kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.610.000   -17.000   -0,65%
  • USD/IDR 17.575   -83,00   -0,47%
  • IDX 6.647   -38,95   -0,58%
  • KOMPAS100 872   -5,08   -0,58%
  • LQ45 661   -5,01   -0,75%
  • ISSI 233   -0,90   -0,39%
  • IDX30 368   -3,41   -0,92%
  • IDXHIDIV20 456   -3,09   -0,67%
  • IDX80 99   -0,68   -0,69%
  • IDXV30 127   -0,57   -0,45%
  • IDXQ30 118   -0,82   -0,69%

Iran Klaim Tangkap Kapal Selam Nirawak AS di Pintu Masuk Selat Hormuz


Rabu, 09 September 2026 / 11:26 WIB
Iran Klaim Tangkap Kapal Selam Nirawak AS di Pintu Masuk Selat Hormuz
ILUSTRASI. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menangkap sebuah kapal selam nirawak milik Amerika Serikat (AS) di pintu masuk Selat Hormuz (AFP/AFP)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menangkap sebuah kapal selam nirawak milik Amerika Serikat (AS) di pintu masuk Selat Hormuz. Insiden tersebut menjadi sorotan karena menunjukkan semakin berkembangnya penggunaan drone bawah laut dalam operasi militer.

Media pemerintah Iran melaporkan, kapal yang ditangkap tersebut merupakan Dive-LD, kendaraan bawah air otonom berukuran besar yang dikembangkan perusahaan pertahanan asal California, Anduril.

Dive-LD memiliki panjang sekitar 19 kaki atau 5,8 meter. Menurut keterangan perusahaan, kendaraan bawah laut tersebut dapat digunakan untuk berbagai misi, mulai dari penanggulangan ranjau laut, pemetaan dasar laut, pengumpulan informasi intelijen hingga pemeriksaan infrastruktur bawah laut seperti kabel dan jaringan pipa.

Angkatan Laut Garda Revolusi Iran mengatakan kendaraan tersebut berhasil diamankan ketika berada di sekitar pintu masuk Selat Hormuz.

Baca Juga: Adani Airports Raih Suntikan Modal US$1 Miliar dari Investor Global

"Kami menjebak salah satu kapal selam paling modern, cerdas, dan nirawak milik tentara Amerika yang merupakan teroris di pintu masuk Selat Hormuz. Kapal selam ini dilengkapi dengan teknologi terbaru," kata Angkatan Laut Garda Revolusi dalam pernyataan yang disiarkan media pemerintah Iran.

Namun, Pentagon memberikan versi berbeda mengenai insiden tersebut. Seorang juru bicara Pentagon mengatakan drone bawah laut yang dimaksud telah mengalami kerusakan lebih dari satu hari sebelum pernyataan Iran.

"Drone bawah laut tersebut mengalami malfungsi lebih dari satu hari yang lalu," ujar juru bicara Pentagon.

Menurut Pentagon, kendaraan tersebut digunakan untuk melakukan survei perairan regional sebagai bagian dari operasi yang sedang berlangsung.

"Drone tersebut sedang melakukan survei perairan regional untuk mendukung operasi yang sedang berlangsung. Drone yang rusak itu merupakan model lama yang tidak mengumpulkan data sensitif dan tidak membawa peralatan sonar atau radar rahasia," katanya.

Perusahaan pembuatnya, Anduril, juga mengonfirmasi kehilangan salah satu kendaraannya. Namun, perusahaan menilai kehilangan tersebut tidak secara otomatis menunjukkan adanya kegagalan besar dalam sistem.

Baca Juga: Ukraina Pesan Sekitar 1.000 Rudal Patriot, Perkuat Pertahanan Hadapi Serangan Rusia

"Dive-LD merupakan sistem otonom yang dapat dikorbankan, yang berarti sejak awal dirancang untuk beroperasi di lingkungan berbahaya, di mana kehilangan kendaraan merupakan kemungkinan yang telah diperhitungkan," kata juru bicara Anduril.

AS Perkuat Penggunaan Drone Bawah Laut

Insiden tersebut menunjukkan semakin pentingnya sistem nirawak dalam strategi militer AS, khususnya untuk operasi di wilayah laut yang luas dan berisiko tinggi.

Militer AS diketahui tengah meningkatkan investasi pada sistem angkatan laut nirawak, termasuk kendaraan permukaan dan bawah laut.

Teknologi tersebut dinilai dapat menjadi alternatif yang lebih murah untuk memantau wilayah laut yang sangat luas, mengumpulkan informasi intelijen serta melacak kapal dan kapal selam lawan tanpa menempatkan personel militer dalam risiko langsung.

Baca Juga: AS Larang Impor Minuman Beralkohol, Motor, dan Produk Susu dari Kanada

Penggunaan kendaraan bawah laut otonom juga memungkinkan operasi dilakukan dalam waktu lama tanpa harus mengerahkan kapal atau awak secara terus-menerus.

Berdasarkan informasi di situs Anduril, Dive-LD mampu beroperasi hingga 10 hari tanpa harus kembali ke pangkalan. Kendaraan tersebut juga dirancang untuk menyelam hingga kedalaman sekitar 6.000 meter atau 19.700 kaki.

Kemampuan tersebut membuat Dive-LD dapat digunakan untuk berbagai misi di lingkungan bawah laut, termasuk pengawasan, pemetaan, pencarian objek hingga pemeriksaan infrastruktur strategis.

Media militer AS DefenseScoop melaporkan pada 2024 bahwa satu unit Dive-LD memiliki harga sekitar US$2,5 juta.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×