Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia melonjak Senin (20/4/2026). Sementara pasar saham global bergerak fluktuatif pada awal pekan ini seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang membuat arus pelayaran di kawasan Teluk nyaris terhenti.
Gencatan senjata dalam konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang dijadwalkan berakhir Selasa (22/4) kini berada di ujung ketidakpastian, setelah AS menyita kapal kargo Iran dan Teheran mengancam akan melakukan pembalasan.
Iran juga kembali memberlakukan penutupan de facto Selat Hormuz jalur vital yang menangani sekitar 20% pengiriman minyak global.
Meski demikian, data Kpler menunjukkan lebih dari 20 kapal masih sempat melintasi selat tersebut pada Sabtu, menjadi aktivitas tersibuk sejak awal Maret.
Melansir Reuters, harga minyak mentah Brent melonjak sekitar 6% ke level US$ 96 per barel pada perdagangan awal Asia. Di saat yang sama, Dolar AS juga menguat dari posisi terendah sebelumnya.
Di pasar ekuitas, kontrak berjangka indeks S&P 500 turun sekitar 0,7%, meskipun indeks tersebut baru saja mencetak rekor penutupan tertinggi pada Jumat lalu.
Bursa Asia-Pasifik bergerak variatif, dengan indeks S&P/ASX 200 melemah 0,5%, sementara Nikkei 225 justru naik 0,7%.
Pasar obligasi yang sebelumnya menguat juga mengalami koreksi. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik menjadi 4,276% setelah sempat turun tajam pada sesi sebelumnya.
Strategis pasar menilai meski tensi meningkat, pelaku pasar masih menyimpan harapan tercapainya kesepakatan damai.
“Kedua pihak pada akhirnya tetap ingin mencapai kesepakatan, sehingga pasar tidak jatuh terlalu dalam,” ujar Damien Boey dari Wilson Asset Management.
Namun demikian, fokus utama investor saat ini tertuju pada stabilitas jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Analis menilai jumlah kapal yang melintas di kawasan tersebut menjadi indikator utama risiko geopolitik.
Kepala strategi makro pasar BNY Bob Savage mengatakan bahwa perhatian pasar kini lebih terfokus pada dampak gangguan pasokan energi terhadap inflasi global.
“Perundingan damai tetap penting, tetapi dalam jangka pendek pasar lebih mencermati risiko kekurangan pasokan yang dapat mendorong inflasi,” ujarnya.













