kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Ini dua pernyataan Mahathir yang berujung pada kemarahan India dan boikot CPO


Selasa, 14 Januari 2020 / 11:47 WIB
Ini dua pernyataan Mahathir yang berujung pada kemarahan India dan boikot CPO
ILUSTRASI. Perdana Menteri Malaysia Tun Dr Mahathir Mohamad menyampaikan pidato pada pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi Kuala Lumpur Summit (KTT KL Summit) yang diikuti 56 negara muslim di Kuala Lumpur Convention Center, Kamis (19/12/2019). Dalam pidatonya Ketua KT

Sumber: Al Jazeera,Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

"Orang-orang sekarat karena undang-undang ini. Mengapa ada keharusan untuk melakukan ini ketika, selama 70 tahun, mereka hidup bersama sebagai warga negara tanpa masalah?" tanyanya seperti yang dikutip dari Al Jazeera.

Undang-undang itu memicu kekhawatiran bahwa Perdana Menteri Narendra Modi ingin membentuk kembali India sebagai negara Hindu dan memarginalkan 200 juta warga Muslimnya, yang membentuk hampir 14% dari 1,3 miliar penduduk India.

Baca Juga: Gara-gara pernyataan kontroversial PM Malaysia, outlook saham CPO menarik

"Saya menyesal melihat bahwa India, yang mengklaim sebagai negara sekuler sekarang mengambil tindakan untuk merampas beberapa warga Muslim dari kewarganegaraan mereka," kata pemimpin berusia 94 tahun itu.

"Jika kita melakukan itu di sini, aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Akan ada kekacauan dan ketidakstabilan, dan semua orang akan menderita."

Komentar Mahathir muncul di tengah protes mematikan di India atas CAA, di mana setidaknya 20 orang telah terbunuh sejauh ini, termasuk hampir selusin pada hari Jumat.

Bisa untungkan Indonesia

Seperti yang diberitakan sebelumnya, importir minyak sawit India secara efektif menghentikan semua pembelian dari pemasok utama Malaysia setelah pemerintah secara pribadi mendesak mereka untuk memboikot produk CPO menyusul terjadinya perselisihan diplomatik. Hal itu diungkapkan oleh sumber Reuters yang berasal dari kalangan industri dan pemerintah di India.

Baca Juga: Berikut saham yang layak dikoleksi awal tahun 2020 versi analis

Lima orang sumber dari industri sawit yang akrab dengan masalah tersebut mengatakan kepada Reuters mengatakan, importir India tidak membeli minyak mentah atau minyak kelapa sawit olahan dari Malaysia.

"Secara resmi tidak ada larangan impor minyak kelapa sawit mentah dari Malaysia, tetapi tidak ada yang membeli karena instruksi pemerintah," kata seorang penyuling terkemuka. Dia menambahkan, saat ini para buyer mengimpor dari Indonesia meskipun membayar harga yang lebih premium ketimbang Malaysia.

India adalah importir minyak kelapa sawit terbesar di dunia, membeli lebih dari 9 juta ton per tahun terutama dari Indonesia dan Malaysia.

Langkah itu secara efektif bisa memblokir impor dari Malaysia sehingga mendongkrak persediaan minyak sawit Malaysia yang pada akhirnya bisa menekan harga CPO. 

Kondisi ini juga dapat menguntungkan Indonesia, yang notabene merupakan pengekspor minyak sawit mentah (CPO) terbesar di dunia.




TERBARU

Close [X]
×