Inflasi Sentuh Level Tertinggi Sepanjang Sejarah, Harga Barang Uni Eropa Naik 5%

Rabu, 16 Februari 2022 | 16:13 WIB   Reporter: Maizal Walfajri
Inflasi Sentuh Level Tertinggi Sepanjang Sejarah, Harga Barang Uni Eropa Naik 5%

ILUSTRASI. Uni Eropa. REUTERS/Hannah Mckay


KONTAN.CO.ID - BERLIN. Rekor inflasi tertinggi sejak pembentukan zona Uni Eropa pecah pada Januari 2022. Ini bakal berdampak pada standar hidup dan dengan cepat menjadi masalah politik di benua biru.

Pertumbuhan harga konsumen telah meningkat menjadi lebih dari 5% untuk kawasan secara keseluruhan. Inflasi mencapai dua digit juga terjadi di berbagai negara seperti Lituania. 

Begitupun pada pusat ekonomi Eropa, Jerman mencatatkan inflasi menjadi di 5,1% pada Januari 2022, mendekati level tertinggi dalam 30 tahun terakhir, mengutip Bloomberg pada Rabu (16/2).

Inflasi ini mulai menyulitkan hidup kelompok berpenghasilan rendah. Organisasi Bantuan Makanan Jerman, Tafel melihat permintaan bantuan semakin meningkat saat masyarakat menerima tagihan listrik dan air. 

Baca Juga: Pasokan Gas Tipis, Regulator Antimonopoli Uni Eropa Intensif Menelisik Bisnis Gazprom

Kepala Tafel Brandenburg,  Griseldis Grey menyatakan masyarakat berpenghasilan rendah sudah terguncang setelah kehilangan dukungan kebutuhan pokok selama lockdown. 

Sedangkan Prancis mencatatkan inflasi di level 3,3% pada Januari 2022. Dampaknya membuat harga roti sebagai kebutuhan pokok naik US$ 0,26 dalam dua dekade terakhir. Para pembuat roti mulai bergulat dengan melonjaknya biaya bahan dan kenaikan upah minimum.

Dominique Anract, Kepala Federasi Toko Roti dan Kue Perancis menyatakan organisasi dengan mengerek biaya produk. Sebab bisa  membebankan biaya yang lebih tinggi kepada konsumen. 

Sebagai gantinya, produsen mempertimbangkan pilihan lain seperti mengurangi porsi produk yang dijual. Ia menilai masyarakat sangat sensitif terhadap kenaikan dan pembuat roti tidak ingin difitnah. 

Kondisi serupa juga terjadi Italia dengan tingkat inflasi Januari 2020 sebesar 5,3%. Negara ini telah mendapat manfaat dari bantuan pemerintah yang cukup besar, dengan lebih dari €10 miliar dihabiskan untuk mengimbangi lonjakan harga energi. 

Perdana Menteri Mario Draghi bersumpah akan terus melindungi keluarga dan lebih banyak bantuan untuk perusahaan. Namun dengan utang negara yang sudah melampaui 150% dari produk domestik bruto, ada kekhawatiran dukungan tersebut tidak berkelanjutan. 

Baca Juga: Uni Eropa Menuding Rusia Sedang Berusaha Memecah Belah Eropa

Di luar energi, kemacetan pasokan dan kekeringan memicu kenaikan harga terus meningkat. 

Kondisi yang lebih parah terjadi di Lithuania dengan tingkat inflasi Januari di posisi 12,2%. Ini tercatat sebagai pertumbuhan inflasi paling cepat di zona Eropa.

Pemerintah setempat telah mensubsidi energi dan mungkin memperkenalkan tingkat 0% sementara PPN untuk pemanas dan biaya makanan. Ini membuat sebagian warganya mencari bahan makanan ke berbagai negara tetangga seperti Polandia yang lebih murah.

Editor: Herlina Kartika Dewi

Terbaru