kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.913   43,00   0,24%
  • IDX 5.643   -177,60   -3,05%
  • KOMPAS100 728   -24,24   -3,22%
  • LQ45 553   -19,90   -3,47%
  • ISSI 197   -4,65   -2,31%
  • IDX30 314   -10,96   -3,37%
  • IDXHIDIV20 389   -11,74   -2,93%
  • IDX80 83   -2,75   -3,22%
  • IDXV30 107   -1,77   -1,63%
  • IDXQ30 102   -3,08   -2,93%

Sejumlah Negara Tegas Menolak Ajakan Koalisi Militer Donald Trump Rebut Selat Hormuz


Kamis, 19 Maret 2026 / 04:27 WIB
Sejumlah Negara Tegas Menolak Ajakan Koalisi Militer Donald Trump Rebut Selat Hormuz
ILUSTRASI. Mayoritas negara besar dunia menolak ajakan koalisi militer AS rebut Selat Hormuz dan memilih jalur diplomasi. Langkah ini mengejutkan banyak pihak. (Ilustrasi/Kontan)


Sumber: ABC News,DW.com,BBC,Reuters | Editor: Syamsul Azhar

KONTAN.CO.ID - JAKARTA - Gelombang penolakan terhadap rencana pembentukan koalisi militer untuk membuka blokade Selat Hormuz terus meluas. Hingga Senin (16/3), sejumlah negara besar dunia memilih tidak ikut serta dan lebih mengedepankan jalur diplomasi guna meredam eskalasi konflik.

Negara-negara yang menyatakan penolakan meliputi Prancis, Jerman, Italia, Spanyol, Inggris, Jepang, Norwegia, Kanada, dan Australia. Sementara itu, China dan Belanda belum merespons, serta Korea Selatan masih belum memberikan konfirmasi resmi.

Baca Juga: Harga Minyak Melonjak 5% Usai Ancaman Serangan Iran

Presiden Emmanuel Macron menegaskan bahwa Prancis tidak akan terlibat dalam operasi militer yang berpotensi memperkeruh konflik. Dalam laporan Reuters, Macron menekankan bahwa setiap langkah di kawasan harus mengutamakan stabilitas dan dialog, termasuk komunikasi dengan Iran, bukan aksi militer.

Giliran Inggris dan Uni Eropa Tolak Dukung Trump untuk Mengakuisisi Selat Hormuz

Dari Jerman, Kanselir Olaf Scholz juga menolak pendekatan militer. Pemerintah Jerman, seperti dilaporkan DW, menilai solusi jangka panjang hanya dapat dicapai melalui jalur diplomasi dan de-eskalasi.

Di Inggris, posisi terbaru dipegang oleh Perdana Menteri Keir Starmer. Berdasarkan laporan BBC, pemerintah Inggris mengambil sikap hati-hati dan tidak terburu-buru bergabung dalam operasi militer, serta mendorong upaya penurunan ketegangan di kawasan.

Sementara itu di Asia, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menekankan bahwa stabilitas Timur Tengah sangat krusial bagi keamanan energi global. Jepang memilih pendekatan diplomatik dan menghindari keterlibatan militer langsung dalam konflik. Sanae sendiri dalam waktu dekat akan menemui Presiden Amerika Serikat Donald Trump di White House untuk membahas hubungan kedua negara termasuk konflik Iran.

Baca Juga: Trump Kecewa, Sekutu Enggan Turun Tangan Bantu Amankan Selat Hormuz

Sikap serupa datang dari Perdana Menteri Kanada Mark Carney dan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese. Berdasarkan laporan Reuters dan ABC News, kedua negara tersebut menolak keterlibatan militer langsung dan lebih mendorong penyelesaian damai.

Penolakan kolektif ini mencerminkan kekhawatiran global terhadap potensi eskalasi konflik di Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar sepertiga perdagangan minyak dunia. Gangguan di kawasan ini berisiko memicu lonjakan harga energi dan mengguncang stabilitas ekonomi global.

Hingga kini, China dan Belanda masih belum memberikan pernyataan resmi, sementara Korea Selatan masih dalam tahap evaluasi.

Secara umum, dinamika ini menunjukkan kecenderungan negara-negara besar untuk menahan diri dari keterlibatan militer langsung dan lebih memilih jalur diplomasi demi mencegah konflik yang lebih luas.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×