kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Kendalikan Selat Hormuz: Senjata Iran Lebih Dahsyat dari Nuklir?


Sabtu, 04 April 2026 / 08:22 WIB
Kendalikan Selat Hormuz: Senjata Iran Lebih Dahsyat dari Nuklir?
ILUSTRASI. Laporan intelijen AS ungkap kendali Iran atas Selat Hormuz jadi daya ungkit terkuat. (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), yang kalah persenjataan, telah menggunakan berbagai taktik untuk membuat transit komersial melalui jalur tersebut menjadi terlalu berbahaya atau tidak bisa diasuransikan sejak Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melancarkan perang pada 28 Februari.

Mulai dari menyerang kapal sipil dan menyebar ranjau hingga menuntut biaya lintasan, Iran secara efektif telah memblokir lalu lintas melalui selat itu. Akibatnya, harga minyak dunia melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun dan menyebabkan kelangkaan bahan bakar di negara-negara yang bergantung pada minyak dan gas dari Teluk.

Kenaikan biaya energi berisiko memicu inflasi di AS, menjadi beban politik bagi Trump saat ia menghadapi angka survei yang buruk dan Partai Republik bersiap menghadapi pemilu paruh waktu Kongres pada November.

Laporan intelijen terbaru memperingatkan bahwa Iran kecil kemungkinan akan melepaskan daya ungkit tersebut dalam waktu dekat, menurut tiga sumber tadi. Mereka menolak menjelaskan lembaga mana yang menyusun penilaian itu.

“Sudah jelas bahwa setelah Iran merasakan kekuatan dan pengaruhnya atas selat itu, mereka tidak akan segera melepaskannya,” kata salah satu sumber. Ketiganya meminta anonimitas untuk membahas laporan intelijen tersebut.

Risiko Operasi Militer

Banyak pakar mengatakan bahwa operasi militer untuk membuka kembali jalur tersebut mengandung risiko besar. Jalur itu memisahkan Iran dan Oman. Lebarnya hanya 21 mil (33 km) pada titik tersempit, tetapi jalur pelayaran hanya sekitar 2 mil (3 km) di masing-masing arah, sehingga kapal dan pasukan menjadi target yang mudah.

Bahkan jika pasukan AS merebut pantai selatan Iran dan pulau-pulaunya, IRGC masih dapat menyerang dan tetap mengendalikan jalur tersebut dengan drone dan rudal yang diluncurkan dari wilayah pedalaman Iran, menurut para ahli.

“Hanya butuh satu atau dua drone untuk mengganggu lalu lintas dan membuat kapal-kapal enggan melintas,” kata Vaez.

Beberapa pakar juga mengatakan bahwa bahkan setelah perang, Iran kecil kemungkinan akan menyerahkan kemampuannya mengatur lalu lintas di selat itu, karena Iran perlu membangun kembali negaranya, dan memungut biaya lintasan kapal komersial bisa menjadi salah satu cara mengumpulkan dana rekonstruksi.

Tonton: Jembatan Raksasa Iran Runtuh Usai Ancaman Zaman Batu Trump, Teheran Balas Rudal ke Israel!

"Teheran akan berupaya mempertahankan daya ungkit yang mereka temukan kembali dengan mengganggu lalu lintas di selat itu," kata mantan Direktur CIA Bill Burns dalam podcast majalah Foreign Affairs pada Kamis.

Menurut Burns, Iran akan berupaya menggunakan kemampuannya mencekik jalur tersebut untuk memperoleh “pencegahan jangka panjang dan jaminan keamanan” dalam kesepakatan damai dengan AS, serta memperoleh “manfaat material langsung” seperti memungut biaya lintasan guna mendanai pemulihan pascaperang.

“Itulah yang menciptakan negosiasi yang sangat sulit saat ini,” kata Burns.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×