Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - DUBAI/LONDON/WASHINGTON. Iran mulai menerapkan taktik baru untuk menyerang kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Langkah ini dilakukan untuk mempertahankan tingginya harga minyak dunia sekaligus memengaruhi hasil pemilihan paruh waktu Amerika Serikat (AS) pada November 2026.
Dua pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa strategi baru tersebut mulai diterapkan sekitar 10 hari sebelum laporan ini diterbitkan. Perubahan mencakup jenis dan intensitas serangan terhadap kapal yang dianggap melanggar pembatasan pelayaran yang diberlakukan Teheran.
Iran berupaya memperluas kendalinya atas Selat Hormuz sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap negara tersebut pada 28 Februari 2026. Jalur pelayaran strategis ini sebelumnya menjadi lintasan sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Pembatasan pelayaran serta ancaman dan serangan terhadap kapal telah memangkas lalu lintas di Selat Hormuz secara signifikan. Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak dunia, meskipun sebagian kapal tanker masih dapat melintasi jalur tersebut.
Baca Juga: Saham Chip Asia Bangkit Rabu (14/10), Pasar Menanti Data CPI AS
Kedua pejabat Iran tidak mengungkapkan secara terperinci bentuk taktik baru yang digunakan. Namun, salah satu pejabat menyebut perubahan strategi tersebut telah meningkatkan serangan terhadap kapal-kapal yang dinilai melanggar pembatasan Iran.
Strategi itu disebut sebagai bagian dari upaya Teheran untuk memengaruhi hasil pemilihan paruh waktu AS yang akan menentukan penguasaan Kongres.
"Tujuannya adalah menggagalkan upaya Amerika Serikat dan sekutunya untuk menurunkan harga minyak global," ujar salah satu pejabat senior Iran kepada Reuters.
Kedua pejabat tersebut mengatakan keputusan penerapan strategi baru telah diambil pada tingkat tertinggi kepemimpinan Iran dan dikoordinasikan secara menyeluruh di dalam sistem pemerintahan negara itu.
Iran Gunakan Kapal Kecil untuk Memantau Target
Seorang pejabat militer AS yang berbicara dengan syarat anonim mengonfirmasi bahwa Iran telah mengubah taktik dalam salah satu aspek penting. Setelah AS menghancurkan sebagian besar kemampuan radar Iran, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mulai menggunakan kapal-kapal kecil tanpa senjata untuk mengidentifikasi target potensial, termasuk kapal perang AS.
Pekan lalu, dalam sebuah insiden yang sebelumnya belum pernah dilaporkan, militer AS mendeteksi pengintai Iran yang beroperasi dari sebuah kapal dhow. Kapal tradisional tersebut diduga digunakan untuk menyampaikan informasi target kepada IRGC.
Pasukan AS kemudian menghadapi kapal itu, meminta para awaknya meninggalkan kapal, sebelum akhirnya menghancurkannya. Pejabat militer AS tersebut mengatakan tidak ada korban jiwa dalam insiden itu.
Menurut pejabat yang sama, Iran enggan mempertaruhkan sisa kapal cepatnya sehingga kesulitan mencegah peningkatan ekspor minyak melalui Selat Hormuz. Kondisi tersebut terjadi terutama setelah serangan AS menghancurkan sebagian besar kekuatan angkatan laut Iran.
Di sisi lain, perang dengan Iran dan biaya yang diperkirakan mencapai US$ 3 miliar per bulan telah menjadi isu penting dalam kampanye politik AS menjelang pemilihan paruh waktu pada November 2026.
Pemilihan tersebut akan menentukan partai yang menguasai Kongres AS. Presiden AS Donald Trump tengah mempertimbangkan langkah lanjutan terhadap Iran, tetapi sebelumnya menyatakan tidak akan kembali menyerang negara itu sebelum pemungutan suara berlangsung.
Sementara itu, AS terus memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan memperluas sanksi untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran. Washington berupaya mendorong Iran mencapai kesepakatan guna mengakhiri konflik.
Ketegangan di Selat Hormuz membuat pasar energi global semakin rentan terhadap gangguan pasokan. Ancaman serangan, tingginya biaya pengiriman, serta premi asuransi kapal menjadi hambatan bagi pemulihan aktivitas pelayaran secara normal.
