Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Pergerakan dolar Amerika Serikat (AS) cenderung datar pada perdagangan Senin (20/7/2026), di tengah sikap hati-hati investor yang mencermati eskalasi konflik antara AS dan Iran. Sementara itu, pound sterling menguat tipis menjelang pemerintahan baru di Inggris.
Melansir Reuters, indeks dolar AS (US Dollar Index), yang mengukur pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, tercatat stabil di level 100,78.
Baca Juga: Hamas Tunjuk Khalil Al-Hayya sebagai Pemimpin Baru Gantikan Yahya Sinwar
Sentimen pasar masih dipengaruhi perkembangan konflik di Timur Tengah. Garda Revolusi Iran pada Senin menyatakan telah menyerang sejumlah aset militer AS di kawasan tersebut setelah serangan udara terbaru Washington ke sejumlah kota di Iran.
Konflik yang terus berlanjut ini mengganggu pasokan energi global dan memicu kekhawatiran terhadap kenaikan inflasi.
Kepala Riset Makro Monex Europe Nick Rees menilai, pasar mulai terbiasa dengan berbagai risiko yang muncul dari konflik tersebut.
"Pasar kini lebih nyaman dengan berbagai risiko yang telah diperhitungkan. Selama tidak ada perkembangan yang benar-benar mengejutkan, volatilitas akibat konflik di Timur Tengah kemungkinan tidak akan meningkat tajam," ujarnya.
Menurut Rees, konflik tersebut tetap membuat investor berhati-hati, tetapi belum cukup untuk memicu gejolak besar di pasar keuangan.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent berada di US$ 88,43 per barel, setelah sebelumnya sempat menembus level US$ 90 per barel.
Baca Juga: Serangan Iran-AS Meluas, Pelayaran Teluk dan Pasokan Air Terancam
Pound menguat, pasar menanti menteri keuangan baru Inggris
Euro bergerak stabil di US$ 1,1432, sementara pound sterling naik 0,1% menjadi US$ 1,3466 setelah Andy Burnham resmi menggantikan Keir Starmer sebagai Perdana Menteri Inggris.
Pelaku pasar kini menantikan siapa yang akan ditunjuk Burnham sebagai menteri keuangan di tengah kondisi fiskal Inggris yang dinilai cukup menantang.
Pada pekan lalu, aset-aset Inggris mendapat sentimen positif setelah muncul laporan bahwa posisi tersebut kemungkinan akan diisi oleh Shabana Mahmood, yang dipandang lebih moderat dibanding kandidat lainnya.
Kepala Pasar Global ING Chris Turner memperkirakan, penguatan sterling masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek.
"Meski pound masih berpeluang menguat pada awal pemerintahan Burnham, kondisi fiskal Inggris yang ketat membuat pemerintah baru kemungkinan harus menaikkan pajak jika ingin merealisasikan berbagai program belanja publik," ujarnya.
Baca Juga: Bulgaria Minta Restu Parlemen untuk Tempatkan Pesawat Tanker Militer AS
Pasar perkirakan The Fed tetap tahan suku bunga
Di Asia, dolar AS melemah 0,14% terhadap yuan offshore menjadi 6,7688 setelah Bank Sentral China mempertahankan suku bunga acuan pinjaman (Loan Prime Rate/LPR) untuk bulan ke-14 berturut-turut, sesuai ekspektasi pasar.
Sementara itu, dolar AS bergerak datar di level 162,39 yen di tengah tipisnya volume perdagangan karena Jepang memperingati hari libur Marine Day.
Pelaku pasar juga masih memperkirakan Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan 29 Juli mendatang.
Berdasarkan FedWatch Tool milik CME Group, probabilitas The Fed menahan suku bunga mencapai 85,6%, meningkat dibanding sekitar 61,5% sebulan lalu.
Meski demikian, sejumlah pejabat bank sentral AS mulai membuka peluang kenaikan suku bunga jika tekanan inflasi kembali meningkat.
Presiden Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack, pada Jumat lalu menilai suku bunga mungkin masih perlu dinaikkan untuk mengendalikan inflasi yang bertahan tinggi.
Pernyataan tersebut menambah ekspektasi bahwa perdebatan mengenai arah kebijakan moneter akan semakin mengemuka pada rapat The Fed berikutnya.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
