Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - DUBAI/KAIRO. Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali terlibat dalam eskalasi konflik setelah Garda Revolusi Iran melancarkan serangan terhadap sejumlah aset militer AS di Timur Tengah pada Senin (20/7/2026).
Serangan tersebut terjadi setelah gelombang baru pemboman Amerika terhadap beberapa kota di Iran, yang semakin menghancurkan kesepakatan gencatan senjata sementara di antara kedua negara.
Ketegangan yang meningkat memicu gangguan baru terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi energi terpenting di dunia. Harga minyak dunia sempat melonjak menembus US$90 per barel seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global.
Presiden AS Donald Trump membela operasi militer terbaru Washington sebagai bentuk balasan atas kematian personel militer Amerika dalam serangan Iran. Namun, langkah tersebut memicu tekanan politik di dalam negeri akibat melonjaknya harga bahan bakar.
Konflik juga meluas ke infrastruktur sipil setelah fasilitas desalinasi atau pengolahan air laut menjadi air bersih menjadi sasaran serangan. Kondisi ini meningkatkan risiko krisis air di sejumlah negara Teluk yang sangat bergantung pada fasilitas tersebut untuk memenuhi kebutuhan air minum jutaan penduduk.
Baca Juga: Di Balik Putusan FDA untuk ZYN, Klaim Risiko Lebih Rendah Bukan Berarti Produk Aman
Meski kedua negara terus saling melancarkan serangan, baik Teheran maupun Washington memberi sinyal bahwa peluang untuk kembali ke meja perundingan masih terbuka.
Trump mengatakan serangan terbaru AS dilakukan "untuk menghormati para patriot hebat", merujuk pada hingga tiga personel militer Amerika yang tewas dalam serangan Iran beberapa waktu terakhir.
Iran Klaim Dua Kapal Tanker Meledak di Selat Hormuz
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan dua kapal tanker minyak mengalami ledakan dan tidak dapat melanjutkan pelayaran setelah mencoba melintasi Selat Hormuz melalui rute yang disebut "tidak aman".
Sehari sebelumnya, IRGC menyebut dua kapal terlibat dalam sebuah "insiden" di kawasan yang sama. Namun, belum dapat dipastikan apakah kedua peristiwa tersebut saling berkaitan.
Reuters belum dapat memverifikasi klaim tersebut secara independen. IRGC juga tidak mengungkap identitas kapal maupun kemungkinan korban.
Secara terpisah, badan maritim Inggris, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), melaporkan sebuah kapal terkena proyektil tak dikenal di lepas pantai Oman yang menghadap Selat Hormuz. Kapal tersebut dilaporkan masih terombang-ambing di laut, tetapi seluruh awak dinyatakan selamat.
Baca Juga: Bulgaria Minta Restu Parlemen untuk Tempatkan Pesawat Tanker Militer AS
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut serangan udara yang dilakukan selama sembilan malam berturut-turut terhadap Iran bertujuan untuk "melemahkan" kemampuan Teheran dalam menyerang kapal-kapal dagang yang melintasi jalur pelayaran strategis tersebut.
Serangan Meluas ke Sejumlah Kota Iran dan Pangkalan AS
Media semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan rudal-rudal AS menghantam beberapa kota Iran pada Senin dini hari.
Ledakan dilaporkan terjadi di Tabriz, Chabahar, Konarak, Bandar Mahshahr, dan Bandar Imam Khomeini. Kantor berita pemerintah Iran, IRNA, melaporkan satu orang tewas dan beberapa lainnya terluka di wilayah barat daya Tabriz.
IRGC menyatakan pihaknya menargetkan pesawat militer AS di Bandara Aqaba, Yordania, menggunakan rudal balistik. Selain itu, Iran juga mengklaim menyerang fasilitas militer AS di Kamp Al-Adiri dan Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait, serta sejumlah posisi militer di Suriah.
