Inggris Dicengkeram oleh Krisis Ekonomi yang Diciptakan Sendiri

Sabtu, 01 Oktober 2022 | 09:04 WIB   Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie
Inggris Dicengkeram oleh Krisis Ekonomi yang Diciptakan Sendiri

ILUSTRASI. Seminggu yang lalu, Bank of England mengambil langkah yang salah dalam kebijakan fiskalnya. REUTERS/Tom Nicholson

KONTAN.CO.ID - LONDON. Seminggu yang lalu, Bank of England mengambil langkah yang salah dalam kebijakan fiskalnya. Yakni menaikkan suku bunga untuk mengatasi inflasi. 

Melansir CNN, kurang dari 24 jam kemudian, pemerintah Perdana Menteri Inggris yang baru Liz Truss mengumumkan rencananya untuk pemotongan pajak terbesar dalam 50 tahun. Kebijakan ini bertujuan untuk mengerek kembali pertumbuhan ekonomi. Namun nyatanya, pemangkasan pajak meniup lubang besar dalam keuangan negara dan kredibilitasnya di mata investor.

Alhasil, nilai tukar poundsterling jatuh ke rekor terendah terhadap dolar AS pada hari Senin. Kondisi ini terjadi setelah menteri keuangan Inggris Kwasi Kwarteng menggandakan taruhannya dengan mengisyaratkan lebih banyak pemotongan pajak yang akan datang tanpa menjelaskan bagaimana cara membayarnya. 

Harga obligasi Inggris jatuh, sehingga menyebabkan biaya pinjaman melonjak. Kondisi ini juga memicu kekacauan di pasar hipotek dan mendorong dana pensiun ke ambang kebangkrutan.

Sebelumnya, pasar keuangan Inggris sudah dalam keadaan demam karena meningkatnya risiko resesi global dan terjadinya tiga kenaikan suku bunga yang sangat besar dari bank sentral AS dalam rangka perang melawan inflasi. 

Baca Juga: Siap-Siap, Badai Ekonomi Global Menerjang

“Anda harus memiliki kebijakan yang kuat dan kredibel, dan setiap kesalahan langkah kebijakan akan mendapat hukuman,” kata Chris Turner, kepala pasar global di ING.

Setelah jaminan verbal oleh Departemen Keuangan Inggris dan Bank of England gagal untuk menenangkan kepanikan, bank sentral Inggris menarik bazokanya. Bank of England mengatakan pada hari Rabu bahwa pihaknya akan mencetak £ 65 miliar ($ 70 miliar) untuk membeli obligasi pemerintah antara periode saat ini dan 14 Oktober yang pada dasarnya melindungi ekonomi Inggris.

"Meskipun ini disambut baik, fakta bahwa itu perlu dilakukan sejak awal menunjukkan bahwa pasar Inggris berada dalam posisi berbahaya," kata Paul Dales, kepala ekonom Inggris di Capital Economics, mengomentari intervensi bank.

Pertolongan pertama darurat berhasil menghentikan pendarahan. Harga obligasi pulih tajam dan pound stabil pada Rabu terhadap dolar. Tapi lukanya belum sembuh.

Pound melemah sebesar 1% dan jatuh kembali di bawah $ 1,08 pada Kamis pagi. Obligasi pemerintah Inggris berada di bawah tekanan lagi, dengan imbal hasil pada obligasi bertenor 10-tahun naik menjadi 4,16%. Pasar saham Inggris turun 2%.

"Tidak akan menjadi kejutan besar jika masalah lain di pasar keuangan muncul tak lama kemudian," tambah Dales.

Beberapa minggu ke depan situasi ekonomi Inggris akan menjadi lebih kritis. Mohamed El-Erian, yang pernah membantu menjalankan dana obligasi terbesar di dunia dan sekarang menjadi penasihat Allianz (ALIZF), mengatakan bahwa bank sentral telah mengulur waktu tetapi perlu bertindak lagi dengan cepat untuk memulihkan stabilitas.

“Band-Aid mungkin menghentikan pendarahan, tetapi infeksi dan pendarahan akan bertambah parah jika tidak dilakukan lebih banyak,” katanya kepada Julia Chatterley dari CNN.

Menurut El-Erian, Bank of England harus mengumumkan kenaikan suku bunga darurat sebelum pertemuan yang dijadwalkan berikutnya pada 3 November. Pemerintah Inggris juga harus menunda pemotongan pajaknya.

“Itu bisa dilakukan, jendelanya ada, tetapi jika mereka menunggu terlalu lama, jendela itu akan tertutup,” tambahnya.

Baca Juga: Ini Daftar Negara yang Ekonominya Terancam di 2023, Eropa Paling Terdampak

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Terbaru