Inflasi AS di Atas Proyeksi, Harga Bitcoin dan Mata Uang Kripto Lainnya Ambrol

Selasa, 13 September 2022 | 20:54 WIB   Reporter: SS. Kurniawan
Inflasi AS di Atas Proyeksi, Harga Bitcoin dan Mata Uang Kripto Lainnya Ambrol

ILUSTRASI. Harga Bitcoin dan mata uang kripto lainnya ambrol pada Selasa (13/9) malam, usai rilis inflasi AS. KONTAN/Cheppy A. Muchlis.


KONTAN.CO.ID - Harga Bitcoin dan mata uang kripto lainnya ambrol pada Selasa (13/9) malam, usai rilis inflasi AS pada Agustus 2022.

Mengacu data CoinMarketCap pada Selasa (13/9) pukul 20.38 WIB, harga Bitcoin ada di US$ 21.406,51 atau turun 4,15% dalam 24 jam terakhir.

Harga Ethereum turun lebih dalam, 7,46% menjadi US$ 1.617,29. Begitu juga Cardano merosot 7,69% ke US$ 0,4762 dan Avalanche jatuh 8,53% jadi US$ 19,90.

Sementara harga mata uang kripto berbasis meme Dogecoin dan Shiba Inu masing-masing melorot 5,56% dan 5,78% menjadi US$ 0,06099 dan US$ 0,0000123.

Baca Juga: The Fed Kerek Suku Bunga Terlalu Tinggi, Elon Musk Beri Peringatan Ini

Mengutip CoinDesk, inflasi AS pada Agustus sejatinya melambat, tetapi tetap lebih tinggi dari yang proyeksi para ekonom.

Ini menjadi sebuah tanda bahwa bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed) bakal tetap agresif dalam menaikkan suku bunga.

Indeks Harga Konsumen (ICP) AS tercatat 8,3% pada Agustus, sedikit melambat dari Juli sebesar 8,5%. 

Padahal, harga Bitcoin dan mata uang kripto sebelumnya melonjak tinggi. Harga Bitcoin, misalnya, melesat 15% dibanding akhir pekan.

Baca Juga: Harga Bitcoin Tembus Level US$ 22.000, Mata Uang Kripto Ini Pimpin Kenaikan

Inflasi AS pada Agustus akan memberikan panduan utama untuk pertemuan The Fed bulan ini yang berlangsung pekan depan.

Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) kemungkinan akan memutuskan untuk mengerek suku bunga 75 basis poin lagi.

"Rilis (inflasi AS) ini berpotensi menjadi penggerak utama tentang bagaimana konferensi pers Ketua The Fed Jerome Powell yang hawkish," kata Anthony Woodside, Senior Solutions Strategist LGIM America, kepada CoinDesk.

"Dan, dengan perluasan arah sentimen risiko dan harga pasar dalam waktu dekat," ujarnya.

Editor: S.S. Kurniawan

Terbaru