.
"Houthi akan berusaha memperoleh kendali atas Laut Merah dan mereka akan mencoba mengenakan biaya kepada kapal-kapal jika berhasil melakukannya," ujar Afrah al-Zouba kepada Reuters.
Dua diplomat Barat mengatakan rencana tersebut kemungkinan akan menghadapi penolakan keras dari negara-negara Teluk maupun Eropa. Namun, mereka menilai armada angkatan laut internasional saat ini kewalahan memberikan perlindungan yang memadai bagi kapal dagang, sementara dukungan politik untuk memperkuat pengamanan juga masih terbatas.
Iran Tolak Usulan Oman
Di sisi lain, seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran menolak usulan Oman mengenai pengelolaan bersama Selat Hormuz oleh negara-negara kawasan yang mencakup mekanisme pungutan sukarela bagi kapal.
Penolakan itu dinilai menggagalkan harapan tercapainya solusi atas kebuntuan yang selama beberapa bulan terakhir menghambat aktivitas perdagangan di salah satu jalur pelayaran energi terpenting dunia tersebut.
Arab Saudi Hadapi Ancaman Pasokan Minyak
Jika Selat Bab el-Mandeb benar-benar ditutup atau aksesnya dibatasi, Arab Saudi akan kehilangan jalur alternatif penting selain Selat Hormuz. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dunia.
Lalu lintas pelayaran di Laut Merah sendiri belum sepenuhnya pulih sejak Houthi mulai menyerang kapal-kapal di lepas pantai Yaman pada November 2023. Saat itu, kelompok tersebut menyatakan serangan dilakukan sebagai bentuk solidaritas terhadap warga Palestina dalam perang di Gaza.
Serangan terhadap kapal dagang baru berhenti setelah tercapainya gencatan senjata di Gaza pada Oktober tahun lalu.
Baca Juga: The Fed Diproyeksi Tahan Suku Bunga, Langkah Kevin Warsh Sulit Ditebak
Dalam sepekan terakhir, setidaknya satu kapal tanker Arab Saudi dilaporkan diserang di dekat Pelabuhan Jizan, Arab Saudi bagian selatan yang berbatasan dengan Yaman. Houthi mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Pungutan Diduga Pernah Dilakukan
Laporan Panel Ahli Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2024 sebelumnya menyebut Houthi diduga pernah menarik pungutan dari sejumlah perusahaan pelayaran yang melintasi Laut Merah dan Teluk Aden sebagai imbalan atas jaminan keamanan.
Meski demikian, laporan tersebut menyatakan PBB tidak dapat memverifikasi informasi tersebut secara independen.
Nilai pungutan itu diperkirakan mencapai sekitar US$180 juta per bulan, meskipun angka tersebut juga belum dapat dipastikan kebenarannya.
Secara geografis, pelayaran melalui Selat Bab el-Mandeb menuju Asia rata-rata memerlukan waktu sekitar 16 hari. Sebaliknya, apabila kapal harus menghindari jalur tersebut dan berlayar melalui Laut Merah bagian utara, Terusan Suez, kemudian memutari Afrika bagian selatan, waktu tempuh dapat meningkat hingga sekitar 50 hari.
Hal ini berpotensi meningkatkan biaya logistik dan memperpanjang waktu pengiriman barang, termasuk minyak mentah dan komoditas lainnya.














