Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Amerika Serikat (AS) mendesak Iran memberikan komitmen publik untuk menjamin kebebasan dan keamanan pelayaran di Selat Hormuz, di tengah upaya kedua negara melanjutkan pembicaraan guna meredakan ketegangan di kawasan Teluk.
Melansir Reuters, media pemerintah Iran melaporkan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi tiba di Oman pada Sabtu (11/7/2026) untuk membahas pengaturan keamanan pelayaran di Selat Hormuz.
Baca Juga: Topan Bavi Dekati China, Lebih dari 1,8 Juta Warga Dievakuasi
Oman kembali berperan sebagai mediator dalam upaya meredakan konflik yang telah mengganggu stabilitas kawasan dan memicu lonjakan harga energi global.
Presiden AS Donald Trump pada Jumat (10/7) mengatakan Washington dan Teheran sepakat melanjutkan dialog meski ketegangan militer meningkat pada pekan ini.
Namun, Trump juga menyatakan gencatan senjata yang sebelumnya disepakati kedua pihak telah berakhir.
Meski demikian, hingga Sabtu dini hari belum ada laporan mengenai serangan baru.
Media CBS News dan BBC melaporkan, Wakil Presiden AS JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, utusan khusus Steve Witkoff, serta Jared Kushner diperkirakan akan mewakili AS dalam pembicaraan dengan Araqchi.
Baca Juga: Harry Kane Ungkap Momen Langka, Bermain Golf Bareng Donald Trump!
Namun, Reuters belum dapat memverifikasi laporan tersebut. Sementara itu, kantor berita Fars mengutip sumber yang menyebut tidak akan ada negosiasi sebelum AS mengubah posisinya.
Di tengah proses diplomasi, Araqchi menuduh Washington melanggar kesepakatan gencatan senjata sementara.
Menurutnya, kepatuhan terhadap kesepakatan hanya dapat terwujud jika kedua pihak sama-sama memenuhi komitmennya.
Ketegangan meningkat setelah tiga kapal tanker komersial milik Qatar dan Arab Saudi diserang awal pekan ini.
Serangan tersebut mendorong AS melancarkan serangan terhadap sejumlah lokasi di Iran yang kemudian dibalas Teheran dengan serangan ke fasilitas militer AS di kawasan Teluk.
Meski Iran membantah bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal-kapal tersebut, sejumlah analis menilai aksi semacam itu kerap digunakan Teheran sebagai alat tawar dalam perundingan.
Baca Juga: Apple Gugat OpenAI dan Dua Mantan Karyawannya Atas Tuduhan Pencurian Rahasia Dagang
Pejabat senior AS mengatakan Iran telah menyampaikan kepada Washington bahwa serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz dilakukan oleh "unsur yang bertindak di luar kendali sistem", sebuah pernyataan yang dinilai bertujuan meredakan ketegangan.
Trump melalui platform Truth Social juga menegaskan bahwa AS telah menyampaikan secara jelas kepada Iran bahwa gencatan senjata telah berakhir, meski tetap bersedia melanjutkan dialog.
Di sisi lain, Iran membantah telah meminta pembicaraan langsung dengan AS.
Televisi pemerintah Iran menyebut Teheran hanya menerima kunjungan mediator dari Qatar yang pada Jumat bertemu pejabat Iran untuk membahas deeskalasi konflik dan keamanan Selat Hormuz.
Baca Juga: Meta Hentikan Fitur Gambar AI di Instagram Beberapa Hari Setelah Diluncurkan
Washington kini menuntut Iran menyatakan secara terbuka akan menghentikan seluruh serangan terhadap kapal di Selat Hormuz serta menjamin seluruh jalur pelayaran tetap terbuka tanpa pungutan.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang sebelum konflik mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia, sehingga setiap gangguan di kawasan tersebut berpotensi memicu lonjakan harga energi global.
Meski ketegangan masih tinggi, pejabat AS mengatakan komunikasi dengan Iran dalam beberapa hari terakhir berlangsung secara konstruktif.
Namun, Teheran menegaskan setiap pelanggaran komitmen oleh Washington akan dibalas dengan tindakan yang setimpal.
Konflik yang telah berlangsung selama lima bulan itu telah menewaskan ribuan orang, mengganggu pasokan energi global, dan meningkatkan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi dunia.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah pekan ini mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam delapan pekan terakhir seiring kembali meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk.














