kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.577.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 16.846   28,00   0,17%
  • IDX 8.937   11,28   0,13%
  • KOMPAS100 1.229   2,00   0,16%
  • LQ45 868   0,40   0,05%
  • ISSI 324   0,94   0,29%
  • IDX30 440   -0,98   -0,22%
  • IDXHIDIV20 517   -1,78   -0,34%
  • IDX80 137   0,24   0,18%
  • IDXV30 144   -0,01   0,00%
  • IDXQ30 140   -0,81   -0,58%

Iran Bergejolak, Kripto Cari Jalan di Tengah Pemadaman Internet


Jumat, 09 Januari 2026 / 16:43 WIB
Iran Bergejolak, Kripto Cari Jalan di Tengah Pemadaman Internet
ILUSTRASI. FINTECH-CRYPTO/LEVERAGE (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Cointelegraph | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Akses internet di Iran diputus pemerintah sejak Kamis (8/1/2026) lalu di tengah meluasnya aksi protes akibat memburuknya kondisi ekonomi dan anjloknya nilai tukar rial ke level terendah sepanjang sejarah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Langkah ini memunculkan pertanyaan besar: apakah masyarakat Iran masih bisa menggunakan aset kripto?

Melansir data Cointelegraph Jumat (9/1/2026), berdasarkan data Statista, sekitar 7 juta orang dari total populasi Iran yang mencapai 92 juta jiwa diperkirakan merupakan pengguna kripto.

Baca Juga: Jepang Siapkan Aturan Baru, Investor Asing Bisa Dipaksa Jual Kepemilikan Saham

Sementara itu, firma analitik blockchain TRM Labs mencatat total aliran transaksi kripto di Iran mencapai sekitar US$3,7 miliar sepanjang Januari hingga Juli 2025.

Namun, pemadaman internet secara nasional membuat transaksi kripto menjadi jauh lebih sulit dilakukan.

Meski demikian, sejumlah teknologi yang sudah ada saat ini dinilai masih dapat membuka celah bagi penggunaan kripto di tengah keterbatasan akses jaringan.

Sejumlah pengamat dari luar negeri, termasuk CEO Bitwise Hunter Horsley, bahkan menyarankan pembelian Bitcoin sebagai alternatif penyimpan nilai (store of value) di tengah krisis mata uang dan tekanan ekonomi yang dialami Iran.

Baca Juga: Trump Katakan Tak Butuh Hukum Internasional di Tengah Kebijakan Agresif AS

Kripto Tanpa Internet, Mungkinkah?

Tanpa koneksi internet, masyarakat Iran akan menghadapi kendala besar untuk bertransaksi kripto. Namun, beberapa solusi teknologi dinilai bisa menjadi jalan keluar.

Salah satunya adalah layanan internet satelit Starlink milik Elon Musk, yang mampu menyediakan akses internet berkecepatan tinggi di wilayah tanpa infrastruktur jaringan konvensional.

Sejumlah pihak mendesak Musk untuk kembali mengaktifkan Starlink di Iran, seperti yang dilakukan saat pemadaman internet sebelumnya pada Juni 2025.

Baca Juga: Krisis Legitimasi Membayangi Penguasa Iran di Tengah Meluasnya Aksi Unjuk Rasa

Laporan yang belum terkonfirmasi menyebutkan Musk telah diam-diam menyetujui permintaan tersebut.

Selain itu, perusahaan infrastruktur Bitcoin, Blockstream, memiliki jaringan satelit yang mampu menyiarkan data Bitcoin ke seluruh dunia tanpa bergantung pada internet.

Melalui sistem ini, informasi transaksi Bitcoin dapat diterima secara satu arah dari satelit.

Starlink sendiri bekerja dengan sistem dua arah, menghubungkan antena pengguna ke satelit yang kemudian meneruskan data melalui laser dan stasiun bumi global.

Di sisi lain, sejumlah pengguna memanfaatkan layanan pesan terdesentralisasi milik Jack Dorsey bernama Bitchat.

Aplikasi ini menggunakan jaringan Bluetooth berbasis mesh untuk mengirim pesan antarponsel, termasuk data transaksi Bitcoin.

Meski begitu, tetap dibutuhkan setidaknya satu perangkat yang terhubung ke internet agar transaksi dapat dikonfirmasi dan dicatat di blockchain.

Baca Juga: Permintaan Emas Fisik di India Terbatas, China Malah Memborong

Data Chromestats menunjukkan Bitchat telah diunduh lebih dari 1,4 juta kali sejak diluncurkan.

Dalam 24 jam terakhir saja, unduhannya mencapai hampir 19.828 kali, sementara dalam sepekan terakhir menembus 460.724 unduhan.

Teknologi Kripto Offline Masih Dikembangkan

Selain solusi yang sudah tersedia, sejumlah alat lain juga tengah dikembangkan untuk memungkinkan penggunaan kripto secara offline.

Salah satunya adalah Darkwire, sebuah perangkat lunak yang memanfaatkan radio jarak jauh untuk membentuk jaringan mesh terdesentralisasi, sehingga data termasuk transaksi Bitcoin dapat dikirim tanpa internet.

Darkwire diperkenalkan oleh pengembang anonim bernama Cyb3r17 pada Mei 2025 dan saat ini masih menjalani penulisan ulang besar-besaran, menurut catatan di GitHub.

Baca Juga: Harga Minyak Menguat 2 Hari Beruntun Jumat (9/1): WTI ke US$58,52 per Barel

Meski demikian, seperti halnya solusi lain, Darkwire tetap memerlukan setidaknya satu perangkat yang terhubung ke internet agar transaksi bisa diverifikasi dan ditambahkan ke blockchain.

Sebelumnya, pada 2022, pengembang perangkat lunak asal Afrika Selatan, Kgothatso Ngako, juga memperkenalkan solusi bernama Machankura.

Alat ini memungkinkan pengguna mengirim dan menerima Bitcoin melalui ponsel tanpa koneksi internet, dengan memanfaatkan jaringan telekomunikasi seluler. Informasi tersebut dilaporkan Forbes pada Maret 2023 dan tercantum di situs resmi proyek.

Selanjutnya: Fenomena Sinkhole di Situjuah Batua: Apa Itu dan Mengapa Berbahaya?

Menarik Dibaca: Promo Guardian Super Hemat 8-21 Januari 2026, Tambah Rp 1.000 Dapat 2 Rexona Spray




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×