kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.908   -1,00   -0,01%
  • IDX 6.004   77,69   1,31%
  • KOMPAS100 779   13,19   1,72%
  • LQ45 600   10,52   1,78%
  • ISSI 208   2,42   1,18%
  • IDX30 334   5,47   1,67%
  • IDXHIDIV20 428   5,96   1,41%
  • IDX80 89   1,54   1,76%
  • IDXV30 117   1,43   1,23%
  • IDXQ30 109   1,43   1,33%

Trump Klaim Taiwan Setuju Beli 30% Gas dari Proyek Alaska, Detail Belum Jelas


Rabu, 14 Oktober 2026 / 09:02 WIB
Trump Klaim Taiwan Setuju Beli 30% Gas dari Proyek Alaska, Detail Belum Jelas
ILUSTRASI. Donald Trump (REUTERS/Jonathan Ernst)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan Taiwan telah sepakat membeli 30% gas alam dari proyek pembangunan pipa gas di Alaska. Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam sebuah kampanye di Alaska pada Selasa (13/10/2026).

Namun, detail kesepakatan tersebut belum diungkapkan secara jelas. Kementerian Urusan Ekonomi Taiwan juga belum memberikan komentar terkait pernyataan Trump.

Kesepakatan ini sejalan dengan rencana Taiwan untuk meningkatkan pembelian gas alam dari AS dan mengurangi ketergantungan pada pemasok dari negara lain.

Baca Juga: Glencore Debut di Bursa Australia, Bidik Investor di Tengah Tren Tembaga

Pada Februari lalu, pejabat Taiwan menyatakan bahwa pemerintah berencana meningkatkan porsi pembelian gas alam AS menjadi sekitar sepertiga dari total impor gas negara tersebut pada 2026.

Perusahaan energi milik negara Taiwan, CPC Corp, sebelumnya telah menandatangani kesepakatan dengan Alaska Gasline Development Corp untuk membeli gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) sekaligus berinvestasi dalam proyek pipa gas di Alaska.

Saat kesepakatan tersebut diumumkan, Presiden Taiwan Lai Ching-te mengatakan investasi itu akan membantu menjamin keamanan energi pulau tersebut.

Proyek Alaska LNG dirancang untuk mengangkut gas alam dari wilayah North Slope di Alaska melalui jaringan pipa menuju fasilitas pencairan gas di bagian selatan negara bagian tersebut. Dari sana, LNG akan dikirim ke pasar, termasuk negara-negara Asia.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Rabu (14/10), Konflik Houthi-Arab Saudi Picu Kekhawatiran

Proyek ini menjadi salah satu upaya AS memperluas ekspor energi ke Asia, sementara negara-negara pengimpor berusaha mendiversifikasi sumber pasokan di tengah ketidakpastian geopolitik dan risiko gangguan distribusi energi.

Meski demikian, kepastian volume pembelian, nilai investasi, serta ketentuan komersial kesepakatan yang disampaikan Trump masih belum diketahui.




TERBARU

[X]
×