Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - NEW DELHI. India berencana membeli hingga seperempat kebutuhan impor liquefied petroleum gas (LPG) dari Amerika Serikat (AS) mulai 2027. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari Timur Tengah sekaligus mendukung upaya penyelesaian perjanjian perdagangan dengan Washington.
Mengutip laporan Reuters, Selasa (28/7/2026), rencana tersebut diungkapkan oleh tiga sumber yang mengetahui pembahasan tersebut.
Keputusan ini diambil setelah India mengalami krisis pasokan LPG terburuk pada awal tahun ini. Konflik Iran serta penutupan Selat Hormuz sempat mengganggu arus pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Pemerintah India bahkan menerapkan langkah darurat dengan mengalihkan bahan baku petrokimia dari sektor industri ke kebutuhan rumah tangga yang menggunakan LPG sebagai bahan bakar memasak.
Berdasarkan data pemerintah India, negara dengan konsumsi minyak terbesar ketiga di dunia itu mengimpor sekitar 21,85 juta metrik ton LPG sepanjang 2025. Sekitar 90% dari total impor tersebut berasal dari Timur Tengah.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Anjlok ke Level Terendah Sepekan, Ini Pemicunya
Impor juga menyumbang sekitar 66% dari total konsumsi LPG India.
Perusahaan Kilang Negara Siapkan Tender
Tiga perusahaan kilang milik negara, yakni Indian Oil Corp (IOC), Bharat Petroleum Corp (BPCL), dan Hindustan Petroleum (HPCL), diperkirakan akan menerbitkan tender pembelian LPG dari Amerika Serikat untuk pengiriman tahun 2027 dalam satu hingga dua bulan ke depan.
Sumber Reuters juga menyebutkan delegasi dari ketiga perusahaan tersebut kemungkinan akan melakukan kunjungan ke Amerika Serikat bulan depan guna membahas pengadaan pasokan LPG.
Hingga berita ini ditulis, Kementerian Perminyakan India maupun ketiga perusahaan tersebut belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar dari Reuters.
Dukung Negosiasi Dagang dengan AS
Peningkatan pembelian energi dari Amerika Serikat dinilai dapat membantu India memperkecil surplus perdagangannya terhadap Washington. Hal tersebut menjadi salah satu tuntutan utama Presiden AS Donald Trump dalam negosiasi perdagangan kedua negara.
India saat ini berupaya menyelesaikan perjanjian dagang yang telah lama dibahas dalam tiga hingga empat bulan mendatang.
Pemerintah India juga telah berkomitmen meningkatkan pembelian energi dari Amerika Serikat sebesar US$ 10 miliar menjadi US$ 25 miliar dalam waktu dekat.
Selain itu, India dan Amerika Serikat telah menyepakati target perdagangan bilateral senilai US$ 500 miliar pada 2030.
Impor LPG AS Terus Meningkat
India juga telah mempercepat pembelian LPG di pasar spot dari Amerika Serikat maupun negara pemasok lainnya untuk mengimbangi berkurangnya pasokan dari Timur Tengah.
Menurut sumber Reuters, impor LPG dari Amerika Serikat untuk pertama kalinya melampaui 1 juta ton pada Juni 2026. Volume tersebut juga diperkirakan akan melampaui target kontrak tahunan awal India sebesar 2,2 juta ton sepanjang 2026.
Sementara itu, data sementara pemerintah menunjukkan berkurangnya pasokan dari Timur Tengah membuat konsumsi LPG India pada Januari-Juni 2026 turun sekitar 8% secara tahunan menjadi sekitar 14,7 juta ton.
Pada periode yang sama, impor LPG India juga merosot sekitar 28% menjadi sekitar 7,5 juta ton.
Salah satu sumber memperkirakan konsumsi LPG India sepanjang 2026 akan turun menjadi sekitar 30 juta ton akibat terbatasnya pasokan.
Namun, impor LPG diproyeksikan kembali meningkat menjadi sekitar 20 juta ton pada 2027 seiring pemulihan permintaan hingga sekitar 31 juta ton.
Wakil Menteri Perminyakan India, Suresh Gopi, mengatakan pemerintah memang tengah mendorong diversifikasi sumber impor LPG untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
"Diversifikasi impor LPG sedang dilakukan untuk memastikan keamanan pasokan serta mengurangi risiko yang timbul akibat gangguan regional maupun peristiwa geopolitik," ujar Suresh Gopi kepada anggota parlemen pada Senin.














