Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia bergerak naik pada awal pekan ini, didorong belum tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang membuat pasokan global tetap terbatas.
Mengutip Reuters, Senin (4/5), harga minyak mentah Brent naik 67 sen atau 0,6% ke level US$ 108,84 per barel pada pukul 04.00 GMT, setelah sempat turun US$ 2,23 pada perdagangan Jumat lalu.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga menguat 65 sen atau 0,6% menjadi US$ 102,59 per barel, setelah sebelumnya terkoreksi US$ 3,13.
Baca Juga: Biodiesel B15 Resmi Meluncur Juni, Malaysia Andalkan Sawit Redam Harga Energi
Analis Phillip Nova Priyanka Sachdeva menyatakan bahwa pasar minyak masih ditopang oleh gangguan pasokan yang persisten serta ketidakpastian geopolitik.
“Selama belum ada penyelesaian yang jelas dan berkelanjutan yang dapat memulihkan arus distribusi melalui Selat Hormuz, harga minyak kemungkinan akan tetap tinggi, bahkan berpotensi naik lebih lanjut,” ujarnya.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa pemerintahannya akan membantu kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz.
Namun demikian, harga minyak tetap bertahan di atas US$ 100 per barel karena belum ada kesepakatan damai dan lalu lintas pengiriman di jalur strategis tersebut masih terbatas.
Negosiasi antara AS dan Iran juga masih berlangsung sepanjang akhir pekan, dengan kedua pihak terus menelaah respons masing-masing.
Baca Juga: Selat Hormuz Kian Panas: AS Turun Tangan, Iran Siap Balas
Trump menjadikan kesepakatan nuklir dengan Teheran sebagai prioritas. Namun, Iran menginginkan pembahasan isu nuklir ditunda hingga perang berakhir dan blokade terhadap pengiriman di Teluk dapat dicabut.
Di sisi lain, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) menyatakan akan meningkatkan target produksi sebesar 188.000 barel per hari pada Juni untuk tujuh negara anggota. Ini merupakan kenaikan produksi untuk bulan ketiga berturut-turut.
Meski demikian, tambahan pasokan tersebut diperkirakan belum akan berdampak signifikan selama konflik Iran masih mengganggu distribusi minyak dari kawasan Teluk, khususnya melalui Selat Hormuz.













