kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.981   -32,00   -0,18%
  • IDX 5.876   131,22   2,28%
  • KOMPAS100 765   20,79   2,79%
  • LQ45 582   16,29   2,88%
  • ISSI 204   4,37   2,19%
  • IDX30 329   8,59   2,68%
  • IDXHIDIV20 406   11,61   2,94%
  • IDX80 87   2,30   2,72%
  • IDXV30 110   2,89   2,69%
  • IDXQ30 106   3,06   2,97%

Kembali recall 110.000 unit mobil membuat reputasi Toyota kian merosot


Kamis, 30 Juni 2011 / 11:44 WIB
ILUSTRASI. Gerai pusat belanja Transmart Carrefour milik Trans Ritel di Cikokol Tangerang, Jawa Barat, Jumat (9/1). KONTAN/Cheppy A. Muchlis/09/01/2015


Sumber: BBC | Editor: Rizki Caturini

TOKYO. Produsen mobil terbesar dunia, Toyota Motor Corp. menarik kembali (recall) peredaran mobil hibrida buatannya sebanyak 110.000 unit. Hal ini terkait adanya kekhawatiran timbulnya masalah dalam sistem pasokan listrik.

Dalam pernyataannya, Toyota recall dua jenis mobil Highlander hybrid dan Lexus RX400h secara global. Masalah uang timbul di kedua jenis mobil ini adalah mesin tiba-tiba mati karena masalah listrik yang bisa membuat sekring meledak.

Dalam 18 bulan terakhir, Toyota telah menarik kembali hampir 12 juta kendaraannya. Recall terakhir terjadi di AS, Jepang dan Eropa serta beberapa unit di Kanada, Australia dan Korea Selatan.

Para analis otomotif berpendapat, ekspansi Toyota yang sangat aktif membuat perusahaan ini menjadi agak longgar terhadap sistem kontrol kualitas produk. Awalnya Toyota hanya sebuah merek otomotif lokal di Jepang, kemudian berkembang menjadi merek dunia. Toyota pun dituntut untuk bisa meningkatkan produksi seiring meningkatnya permintaan pasar global.

Akibatnya, perusahaan ini harus membangun pabrik perakitan di seluruh dunia yang menyebabkan Toyota tak mampu menjaga standar kualitas yang ditetapkan. Reputasi Toyota pun melorot.

Misalnya di AS, penjualan Toyota pada 2010 mengalami penurunan. Mereka telah kehilangan reputasinya. "Toyota tidak bisa mengelak ataupun menyembunyikannya" ujar Viviek Vaidya, analis Frost&Sullivan.











TERBARU

[X]
×