kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.593.000   1.000   0,04%
  • USD/IDR 17.693   -14,00   -0,08%
  • IDX 6.437   -24,30   -0,38%
  • KOMPAS100 850   -5,62   -0,66%
  • LQ45 647   -3,80   -0,58%
  • ISSI 223   -0,27   -0,12%
  • IDX30 359   -2,55   -0,71%
  • IDXHIDIV20 447   -3,40   -0,76%
  • IDX80 97   -0,66   -0,67%
  • IDXV30 124   -0,63   -0,51%
  • IDXQ30 116   -0,92   -0,79%

Huawei Prediksi 900 Miliar AI Agent Aktif di Dunia pada 2035


Rabu, 16 September 2026 / 20:05 WIB
Huawei Prediksi 900 Miliar AI Agent Aktif di Dunia pada 2035
ILUSTRASI. Huawei - China (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Huawei memperkirakan jumlah agen kecerdasan buatan (AI agent) yang aktif di seluruh dunia dapat mencapai 900 miliar pada 2035.

Ledakan jumlah AI agent tersebut diproyeksikan membuat penggunaan token AI melonjak dan mendorong kebutuhan komputasi dalam skala besar.

Melansir Reuters Rabu (16/9/2026), dalam laporan terbarunya bertajuk Intelligent World 2035: Turning Vision into Action, Huawei memperkirakan AI agent akan menyumbang lebih dari 90% lalu lintas token AI global pada 2035.

Baca Juga: Penjualan Ritel AS Rebound 1,2% pada Agustus, Lebih Tinggi dari Perkiraan Ekonom

AI agent merupakan sistem yang dapat menjalankan tugas secara lebih mandiri dengan memahami lingkungan, melakukan penalaran, mengambil keputusan, serta menggunakan berbagai perangkat atau layanan eksternal.

Huawei memperkirakan, konsumsi token AI tahunan akan meningkat tajam dalam satu dekade ke depan.

Hal tersebut terjadi karena AI agent akan terus menerima informasi dari lingkungan, memprosesnya, mengambil keputusan, dan menjalankan berbagai perintah secara otomatis.

Butuh komputasi besar

Ledakan penggunaan AI agent diperkirakan membutuhkan peningkatan kapasitas komputasi sekaligus sistem keamanan baru untuk memastikan perangkat lunak yang bekerja secara mandiri tetap dapat dikendalikan.

Baca Juga: Harga Emas Naik, Disokong Pelemahan Dolar AS dan Harga Minyak Jelang Fed Rate

Huawei memasukkan perlindungan keamanan dan privasi bagi AI agent otonom sebagai salah satu dari 10 teknologi yang dibutuhkan untuk menopang perkembangan ekosistem AI tersebut.

Proyeksi Huawei muncul di tengah perdebatan mengenai kecepatan pengembangan AI.

Sejumlah peneliti dan eksekutif AI di Amerika Serikat sebelumnya menyerukan perlambatan pengembangan teknologi AI terdepan setelah muncul sejumlah insiden terkait agen AI yang berperilaku di luar kendali serta kekhawatiran terhadap sistem yang semakin otonom.

Berbeda dengan pendekatan tersebut, laporan Huawei tidak menyerukan perlambatan pengembangan AI. Huawei justru memperkirakan kemampuan dan penerapan AI agent akan berkembang pesat.

Pendekatan tersebut mencerminkan perbedaan strategi antara industri teknologi AS dan China.

Sebagian industri teknologi AS tengah membahas pembatasan terkoordinasi terhadap kecepatan peningkatan kemampuan AI, sementara China secara umum mendorong percepatan adopsi AI di berbagai sektor ekonomi sembari mengembangkan standar teknis untuk menghadapi risiko yang muncul.

Baca Juga: Bukan Cuma Kenaikan Suku Bunga The Fed, Pasar Cermati Pernyataan Kevin Warsh

AI agent dorong pengembangan AGI

Huawei juga menilai penerapan AI di dunia fisik akan menjadi faktor penting untuk mencapai artificial general intelligence (AGI).

AGI secara umum merujuk pada sistem AI yang mampu menjalankan berbagai jenis tugas dengan kemampuan yang setara atau bahkan melampaui manusia.

Proyeksi 900 miliar AI agent pada 2035 melanjutkan perkiraan Huawei sebelumnya. Jumlah tersebut setara sekitar 100 kali lipat dari proyeksi populasi manusia dunia pada periode yang sama.

Huawei sendiri telah mulai menerapkan AI agent dalam sistem keamanan sibernya. Pada April lalu, perusahaan meluncurkan platform operasi keamanan otonom yang menggunakan agen untuk mendeteksi dan merespons ancaman siber.

Baca Juga: Broker Global Ramai-ramai Prediksi S&P 500 Tembus 8.000 pada 2026

Huawei juga telah mempublikasikan sejumlah proposal mengenai AI firewall yang ditujukan untuk melindungi sistem AI perusahaan.

Ketua Dewan Pengawas Huawei Guo Ping mengatakan AI merupakan "peluang terbesar" bagi perusahaan. Huawei juga ingin menjadikan infrastruktur komputasinya sebagai padanan Nvidia di China.

Pernyataan tersebut menegaskan ambisi Huawei untuk memperkuat posisi di sektor infrastruktur komputasi AI di tengah persaingan teknologi AS-China.


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×