Inflasi Inti Singapura Melesat Jadi 3,3%, Tertinggi dalam 10 Tahun Terakhir

Senin, 23 Mei 2022 | 14:42 WIB   Reporter: SS. Kurniawan
Inflasi Inti Singapura Melesat Jadi 3,3%, Tertinggi dalam 10 Tahun Terakhir

ILUSTRASI. Inflasi inti Singapura pada April 2022 melesat menjadi 3,3%, level tertinggi dalam 10 tahun terakhir. REUTERS/Edgar Su.


KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Inflasi inti Singapura pada April 2022 melesat menjadi 3,3% secara year-on-year (yoy), level tertinggi dalam 10 tahun terakhir, data resmi yang dirilis pada Senin (23/5) menunjukkan, didorong harga energi dan makanan yang lebih tinggi.

Angka inflasi inti pada April 2022 merupakan yang tertinggi sejak Januari 2012, ketika mencapai 3,5%.

Pendorong lonjakan inflasi inti adalah kenaikan harga yang lebih tinggi untuk makanan, ritel, dan barang lainnya serta listrik dan gas, Otoritas Moneter Singapura (MAS) dan Kementerian Perdagangan dan Industri (MTI) mengatakan dalam rilis bersama.

Sementara indeks harga konsumen utama, atau inflasi keseluruhan, berada di angka 5,4% yoy, sama seperti Maret lalu, karena inflasi transportasi pribadi turun.

Baca Juga: Kasus COVID-19 di Singapura pada Bulan April Semuanya Varian Omicron

Inflasi inti tidak termasuk biaya akomodasi dan transportasi pribadi, yang cenderung dipengaruhi secara signifikan oleh kebijakan administrasi sisi penawaran dan bersifat fluktuatif.

Inflasi makanan naik dari 3,3% pada Maret menjadi 4,1% di April karena harga makanan yang tidak dimasak dan layanan makanan naik pada kecepatan yang lebih tinggi, MAS dan MTI mengungkapkan.

Inflasi ritel dan barang lainnya mjuga eningkat lebih cepat di April, mencapai 1,6% dari 0,4% pada Maret. Penyebabnya, harga pakaian dan alas kaki naik.

Inflasi listrik dan gas melonjak menjadi 19,7% pada April, dari 17,8% di bulan sebelumnya. Pendorongnya, kenaikan tarif listrik dan harga gas yang lebih tinggi menyusul biaya bahan bakar yang lebih mahal.

Baca Juga: Singapura Deteksi Kasus Subvarian Baru Omicron BA.4 dan BA.5 yang Lebih Menular

MAS dan MTI mengatakan, tekanan inflasi eksternal terus kuat di tengah kenaikan harga komoditas global, serta gesekan rantai pasokan yang berkelanjutan yang didorong konflik Rusia-Ukraina dan situasi pandemi regional.

"Dalam waktu dekat, risiko geopolitik yang meningkat dan kondisi pasokan yang ketat akan membuat harga minyak mentah tetap tinggi," ungkap MAS dan MTI, seperti dikutip Channel News Asia. 

"Harga komoditas lain, seperti makanan, juga diperkirakan akan tetap tinggi di tengah ketidaksesuaian pasokan-permintaan, serta kemacetan dalam transportasi global dan rantai pasokan regional," imbuh mereka.

Editor: S.S. Kurniawan

Terbaru