Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - NEW DELHI. Pemerintah India memutuskan menunda penandatanganan kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat selama beberapa bulan ke depan. Keputusan ini diambil setelah pemerintahan Presiden AS, Donald Trump, meluncurkan investigasi baru terkait dugaan kelebihan kapasitas industri di negara-negara mitra dagang.
Empat sumber pemerintah India yang mengetahui langsung proses negosiasi mengatakan, langkah investigasi tersebut menambah friksi baru dalam pembicaraan dagang antara kedua negara, meskipun sebelumnya telah tercapai kesepahaman awal pada bulan lalu.
Kesepakatan Awal Sempat Ditargetkan Maret
Sebelumnya, New Delhi menargetkan penandatanganan kesepakatan sementara pada Maret 2026, yang akan dilanjutkan dengan perjanjian dagang penuh pada tahap berikutnya.
Baca Juga: BYD Luncurkan EV Premium di Eropa, Bisa Isi Daya Dalam Hitungan Menit
Rencana tersebut muncul setelah Trump pada awal Februari setuju menurunkan tarif tinggi terhadap impor dari India. Sebagai imbalannya, India disebut memberikan sejumlah komitmen, antara lain menghentikan impor minyak dari Rusia, menurunkan bea masuk terhadap produk Amerika Serikat, serta berjanji membeli produk AS senilai US$500 miliar.
Namun, menurut sumber tersebut, jadwal tersebut kini kemungkinan mundur beberapa bulan.
Pejabat pemerintah AS sendiri menyatakan mereka tetap berharap India akan memenuhi komitmen yang telah disepakati sebelumnya. Keempat sumber India tersebut menolak disebutkan namanya karena tidak memiliki kewenangan berbicara kepada media.
Kementerian Perdagangan dan Kementerian Luar Negeri India juga belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan komentar.
Sementara itu, seorang pejabat Gedung Putih mengatakan pemerintah AS tetap bekerja sama dengan India untuk merampungkan kesepakatan tersebut.
Negosiasi Melambat Usai Putusan Mahkamah Agung AS
Pembicaraan dagang dilaporkan mulai kehilangan momentum setelah Supreme Court of the United States pada akhir Februari membatalkan tarif yang sebelumnya diberlakukan oleh pemerintahan Trump.
Sejak putusan tersebut, tidak ada pembicaraan substantif yang berlangsung, terutama karena Washington juga tengah disibukkan dengan konflik militer melawan Iran.
Di sisi lain, India juga tidak sepenuhnya menghentikan pembelian minyak Rusia seperti yang diharapkan oleh Washington. India hanya memperlambat impor tersebut.
Kini, pejabat AS bahkan disebut mendorong India untuk meningkatkan pembelian energi guna membantu meredakan krisis pasokan global yang dipicu oleh konflik tersebut.
Investigasi Baru Tambah Ketidakpastian
Situasi menjadi semakin rumit setelah pemerintah AS meluncurkan penyelidikan baru terkait apa yang disebut sebagai “kelebihan kapasitas struktural dan produksi di sektor manufaktur” di 16 mitra dagang, termasuk India.
Baca Juga: Trump: Timnas Iran Boleh ke Piala Dunia 2026, Tapi Keamanannya Diragukan
Investigasi ini dilakukan berdasarkan Section 301 of the Trade Act of 1974, sebuah instrumen hukum yang memungkinkan AS mengambil tindakan perdagangan terhadap negara yang dianggap menjalankan praktik tidak adil.
Salah satu sumber pemerintah India mengatakan negaranya tidak terburu-buru menandatangani kesepakatan dagang.
Menurutnya, investigasi tersebut dipandang sebagai taktik tekanan dari Washington untuk memaksa negara-negara mitra menandatangani perjanjian setelah putusan pengadilan yang membatalkan tarif sebelumnya.
“Investigasi baru ini menjadi penghambat dalam proses negosiasi,” ujar sumber tersebut.
India disebut akan mengambil pendekatan “wait and see” sambil memantau perkembangan kebijakan tarif AS.
Sebelumnya, Trump sempat menjatuhkan tarif hukuman sebesar 25% terhadap India sebelum akhirnya menurunkannya. Secara keseluruhan, tarif terhadap produk India pernah mencapai 50%, salah satu yang tertinggi di dunia.
India Siapkan Opsi ke WTO
Jika diperlukan, India berencana menyampaikan argumennya kepada Office of the United States Trade Representative (USTR) selama proses investigasi berlangsung.
Apabila hasilnya merugikan, New Delhi juga mempertimbangkan untuk membawa perkara ini ke World Trade Organization (WTO).
AS Tetap Harap India Penuhi Komitmen
Duta Besar AS untuk India, Sergio Gor, mengatakan Washington memiliki berbagai instrumen lain untuk menerapkan tarif, termasuk melalui mekanisme Section 301.
Baca Juga: Harga Minyak Melonjak, Pasar Tetap Cemas Meski AS Longgarkan Akses Minyak Rusia
Ia menegaskan AS berharap negara-negara yang telah mencapai kesepakatan dengan Washington tetap menghormati komitmen tersebut.
Menurut Gor, kesepakatan dagang antara India dan AS pada dasarnya merupakan situasi yang saling menguntungkan.
Tarif Sementara 10% Berlaku Global
Setelah putusan Mahkamah Agung, Trump juga memberlakukan tarif sementara sebesar 10% terhadap impor dari seluruh negara hingga 24 Juli mendatang.
Dalam kerangka kesepahaman awal antara New Delhi dan Washington yang disebut sebagai “framework for an interim agreement”, ekspor India ke AS sebelumnya diperkirakan akan dikenakan tarif sekitar 18%.
Namun kini India masih menunggu kejelasan apakah Washington akan kembali ke tarif tersebut atau menerapkan tingkat yang berbeda.
Priyanka Kishore, analis dari firma konsultasi Asia Decoded yang berbasis di Singapura, menilai langkah India untuk memperlambat negosiasi merupakan keputusan yang rasional.
Menurutnya, selama tarif saat ini berada di level 10% dan investigasi masih berlangsung, akan lebih bijak bagi India menunggu hasil kebijakan AS sebelum menandatangani kesepakatan baru.
- New Delhi
- World Trade Organization
- Donald Trump
- Supreme Court
- Tarif Impor AS
- Impor Minyak Rusia India
- Section 301
- kebijakan perdagangan Trump
- kelebihan kapasitas industri
- Section 301 Trade Act
- kesepakatan dagang India AS
- investigasi dagang AS
- WTO India AS
- hubungan dagang India AS
- penundaan kesepakatan dagang













