Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim perundingan antara mediator dan Hamas di Kairo telah menghasilkan "kesepakatan bersejarah" menuju pelucutan senjata penuh Hamas.
Namun, keberhasilan rencana tersebut masih dipertanyakan karena Israel menyatakan proposal yang diajukan belum memenuhi tuntutannya.
Baca Juga: Apple Beri Outlook Penjualan di Bawah Ekspektasi, Saham Turun 5,5%
Melalui unggahan di media sosial pada Kamis (30/7/2026), Trump mengatakan kesepakatan tersebut akan dijalankan secara bertahap.
"Kesepakatan ini merupakan langkah penting agar Gaza pada akhirnya dapat diperintah oleh pemerintahan Palestina yang baru, yang akan bekerja sama dengan Dewan Perdamaian untuk membantu rakyat Palestina," tulis Trump.
Ia menambahkan, Israel juga akan memperoleh jaminan keamanan karena Gaza tidak lagi digunakan sebagai basis serangan.
Meski demikian, Kedutaan Besar Israel di Washington maupun Hamas belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan Trump tersebut.
Sebelumnya, sumber yang mengetahui jalannya perundingan di Kairo mengatakan negosiasi memang menunjukkan kemajuan. Namun, keberlanjutan kesepakatan itu sangat bergantung pada respons Israel.
Seorang pejabat Israel yang enggan disebutkan namanya menegaskan pemerintah Israel telah menolak proposal tersebut.
"Israel menuntut pelucutan senjata Hamas secara menyeluruh, termasuk penghapusan seluruh persenjataan dari Gaza dan demiliterisasi penuh wilayah itu sebagai prasyarat bagi proses apa pun," kata pejabat tersebut.
Menurutnya, dokumen berisi 15 poin yang sedang dibahas belum memberikan jawaban memadai atas tuntutan tersebut sehingga Israel telah menyampaikan keberatannya.
Baca Juga: Setelah UEFA, CONCACAF Juga Tolak Proposal FIFA Jual Saham Turnamen
Peta Jalan Pelucutan Senjata Hamas
Perundingan di Kairo melibatkan mediator dari Mesir, Qatar, dan Turki bersama para pemimpin Hamas. Mereka membahas tahap kedua rencana perdamaian Gaza yang diajukan pemerintahan Trump.
Seorang diplomat yang dekat dengan proses negosiasi mengatakan pembahasan mengarah pada peta jalan yang mencakup penghentian seluruh penggunaan senjata berat maupun ringan di Gaza.
Rencana tersebut meliputi peningkatan bantuan kemanusiaan, pembentukan pemerintahan sipil Palestina, pelucutan senjata Hamas, penarikan pasukan Israel dari Gaza, serta pengerahan pasukan internasional untuk menjaga keamanan.
Namun, proses negosiasi sempat berulang kali mengalami kebuntuan dalam beberapa bulan terakhir.
Baca Juga: BOJ Akan Pertahankan Suku Bunga, Beri Sinyal Hawkish Karena Pemerintah Menopang Yen
Penyerahan Senjata Masih Jadi Hambatan
Seorang pejabat Hamas mengatakan kelompok tersebut datang ke perundingan dengan respons yang "positif dan baik".
Namun, ia tidak menjelaskan apakah Hamas telah menyetujui pelucutan senjata secara penuh, yang selama empat bulan terakhir menjadi isu paling sulit disepakati.
Hamas tetap menginginkan komitmen Israel untuk menghentikan serangan ke Gaza dan menarik seluruh pasukannya.
Sumber yang dekat dengan Hamas mengatakan kelompok itu bersedia menyimpan dan mengendalikan senjata berat di bawah lembaga Palestina, tetapi bukan menyerahkannya kepada Israel.
Belum jelas bagaimana nasib senjata ringan maupun senjata pribadi dalam rancangan kesepakatan tersebut.
Diplomat yang terlibat dalam perundingan mengatakan kewenangan pemerintahan Gaza juga akan dialihkan secara bertahap kepada National Committee for the Administration of Gaza (NCAG) yang didukung AS, dengan prinsip "satu otoritas, satu hukum, satu senjata".
Peta jalan itu juga mencakup penghancuran terowongan, gudang senjata, dan fasilitas produksi persenjataan sehingga pada akhir proses tidak ada lagi infrastruktur militan yang tersisa di Gaza.
Baca Juga: Trump Perintahkan Pembatasn Ekspor Limbah Mineral Penting
Serangan Masih Berlanjut
Di tengah upaya diplomatik tersebut, situasi di lapangan masih jauh dari stabil.
Otoritas kesehatan Gaza menyebut sedikitnya enam warga Palestina, termasuk dua anak-anak, tewas akibat serangan Israel pada Kamis. Militer Israel mengatakan serangan tersebut menargetkan anggota Hamas.
Menurut otoritas kesehatan Gaza, lebih dari 1.200 warga Palestina, sebagian besar warga sipil, telah tewas akibat serangan Israel sejak gencatan senjata mulai berlaku.
Sementara itu, empat tentara Israel dilaporkan tewas dalam serangan kelompok militan di Gaza selama periode yang sama.














