Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - VATIKAN – Paus Leo pada Sabtu (7/3/2026) menunjuk Uskup Agung Gabriele Caccia sebagai duta besar Vatikan untuk Amerika Serikat sekaligus utusan Takhta Suci untuk pemerintahan Presiden Donald Trump.
Caccia, diplomat senior Gereja Katolik asal Italia berusia 68 tahun, sebelumnya pernah mewakili Vatikan di Filipina pada masa pemerintahan Presiden Rodrigo Duterte.
Ia bertugas di Manila selama dua tahun sebelum diangkat menjadi duta besar Vatikan untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2020.
Penunjukan ini dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan diplomatik menyusul kritik Vatikan terhadap serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.
Baca Juga: Konflik Iran Berkobar, Paus Leo Berdoa Agar Pemimpin Dunia Menolak Perang
Sekretaris Negara Vatikan Kardinal Pietro Parolin sebelumnya menilai operasi militer tersebut telah merusak prinsip hukum internasional.
Paus Leo, yang merupakan paus pertama asal AS, juga beberapa kali menyampaikan kritik terhadap sejumlah kebijakan Presiden Trump. Ia bahkan menyebut kebijakan pengetatan imigrasi yang memicu gejolak di sejumlah kota di AS sebagai tindakan yang “tidak manusiawi”.
Caccia akan menggantikan Kardinal Christophe Pierre yang pensiun pada usia 80 tahun. Pierre menjabat sebagai duta besar Vatikan untuk AS sejak 2016.
Penugasan Caccia datang ketika sejumlah uskup Katolik di AS semakin vokal mengkritik arah kebijakan pemerintahan Trump.
Pada Januari lalu, tiga kardinal terkemuka di AS menyatakan bahwa peran moral Amerika dalam menghadapi berbagai persoalan global kini dipertanyakan.
Selama bertugas di Manila, Caccia dikenal berupaya meredakan ketegangan antara para uskup Katolik setempat dengan Presiden Duterte. Duterte kerap melontarkan kritik keras terhadap pejabat Gereja dalam berbagai pidatonya.
Baca Juga: Paus Leo XIV Serukan Perdamaian Ukraina Tak Bisa Ditunda Lagi
Duterte, yang mengakhiri masa jabatannya pada 2022, kini ditahan di Den Haag terkait kasus pembunuhan yang terjadi selama perang melawan narkoba yang ia jalankan saat menjabat.
Vatikan saat ini memiliki sekitar 110 kedutaan besar di berbagai negara, dan Washington dianggap sebagai salah satu pos diplomatik paling penting.
Duta besar Vatikan di AS tidak hanya mewakili kepentingan Takhta Suci di Gedung Putih, tetapi juga memiliki peran besar dalam kehidupan Gereja Katolik di negara tersebut.
Salah satu tugas utamanya adalah merekomendasikan imam-imam di Amerika Serikat yang layak diangkat menjadi uskup kepada paus. Keputusan tersebut berpengaruh besar terhadap kehidupan sekitar 72 juta umat Katolik di negara itu.
Caccia yang berasal dari Milan sebelumnya juga pernah menjabat sebagai duta besar Vatikan untuk Lebanon serta menjadi pejabat nomor tiga di Sekretariat Negara Vatikan, lembaga yang mengelola diplomasi internasional Takhta Suci.
Baca Juga: Paus Leo XIV Ingatkan Pentingnya Kedaulatan Venezuela di Tengah Intervensi AS
Hubungan diplomatik resmi antara Vatikan dan AS baru terjalin pada 1984 pada masa pemerintahan Presiden Ronald Reagan.
Caccia menjadi salah satu diplomat Vatikan paling berpengalaman yang pernah ditempatkan di Washington, dan menjadi duta Vatikan pertama di AS yang sebelumnya pernah menjabat sebagai perwakilan tetap Vatikan di PBB.













