Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Iran menutup sementara wilayah udaranya untuk sebagian besar penerbangan pada Rabu malam (14/1/2026).
Penutupan ini memaksa maskapai penerbangan untuk membatalkan, mengubah rute, atau menunda beberapa penerbangan, di tengah kekhawatiran tentang kemungkinan aksi militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Iran menyatakan dalam pemberitahuan yang diposting Badan Penerbangan Federal AS bahwa mereka telah menutup wilayah udaranya untuk semua penerbangan kecuali penerbangan internasional ke dan dari Iran — dengan izin resmi — pada pukul 17.15 ET (2215 GMT).
Larangan tersebut ditetapkan untuk berlangsung selama lebih dari dua jam hingga sekitar pukul 19.30 ET, atau 00.30 GMT, tetapi kemudian diperpanjang hingga sekitar pukul 22.30 ET atau 03.30 GMT.
Wilayah udara Iran kosong dari pesawat sipil pada pukul 20.30 ET — kecuali satu penerbangan Mahan Air yang terbang ke Teheran dari Shenzhen, Tiongkok, menurut data pelacakan dari Flightradar24.
Presiden Donald Trump sedang mempertimbangkan tanggapan terhadap situasi di Iran, yang sedang mengalami protes anti-pemerintah terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga: Iran Ancam Serang Basis AS, Trump Tarik Sebagian Personel Militer di Timur Tengah
Amerika Serikat menarik sebagian personel dari pangkalan-pangkalan di Timur Tengah, kata seorang pejabat AS pada Rabu (14/1/2026) seperti dilansir Reuters. Ini setelah seorang pejabat senior Iran mengatakan Teheran telah memperingatkan negara-negara tetangganya bahwa mereka akan menyerang pangkalan-pangkalan Amerika jika Washington menyerang.
Serangan rudal dan drone di sejumlah zona konflik yang semakin meningkat menimbulkan risiko tinggi bagi lalu lintas penerbangan.
Maskapai yang Terpengaruh
Maskapai penerbangan terbesar India, IndiGo, mengatakan beberapa penerbangan internasionalnya akan terpengaruh oleh penutupan wilayah udara Iran secara tiba-tiba. Air India mengatakan penerbangannya menggunakan rute alternatif yang dapat mengakibatkan penundaan atau pembatalan.
Sebuah penerbangan Aeroflot Rusia menuju Teheran kembali ke Moskow setelah penutupan tersebut, menurut data Flightradar24.
Sebelumnya pada hari Rabu, Jerman mengeluarkan arahan baru yang memperingatkan maskapai penerbangan negara itu untuk tidak memasuki wilayah udara Iran, tak lama setelah Lufthansa mengubah operasi penerbangannya di seluruh Timur Tengah di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut.
Amerika Serikat telah melarang semua penerbangan komersial AS melintasi wilayah udara Iran dan tidak ada penerbangan langsung antara kedua negara. Operator penerbangan seperti flydubai dan Turkish Airlines telah membatalkan beberapa penerbangan ke Iran dalam seminggu terakhir.
"Beberapa maskapai penerbangan telah mengurangi atau menangguhkan layanan, dan sebagian besar maskapai menghindari wilayah udara Iran," kata Safe Airspace, sebuah situs web yang dikelola oleh OPSGROUP, sebuah organisasi berbasis keanggotaan yang berbagi informasi risiko penerbangan.
"Situasi ini dapat menandakan aktivitas keamanan atau militer lebih lanjut, termasuk risiko peluncuran rudal atau peningkatan pertahanan udara, yang meningkatkan risiko salah identifikasi lalu lintas sipil."
Baca Juga: Ancaman Balasan Iran: Jika Trump Serang, Pangkalan Militer AS Jadi Target
Lufthansa menyatakan pada hari Rabu bahwa mereka akan menghindari wilayah udara Iran dan Irak hingga pemberitahuan lebih lanjut, dan hanya akan mengoperasikan penerbangan siang hari ke Tel Aviv dan Amman mulai Rabu hingga Senin minggu depan agar awak kabin tidak perlu menginap. Beberapa penerbangan juga dapat dibatalkan sebagai akibat dari tindakan ini.
Maskapai Italia ITA Airways, di mana Lufthansa Group sekarang menjadi pemegang saham utama, mengatakan bahwa mereka juga akan menangguhkan penerbangan malam ke Tel Aviv hingga Selasa minggu depan.












![[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_17122515210200.jpg)
