Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - SAN FRANCISCO/NEW YORK. Presiden Amerika Serikat Donald Trump membanggakan kinerja pasar saham dalam pidato kenegaraan (State of the Union) pada Selasa (24/2/2026).
Dalam pidatonya, Trump menyoroti lonjakan indeks saham serta menjanjikan kontribusi pemerintah untuk tabungan pensiun pekerja, namun tidak banyak memberikan kepastian terkait arah kebijakan tarif dan perdagangan global yang selama ini memicu kegelisahan di Wall Street.
Trump menyebut, sejak memenangkan masa jabatan keduanya pada November 2024, pasar saham telah mencatatkan 53 rekor tertinggi baru. Ia menegaskan bahwa performa positif tersebut turut mendorong kenaikan nilai dana pensiun masyarakat, khususnya melalui akun 401(k), instrumen tabungan pensiun yang populer di Amerika Serikat.
“Karena pasar saham berkinerja sangat baik dan mencetak berbagai rekor, 401(k) Anda juga meningkat tajam,” ujar Trump dalam pidatonya.
Janji Kontribusi Pemerintah untuk 401(k)
Selain menyoroti reli pasar saham, Trump juga mengumumkan rencana pemerintah mulai tahun depan untuk menyamai (matching) kontribusi karyawan hingga US$1.000 per orang bagi pekerja yang tidak memiliki akses ke program pensiun dengan kontribusi pemberi kerja. Namun, ia belum merinci mekanisme maupun sumber pendanaan kebijakan tersebut.
Baca Juga: Trump Buka Opsi Serangan ke Iran, Tak Akan Biarkan Teheran Miliki Senjata Nuklir
Menurut Jake Dollarhide, CEO Longbow Asset Management di Tulsa, Oklahoma, langkah pemerintah mendanai kontribusi tabungan pensiun berpotensi mendorong aliran dana tambahan ke pasar saham, sehingga bisa menopang kenaikan indeks di masa mendatang.
Investor Tunggu Kepastian Soal Tarif
Meski Trump memuji capaian pasar saham, sejumlah analis menilai pidato tersebut belum menjawab kekhawatiran investor terkait kebijakan tarif.
“Orang-orang mungkin berharap ada kejelasan lebih tegas soal tarif, dan saya tidak yakin itu sudah kita dapatkan,” kata Karen Jorritsma, Kepala Ekuitas Australia di RBC Capital Markets, Sydney.
Ketidakpastian kebijakan perdagangan AS memang menjadi salah satu faktor yang membayangi pasar dalam beberapa bulan terakhir. Selain isu valuasi tinggi pada saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI), investor juga menghadapi gejolak akibat perubahan kebijakan tarif.
Pekan lalu, Mahkamah Agung AS membatalkan tarif yang diberlakukan Trump berdasarkan kewenangan darurat. Sebagai respons, Trump menandatangani perintah baru yang menetapkan tarif 10% selama 150 hari sebagai pengganti bea masuk luas yang dibatalkan pengadilan. Sehari setelahnya, ia menyatakan akan menaikkan tarif tersebut menjadi 15%.
Baca Juga: Trump Klaim “Zaman Keemasan Amerika” di Pidato Kenegaraan, Ekonomi Jadi Sorotan
Dalam pidatonya, Trump mengatakan “hampir semua” negara dan perusahaan ingin tetap mematuhi perjanjian tarif dan investasi yang telah disepakati sebelumnya dengan Amerika Serikat.
Kinerja S&P 500 dan Respons Pasar
Sejak pelantikan Trump pada Januari 2025, indeks acuan S&P 500 tercatat naik sekitar 13% dalam 400 hari pertama masa jabatannya. Namun, sepanjang 2026, penguatan indeks tersebut relatif terbatas, di tengah kinerja pasar saham internasional yang lebih unggul dan pelemahan dolar AS ke level terendah sejak 2022.
Secara historis, pidato kenegaraan presiden AS jarang berdampak signifikan terhadap pergerakan pasar keuangan. Agenda tersebut umumnya menjadi ajang bagi presiden petahana untuk memaparkan pencapaian dan garis besar kebijakan, ketimbang menyampaikan kebijakan rinci yang langsung memengaruhi sentimen pasar.
Bagi pelaku pasar, arah kebijakan tarif dan stabilitas perdagangan global tetap menjadi faktor kunci yang akan menentukan pergerakan Wall Street dalam beberapa bulan mendatang.













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)