kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   50.000   1,72%
  • USD/IDR 16.853   10,00   0,06%
  • IDX 8.212   -53,08   -0,64%
  • KOMPAS100 1.158   -9,98   -0,85%
  • LQ45 830   -9,73   -1,16%
  • ISSI 295   -1,25   -0,42%
  • IDX30 432   -3,95   -0,91%
  • IDXHIDIV20 516   -4,82   -0,92%
  • IDX80 129   -1,21   -0,93%
  • IDXV30 142   -0,67   -0,47%
  • IDXQ30 139   -1,75   -1,24%

AS Dorong Ekspor AI dan Teknologi Maritim di APEC untuk Menyaingi China


Minggu, 15 Februari 2026 / 22:06 WIB
AS Dorong Ekspor AI dan Teknologi Maritim di APEC untuk Menyaingi China
ILUSTRASI. AI (Artificial Intelligence) (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - GUANGZHOU. Pemerintahan Presiden AS Donald Trump mempromosikan ekspor teknologi kecerdasan buatan (AI) dan pengawasan maritim pada pertemuan Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) di China selatan minggu ini, sebagai upaya menyaingi pengaruh teknologi dan maritim Beijing.

Casey Mace, pejabat senior AS untuk APEC, mengatakan pemerintahan Trump telah meluncurkan dana senilai US$ 20 juta untuk mendukung adopsi teknologi AI Amerika oleh negara mitra di kawasan, sebagai bagian dari strategi memperkuat kepemimpinan AS di teknologi maju. Langkah ini datang menjelang kunjungan Trump ke China pada April dan pertemuan puncak APEC di Shenzhen pada November, yang diprediksi menyoroti persaingan AS-China di bidang teknologi dan ekonomi.

Washington menuding teknologi AI China digunakan untuk propaganda dan sensor oleh Partai Komunis China (PKC), serta untuk mendukung kontrol otoriter, meski China menyatakan mendukung kerja sama global soal tata kelola AI dan menolak tuduhan Barat terkait sensor teknologi ekspornya.

Baca Juga: Volatilitas Mata Uang Rendah, Strategi Carry Trade di Emerging Market Meningkat

AS juga memanfaatkan APEC untuk mempromosikan teknologi sektor swasta dalam memerangi penangkapan ikan ilegal, tidak dilaporkan, dan tidak diatur (IUU), yang dianggap mengancam keamanan pangan dan kedaulatan maritim di Pasifik. 

Ruth Perry, pejabat Departemen Luar Negeri AS, menyoroti armada jarak jauh China yang berjumlah 18.000 kapal, yang menimbulkan tantangan bagi negara pesisir kecil. Dia mengatakan perusahaan AS mengembangkan teknologi seperti pelacakan kapal satelit, analisis AI, sistem deteksi akustik, dan pelampung sensor untuk memantau aktivitas penangkapan ikan.

Perry menambahkan, penangkapan ikan ilegal sering terkait dengan kejahatan lintas negara lain, termasuk kerja paksa, perdagangan manusia, dan penyelundupan. Ia juga menekankan pentingnya implementasi revisi Undang-Undang Perikanan China yang akan berlaku Mei mendatang.

Selanjutnya: Volatilitas Mata Uang Rendah, Strategi Carry Trade di Emerging Market Meningkat

Menarik Dibaca: HP Android Bebas Iklan 2026: Rasakan Nyaman Tanpa Gangguan!




TERBARU

[X]
×