kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Hubungan kembali memanas, China jadikan penyatuan dengan Taiwan sebagai prioritas


Senin, 21 Oktober 2019 / 16:55 WIB

Hubungan kembali memanas, China jadikan penyatuan dengan Taiwan sebagai prioritas
ILUSTRASI. Bendera Tiongkok dan Taiwan saling berkibar dalam satu rapat umum yang menyerukan penyatuan kembali secara damai, beberapa hari sebelum upacara pelantikan Presiden terpilih Tsai Ing-wen, di Taipei, Taiwan, 14 Mei 2016.


KONTAN.CO.ID - BEIJING. Menteri Pertahanan China Wei Fenghe pada hari Senin (21/10) mengatakan bahwa penyatuan dengan Taiwan merupakan kepentingan nasional terbesar saat ini dan tidak ada satu negara pun di dunia yang dapat mencegah penyatuan Taiwan dengan China.

China menyebut pemerintah Taiwan sekarang ini merupakan pihak separatis dan akan mengagalkannya. Hal itu ditegaskan Wei saat membuka forum Xiangshan di Beijing, seperti dilansir Reuters.

Baca Juga: Tampilkan peta China tanpa Taiwan, Christian Dior meminta maaf

Ketegangan hubungan China dan Taiwan kembali meningkat menjelang pemilihan Presiden Taiwan pada Januari 2020 mendatang. Taiwan merupakan masalah utama teritorial China yang paling sensitif saat ini.

"China merupakan satu-satunya negara besar di dunia yang belum sepenuhnya dipersatukan kembali," tambah Wei. 

Wei mengklaim bahwa reunifikasi penuh China merupakan tren yang tak tertahankan saat ini, dan merupakan kepentingan nasional terbesar China dan merupakan kerinduan semua orang Tiongkok.

Taiwan yang bangga menjadi negara demokratis telah mencerca China karena pemerintahannya yang otoriter dan karena menjadi ancaman perdamaian regional. Sementara China terus memberi tekanan terhadap Taiwan, dengan menggerogoti beberapa sekutu diplomatiknya yang tersisa.

Baca Juga: Ada dua mata uang Asia lain yang melemah selain yen Jepang, siapa saja?

Dewan urusan daratan Taiwan menyebut forum di Beijing tersebut sebagai ironi dan menyebut China merupakan faktor ketidakstabilan yang menyebabkan meningkatnya ketegangan di wilayah tersebut.

"Intimidasi Partai Komunis Tiongkok terhadap penggunaan kekuatan terhadap Taiwan telah mengancam perdamaian dunia," kata dewan dalam sebuah pernyataan.

“Ancaman kekuatan tidak dapat menggoyahkan niat untuk melindungi kedaulatan dan demokrasi dari 23 juta orang di Taiwan. Otoritas Beijing harus menyerahkan angan yang tidak praktis ‘penyatuan dengan kekuatan’ secepatnya, ”kata pernyataan itu.

Tiongkok menganggap Taiwan sebagai wilayah keramatnya, yang akan dibawa di bawah pemerintahan Beijing, jika perlu dengan paksa, pesan yang disampaikan Presiden Xi Jinping pada awal tahun ini.

Baca Juga: Sektor manufaktur masih bisa tumbuh di era Menteri Airlangga, benarkah demikian?

Taiwan merupakan pasukan nasional China yang kalah melawan Partai Komunis di China daratan dan melarikan diri ke Taiwan pada 1949.


Sumber : Reuters
Editor: Noverius Laoli

Video Pilihan


Close [X]
×