Baca Juga: Trump Klaim Taiwan Setuju Beli 30% Gas dari Proyek Alaska, Detail Belum Jelas
Data independen menunjukkan serangan terhadap kapal komersial yang masih melintasi Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir mencapai tingkat tertinggi sejak perang dimulai.
Dalam 48 jam terakhir, sedikitnya lima insiden yang melibatkan kapal tanker dan kapal komersial lainnya dilaporkan terjadi di sekitar Selat Hormuz. Insiden tersebut termasuk serangan menggunakan pesawat nirawak atau drone.
Informasi itu berasal dari analisis sumber keamanan maritim dan laporan insiden kepada United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), lembaga yang berafiliasi dengan Angkatan Laut Inggris.
Jumlah insiden tersebut kurang lebih menyamai frekuensi serangan pada 3-5 Oktober 2026. Data Organisasi Maritim Internasional (IMO), badan pelayaran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), juga mengindikasikan adanya eskalasi baru.
"Intensitas serangan meningkat, dan hal ini tampaknya disengaja," ujar salah satu sumber keamanan maritim kepada Reuters.
Iran Perluas Serangan ke Teluk Oman
Selain meningkatkan intensitas serangan, Teheran berencana memperluas wilayah operasinya hingga ke Teluk Oman dan perairan yang lebih jauh di luar Selat Hormuz.
Analisis sumber keamanan maritim berdasarkan laporan kepada UKMTO dan perusahaan keamanan maritim di kawasan tersebut menunjukkan bahwa perluasan wilayah serangan kemungkinan sudah mulai berlangsung.
Dalam beberapa hari terakhir, kapal-kapal dilaporkan menjadi sasaran di sejumlah wilayah di luar Selat Hormuz, termasuk perairan di lepas pantai Qatar dan Uni Emirat Arab (UEA).
Pejabat senior Iran lainnya menegaskan bahwa Teheran tidak akan membiarkan Trump menurunkan harga minyak menjelang pemilihan paruh waktu AS pada November mendatang.
"Tepat ketika mereka berpikir sudah semakin dekat dengan titik ketika harga akan turun, kami akan menjauhkan mereka dari titik itu. Ini adalah permainan catur," ujar pejabat tersebut.
Ia juga memperingatkan bahwa kapal-kapal yang dianggap melanggar pembatasan Iran tidak akan aman meskipun berada di luar Selat Hormuz.
"Kapal-kapal semacam itu tidak akan aman di mana pun, bahkan di luar Selat Hormuz," tambahnya.
Hingga laporan Reuters diterbitkan, Pentagon dan Kementerian Luar Negeri Iran belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
Baca Juga: Glencore Debut di Bursa Australia, Bidik Investor di Tengah Tren Tembaga
Iran Isyaratkan Penutupan Total Selat Hormuz
Kedua pejabat Iran mengatakan Teheran bergerak menuju kondisi ketika tidak ada kapal yang melanggar pembatasan Iran dapat melintasi Selat Hormuz.
"Penutupan total akan segera terjadi," ujar salah satu pejabat tersebut.
Pernyataan itu menambah kekhawatiran terhadap kelancaran perdagangan energi global, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis bagi distribusi minyak dan LNG dunia.
Dalam laporan terbarunya pada Minggu, Pusat Informasi Maritim Gabungan (JMIC) yang dipimpin Angkatan Laut AS menyatakan ancaman terhadap pelayaran kapal dagang di Selat Hormuz masih berada pada tingkat "parah", yakni tingkat ancaman tertinggi kedua dalam klasifikasinya.
JMIC menyebut serangan, upaya serangan, dan tindakan intimidasi oleh IRGC masih berlangsung. Aktivitas tersebut mencakup penerbangan pesawat nirawak di atas kapal, pengawasan terarah terhadap kapal dagang, serta komunikasi melalui radio frekuensi sangat tinggi (VHF) untuk memanggil atau memperingatkan kapal.
Eskalasi tersebut berpotensi memperpanjang gangguan terhadap rantai pasok energi global. Jika pembatasan pelayaran semakin ketat dan serangan meluas, risiko terhadap pengiriman minyak, biaya logistik, serta stabilitas harga energi dunia dapat meningkat.