Kementerian Dalam Negeri Bahrain melaporkan sirene peringatan berbunyi pada Senin pagi. Sementara itu, militer Kuwait menyatakan berhasil mencegat drone-drone yang disebut berasal dari serangan Iran.
Fasilitas Desalinasi Jadi Target Baru Konflik
Pemerintah Kuwait menyatakan sebuah fasilitas desalinasi kembali diserang pada Minggu (19/7/2026) untuk hari kedua berturut-turut. Serangan tersebut menyebabkan kebakaran dan disebut sebagai serangan langsung terhadap infrastruktur sipil vital.
Fasilitas desalinasi memasok sebagian besar kebutuhan air minum di negara-negara Teluk dan melayani puluhan juta penduduk di salah satu kawasan paling kering di dunia.
Baca Juga: Serangan Rudal Rusia terhadap Kapal Pengangkut Jagung di Odesa Tewaskan 10 Orang
Iran sebelumnya menuduh AS menyerang salah satu fasilitas desalinasi miliknya pada Sabtu (18/7/2026). Teheran juga berulang kali menyatakan akan menargetkan fasilitas serupa di negara-negara Teluk sebagai balasan atas serangan AS terhadap infrastruktur energi Iran.
Namun, Washington belum mengonfirmasi tuduhan bahwa militernya menyerang fasilitas pengolahan air milik Iran.
AS dan Iran Masih Membuka Peluang Diplomasi
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan Washington akan terus menyerang Iran selama Teheran tetap mengganggu jalur perdagangan internasional.
"Selama Iran bersikeras mengendalikan jalur perairan internasional, kami harus merespons hal tersebut. Amerika Serikat selalu terbuka terhadap solusi diplomatik," kata Rubio.
Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Iran juga mengisyaratkan bahwa Teheran belum menutup peluang untuk kembali menempuh jalur diplomasi meskipun konflik semakin memanas.
"Diplomasi adalah alat yang kami gunakan untuk memperjuangkan kepentingan nasional, sama seperti perang," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei.
Baghaei juga mengatakan Menteri Dalam Negeri Iran dijadwalkan menggelar pembicaraan di Pakistan pada Senin. Pakistan diketahui menjadi mediator utama antara Teheran dan Washington sejak konflik pecah, meski Baghaei menegaskan kunjungan tersebut berfokus pada isu bilateral.
Konflik yang dimulai sejak AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari dengan tujuan melumpuhkan program nuklir dan rudal Teheran serta melemahkan kelompok-kelompok sekutunya telah menewaskan ribuan orang, terutama di Iran dan Lebanon.
Baca Juga: Domino's Pizza Kembali Bukukan Kinerja di Bawah Estimasi, Ini Penyebabnya
Harga Bensin di AS Naik, Trump Hadapi Tekanan Politik
Harga bensin di AS pada Senin melampaui US$4 per galon, level yang dianggap membebani keuangan rumah tangga Amerika. Harga bahan bakar sebelumnya sempat turun di bawah angka tersebut pada Juni, setelah AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik.
Kenaikan harga energi ini berpotensi memicu reaksi negatif pemilih terhadap Partai Republik menjelang pemilihan anggota Kongres AS pada November mendatang.
Militer AS menyatakan dua personelnya tewas di Yordania pada Jumat lalu, sementara seorang lainnya masih dinyatakan hilang. Pada Minggu, CENTCOM mengungkapkan bahwa "sisa-sisa jenazah yang belum teridentifikasi" telah ditemukan di lokasi serangan dan proses identifikasi masih berlangsung.
Trump menegaskan operasi militer terhadap Iran telah mencapai hasil yang diinginkan.
"Iran telah mengalami kerusakan yang sangat, sangat besar. Kami mengendalikan selat itu. Mereka tidak mengendalikan apa pun. Namun, malam ini kami kembali menyerang mereka dengan sangat keras. Dan kami melakukan itu untuk menghormati para patriot hebat — kemungkinan tiga orang, bukan dua," kata Trump.













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
