kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45886,23   -14,59   -1.62%
  • EMAS1.338.000 0,38%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

IMF Proyeksi Ekonomi Global Hanya Tumbuh 2,8% di Tahun 2023


Rabu, 12 April 2023 / 10:53 WIB
IMF Proyeksi Ekonomi Global Hanya Tumbuh 2,8% di Tahun 2023
ILUSTRASI. IMF proyeksi ekonomi global hanya tumbuh 2,8%


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. International Monetary Fund (IMF) memproyeksi, ekonomi global hanya tumbuh 2,8% pada tahun 2023. Hal itu didorong oleh melambatnya pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara maju.

Chief Economist and Director Research Department IMF Pierre Olivier Gourinchas menambahkan, pertumbuhan ekonomi pada tahun depan diperkirakan membaik.

"Pertumbuhan ekonomi global 3,4% pada 2022 turun menjadi 2,8% pada 2023, sedangkan tahun depan akan membaik di angka 3%," kata dia dalam konferensi pers, Selasa (11/4).

Lebih lanjut Pierre bilang, pertumbuhan ekonomi negara maju akan mengalami perlambatan pada tahun ini. Di tahun lalu, ekonomi negara maju tumbuh 2,7%, tetapi untuk tahun 2023, diperkirakan pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut hanya mencapai 1,3%.

Adapun dalam skenario alternatif berdasarkan tekanan sektor keuangan lebih lanjut, pertumbuhan global diperkirakan turun sekitar 2,5% pada 2023 dengan pertumbuhan ekonomi negara maju turun di bawah 1%.

Baca Juga: Ekonomi Global Melambat, Begini Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Di sisi lain, Pierre menyebut, inflasi global secara baseline akan turun dari 8,7% pada 2022 menjadi 7% di tahun 2023.

Penurunan inflasi didukung harga komoditas yang lebih rendah. Adapun inflasi inti cenderung menurun namun lebih lambat.

Pierre bilang, kembalinya inflasi inti ke target kemungkinan tak akan terjadi sebelum 2025 dalam banyak kasus.

Di sisi lain, tingkat suku bunga acuan memiliki makna penting untuk pertumbuhan ekonomi di tahun ini. Sebab, masih menjadi referensi untuk mengukur sikap kebijakan moneter dan penentu utama keberlanjutan utang publik.

Adapun tekanan di sektor keuangan dapat meningkat dan merembet ke mana-mana sehingga melemahkan ekonomi riil. Ujungnya akan memaksa bank sentral untuk mempertimbangkan kembali jalur kebijakan mereka.

Oleh karena itu, Pierre mengatakan, bank sentral harus tetap stabil dengan sikap anti inflasi yang lebih ketat, tetapi juga punya kesiapan untuk menggunakan instrumen kebijakan untuk mengatasi masalah stabilitas keuangan.




TERBARU

[X]
×