kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45764,61   -6,06   -0.79%
  • EMAS887.000 -1,88%
  • RD.SAHAM 0.90%
  • RD.CAMPURAN 0.65%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.47%

IMF: Virus corona menjadi risiko bagi pemulihan ekonomi global


Rabu, 19 Februari 2020 / 21:16 WIB
IMF: Virus corona menjadi risiko bagi pemulihan ekonomi global
ILUSTRASI. Logo IMF.

Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Dana Moneter Internasional (IMF) mengingatkan bahwa epidemi virus corona telah mengganggu pertumbuhan ekonomi China dan penyebaran lebih lanjut ke negara-negara lain dapat menggagalkan pemulihan ekonomi global tahun 2020.

Mengutip Reuters, Rabu (19/2), dalam catatan yang disiapkan untuk para menteri keuangan G20 dan gubernur bank sentral, IMF memetakan sejumlah risiko global termasuk virus corona yang menyebar cepat dan lonjakan baru dalam ketegangan perdagangan AS-China serta bencana alam yang terkait dengan perubahan iklim.

Baca Juga: IMF sebut China masih dapat menambah stimulus tapi harus fokus pada reformasi

Para menteri keuangan dan gubernur bank sentral dari 20 negara industri maju akan berkumpul di Riyadh, Arab Saudi, akhir pekan ini di tengah berlanjutnya ketidakpastian tentang dampak virus corona (Covid-19).

IMF mengatakan tetap berpegang pada perkiraan Januari untuk pertumbuhan ekonomi global tahun ini sebesar 3,3%, naik dari 2,9% pada 2019.

Tetapi IMF mengatakan pemulihan akan dangkal dan risiko tetap condong ke downside. "Pemulihan bisa tergelincir oleh kenaikan tajam dalam risiko, dipicu misalnya oleh eskalasi ketegangan perdagangan, atau penyebaran lebih lanjut dari virus corona," kata IMF.

Televisi pemerintah China mengutip pernyataan Presiden China Xi Jinping yang mengatakan bahwa China masih dapat memenuhi target pertumbuhan ekonominya untuk tahun 2020 meskipun ada virus corona. 

Tetapi catatan IMF meragukan hal itu.

"Virus corona mengganggu aktivitas ekonomi di China karena produksinya dihentikan dan mobilitas di sekitar daerah yang terkena dampak terbatas," tulis IMF dalam catatan itu. 



TERBARU

[X]
×