kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.059.000   35.000   1,16%
  • USD/IDR 16.960   17,00   0,10%
  • IDX 7.586   -124,85   -1,62%
  • KOMPAS100 1.060   -17,16   -1,59%
  • LQ45 776   -11,77   -1,49%
  • ISSI 267   -5,67   -2,08%
  • IDX30 410   -8,94   -2,13%
  • IDXHIDIV20 507   -8,43   -1,64%
  • IDX80 119   -2,14   -1,77%
  • IDXV30 137   -1,76   -1,26%
  • IDXQ30 133   -2,57   -1,90%

Produsen Drone Ukraina Bidik Pasar Timur Tengah di Tengah Eskalasi Serangan Iran


Sabtu, 07 Maret 2026 / 19:55 WIB
Produsen Drone Ukraina Bidik Pasar Timur Tengah di Tengah Eskalasi Serangan Iran


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Produsen drone intersepsi murah dari Ukraina mulai melirik peluang ekspor ke negara-negara Teluk setelah meningkatnya ancaman serangan drone Iran di kawasan tersebut.

Permintaan datang dari Amerika Serikat (AS) dan sejumlah sekutunya di Timur Tengah yang menilai teknologi Ukraina efektif untuk menghadapi serangan drone berbiaya rendah. 

Selama perang melawan Rusia, langit Ukraina kerap dipenuhi drone serang yang sebagian besar berbasis model Shahed buatan Iran dan kini diproduksi di Rusia. 

Baca Juga: Makin Panas, Iran Tutup Wilayah Udaranya

Serangan tersebut dilawan dengan berbagai sistem pertahanan udara, mulai dari rudal Barat, jet tempur, meriam anti-pesawat yang dipasang di truk, hingga drone intersepsi. 

Pengalaman tempur selama empat tahun invasi Rusia membuat Ukraina mengembangkan kemampuan khusus untuk menembak jatuh drone. Pemerintah di Kyiv kini berharap pengalaman tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kerja sama keamanan dengan negara mitra sekaligus membuka peluang komersial baru. 

Ketika Iran mulai meluncurkan drone ke sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk sebagai respons atas serangan AS dan Israel, negara-negara di kawasan tersebut mulai mencari solusi pertahanan yang lebih murah dan efektif. 

Drone intersepsi dinilai menjadi alternatif karena biaya operasinya jauh lebih rendah dibandingkan rudal pertahanan udara.

Baca Juga: Timur Tengah Memanas: Serangan Drone Iran Hantam Kawasan Teluk 3 Hari Beruntun

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan negaranya siap memberikan bantuan setelah menerima permintaan dari Amerika Serikat. Ia juga menyebut sejumlah negara Timur Tengah telah menghubungi Kyiv untuk membahas kerja sama di bidang tersebut. 

Sumber yang mengetahui pembicaraan itu menyebut Amerika Serikat dan Qatar tengah berdiskusi untuk membeli drone intersepsi buatan Ukraina. 

Di dalam negeri, kapasitas produksi drone Ukraina bahkan disebut telah melampaui kebutuhan militer. Ihor Fedirko, CEO asosiasi industri persenjataan Ukraina UCDI, memperkirakan produsen drone intersepsi dan sistem anti-drone saat ini mampu memproduksi sekitar dua kali lipat dari kebutuhan militer Ukraina untuk menghadapi serangan Rusia. 

Salah satu produsen utama, SkyFall, menyatakan siap mengekspor produknya jika mendapat persetujuan pemerintah. Perwakilan perusahaan yang menggunakan nama sandi Ares mengatakan minat dari negara sekutu dan kawasan Timur Tengah terus berdatangan.

"Kami siap memberikan bantuan yang diperlukan jika pemerintah memberikan lampu hijau," ujarnya.

SkyFall mengklaim drone intersepsi P1-SUN miliknya telah menembak jatuh lebih dari 1.500 drone Shahed dan sekitar 1.000 drone lainnya sejak mulai digunakan sekitar empat bulan lalu.

Perusahaan tersebut memperkirakan mampu memproduksi hingga 50.000 drone intersepsi per bulan. Dari jumlah itu, sekitar 5.000 hingga 10.000 unit bisa dialokasikan untuk ekspor tanpa mengganggu kebutuhan pertahanan Ukraina.

Baca Juga: Ekspansi Pasar Ekspor, Indospring (INDS) Bidik Pasar Timur Tengah

Dalam kunjungan ke fasilitas produksi SkyFall, terlihat deretan printer 3D yang mencetak komponen plastik drone serta pekerja yang merakit dan menyolder perangkat tersebut.

Biaya produksi drone intersepsi relatif murah, hanya beberapa ribu dolar per unit. Sebagai perbandingan, rudal PAC-3 yang digunakan dalam sistem pertahanan udara Patriot buatan Amerika Serikat bisa mencapai sekitar 4 juta dolar per unit.

Drone Shahed-136 yang dirancang Iran dan kini diproduksi massal oleh Rusia diperkirakan berharga sekitar 50.000 hingga 100.000 dolar per unit. Sementara drone P1-SUN dijual ke militer Ukraina sekitar 1.000 dolar per unit, tergantung spesifikasinya.

“Untuk ekspor kemungkinan harganya lebih tinggi, tetapi tetap akan menjadi pilihan yang paling murah,” kata Ares.

Meski demikian, pelaku industri menilai tantangan terbesar dalam penggunaan drone intersepsi di Timur Tengah bukan pada produksinya, melainkan ketersediaan pilot. Ukraina saat ini menjadi satu-satunya negara yang memiliki kru drone dengan pengalaman tempur langsung menggunakan sistem tersebut.

Baca Juga: Dampak Perang Iran: Ini Skenario Ringan dan Skenario Terburuk Bagi Ekonomi Global

SkyFall sendiri memiliki akademi pelatihan yang menyediakan kursus selama tiga minggu bagi pilot drone baru. Perusahaan itu juga menyatakan siap mengirim instruktur ke luar negeri jika pemerintah Ukraina mengizinkan ekspor drone tersebut.

Selain itu, perusahaan mengembangkan teknologi pengoperasian drone jarak jauh yang memungkinkan drone diterbangkan dari lokasi lain, bahkan dari pusat kendali di Ukraina untuk operasi di kawasan Teluk.




TERBARU

[X]
×