IMF: Prospek Pertumbuhan Ekonomi Global Bisa Turun Akibat Perang di Ukraina

Jumat, 11 Maret 2022 | 13:19 WIB Sumber: Reuters
IMF: Prospek Pertumbuhan Ekonomi Global Bisa Turun Akibat Perang di Ukraina

ILUSTRASI. IMF menyebutkan, prospek pertumbuhan ekonomi global bisa turun akibat perang di Ukraina.


KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva pada Kamis (10/3) mengatakan, perang Ukraina bisa menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi global yang akan IMF umumkan bulan depan.

Pada Januari lalu, IMF telah telah menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi untuk AS, China, dan ekonomi global setelah melihat risiko yang terkait dengan pandemi Covid-19. IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi sebesar 0,5%.

Saat itu, IMF juga melihat ada dampak dari peningkatan inflasi, gangguan pasokan, dan pengetatan moneter AS.

Sanksi besar-besaran yang dijatuhkan pada Rusia atas invasinya ke Ukraina telah menyebabkan kontraksi mendadak pada ekonomi Rusia. Dilansir dari Reuters, Georgieva memprediksikan, Rusia akan menghadapi resesi yang dalam tahun ini.

IMF dijadwalkan untuk merilis outlook ekonomi dunia yang baru pada pertengahan April mendatang.

Baca Juga: Segera Mengalir, IMF Setujui Bantuan US$ 1,4 miliar untuk Ukraina

Dalam kesempatan terpisah, kepada CNBC Georgieva mengatakan, IMF masih mengharapkan ada tren positif pada ekonomi dunia. Meskipun demikian, IMF juga meyakini durasi perang akan memainkan peran penting dalam menentukan pertumbuhan dan masa depan kerjasama multilateral.

Untuk mengurangi dampak ekonomi invasi Rusia di Ukraina, Dewan IMF pada Rabu (9/3) menyetujui anggaran US$ 1,4 miliar untuk Ukraina dalam bentuk pembiayaan darurat. 

IMF juga sedang mempersiapkan mekanisme pendanaan baru yang memungkinkan pihak lain untuk membantu Ukraina. Untuk saat ini, IMF masih belum menyampaikan perincian lengkapnya.

Berharap pada China

Georgieva mengatakan, China memiliki lebih banyak ruang kebijakan untuk meredam dampak ekonomi invasi Rusia, meskipun akan tetap sulit untuk target pertumbuhan di angka 5,5%.

Baca Juga: Bank Dunia: Kenaikan Harga Minyak Mengancam Pertumbuhan China hingga Indonesia

Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

Terbaru