Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Satelit Rusia dilaporkan melakukan puluhan survei rinci terhadap fasilitas militer dan situs strategis di Timur Tengah untuk membantu Iran menargetkan pasukan Amerika Serikat dan sasaran lainnya, menurut penilaian intelijen Ukraina yang dikaji oleh Reuters, Senin (6/4/2026).
Penilaian tersebut juga menemukan bahwa peretas Rusia dan Iran bekerja sama di ranah siber, menunjukkan dukungan rahasia Rusia terhadap Iran sejak serangan AS dan Israel dimulai pada 28 Februari.
Survei Satelit Rusia
Penilaian intelijen mencatat bahwa satelit Rusia melakukan setidaknya 24 survei di 11 negara Timur Tengah antara 21–31 Maret, mencakup 46 "objek" termasuk pangkalan militer AS, bandara, dan ladang minyak. Beberapa hari setelah disurvei, lokasi-lokasi ini menjadi sasaran rudal balistik dan drone Iran, membentuk pola serangan yang konsisten.
Sembilan survei dilakukan di Arab Saudi, termasuk lima kali di King Khalid Military City dekat Hafar Al-Batin, yang diduga untuk mendeteksi sistem pertahanan udara THAAD buatan AS.
Baca Juga: Afghanistan–Pakistan Catat Kemajuan dalam Perundingan Damai di China
Turki, Yordania, Kuwait, dan Uni Emirat Arab disurvei dua kali, sementara Israel, Qatar, Irak, Bahrain, dan Naval Support Facility Diego Garcia masing-masing satu kali. Satelit Rusia juga aktif memantau Selat Hormuz, jalur vital bagi sekitar 20% aliran minyak dan gas cair global, yang saat ini diblokade Iran untuk sebagian besar kapal.
Kanal Komunikasi Permanen
Penilaian Ukraina menyebut pertukaran citra satelit diatur melalui kanal komunikasi permanen antara Rusia dan Iran, kemungkinan dibantu oleh mata-mata militer Rusia yang ditempatkan di Teheran.
Misalnya, satelit Rusia memotret Prince Sultan Air Base di Arab Saudi beberapa hari sebelum Iran menyerang fasilitas itu pada 27 Maret, menghantam pesawat AWACS E-3 Sentry buatan AS. Satelit yang sama melintas lagi pada 28 Maret untuk menilai dampak serangan.
Kemitraan Strategis Rusia-Iran
Sejak invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, hubungan militer Rusia-Iran semakin dalam. Ukraina dan pihak Barat menyebut Iran memberikan drone serang jarak jauh Shahed ke Rusia untuk digunakan di Ukraina, sementara Rusia menandatangani Perjanjian Kemitraan Strategis Komprehensif dengan Iran pada Januari tahun lalu.
Pasal empat perjanjian tersebut mengatur pertukaran informasi dan pengalaman intelijen untuk memperkuat keamanan nasional dan menghadapi ancaman bersama.
Operasi Siber Bersama
Penilaian intelijen Ukraina dan sumber keamanan regional menyebut Rusia juga membantu Iran di ranah siber. Kelompok peretas Iran meningkat aktivitasnya sejak akhir Februari, menargetkan infrastruktur kritis dan perusahaan telekomunikasi di Teluk.
Kelompok Rusia seperti Z-Pentest Alliance, NoName057(16), dan DDoSia Project berinteraksi dengan peretas Iran Handala Hack melalui Telegram.
Misalnya, kelompok peretas Iran mempublikasikan peringatan serangan terhadap sistem informasi perusahaan energi Israel, sementara kelompok Rusia membagikan kredensial akses untuk mengendalikan infrastruktur kritis.
Baca Juga: Iran Serang Kompleks Petrokimia Saudi di Jubail, Balas Serangan AS-Israel
Beberapa teknik yang digunakan peretas Iran tampak diperoleh dari peretas militer Rusia, termasuk penggunaan penyedia VPS Rusia ProfitServer untuk registrasi domain.
Tanggapan Resmi
Juru bicara Gedung Putih menyatakan tidak ada dukungan eksternal terhadap Iran yang memengaruhi keberhasilan operasi militer AS. Kementerian Pertahanan Rusia dan Kementerian Luar Negeri Iran belum memberikan komentar.
Pemimpin Eropa sebelumnya menekan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengenai isu ini pada pertemuan G7 bulan lalu, tetapi tuduhan itu secara publik dibantah sebagai tidak signifikan.













