kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.633.000   -8.000   -0,30%
  • USD/IDR 18.135   100,00   0,55%
  • IDX 5.912   39,07   0,67%
  • KOMPAS100 769   5,82   0,76%
  • LQ45 587   4,49   0,77%
  • ISSI 203   0,67   0,33%
  • IDX30 333   2,19   0,66%
  • IDXHIDIV20 411   0,93   0,23%
  • IDX80 88   0,82   0,94%
  • IDXV30 111   0,16   0,14%
  • IDXQ30 107   0,26   0,24%

Iran Klaim Serang Fasilitas Militer AS di Kawasan Teluk, Ketegangan Kembali Memanas


Jumat, 10 Juli 2026 / 05:53 WIB
Iran Klaim Serang Fasilitas Militer AS di Kawasan Teluk, Ketegangan Kembali Memanas
ILUSTRASI. Krisis Timur Tengah - Rudal Iran (via REUTERS/IRANIAN STATE TV)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Iran mengklaim telah melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat (AS) di kawasan Teluk pada Kamis (9/7/2026).

Serangan tersebut dilakukan sebagai balasan atas serangan udara AS ke wilayah pesisir selatan dan provinsi timur Iran sehari sebelumnya, sehingga semakin memperburuk gencatan senjata yang baru berlangsung sekitar tiga pekan.

Baca Juga: Mbappe Cetak Gol ke-20 Piala Dunia, Prancis Singkirkan Maroko dan Lolos ke Semifinal

Media Iran juga melaporkan terjadi sejumlah ledakan di wilayah selatan negara itu, termasuk di Bushehr yang menjadi lokasi salah satu pembangkit listrik tenaga nuklir Iran. Ledakan juga dilaporkan terjadi di Konarak, Choghadak, dan Bandar Abbas.

Seorang pejabat AS mengatakan tidak ada serangan udara Amerika dalam beberapa jam terakhir.

Eskalasi terbaru terjadi ketika Iran menggelar pemakaman Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei di kota suci Mashhad.

Prosesi tersebut menutup rangkaian upacara dan aksi berkabung yang berlangsung selama sepekan.

Menurut narasi Reuters dalam skenario ini, Khamenei tewas dalam serangan udara pada hari pertama perang, 28 Februari, yang memicu konflik berkepanjangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Baca Juga: Harga Emas Naik Lebih dari 1% Kamis (9/7), Dibayangi Eskalasi Konflik di Timur Tengah

Konflik tersebut telah menewaskan ribuan orang serta mengganggu pasokan energi global.

Gencatan senjata yang sempat tercapai kembali runtuh setelah awal pekan ini terjadi serangan terhadap kapal-kapal milik Qatar dan Arab Saudi.

Presiden AS Donald Trump kemudian menyatakan bahwa gencatan senjata telah "berakhir".

Meski demikian, seorang pejabat AS lainnya mengatakan Washington masih berkomitmen mencari penyelesaian diplomatik dengan Iran dan pembicaraan teknis antara kedua pihak masih terus berlangsung.

Di tengah prosesi pemakaman Khamenei, ribuan pelayat memadati kompleks makam di Mashhad. Sebagian peserta membawa spanduk yang mengecam Presiden Trump.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Ditutup Anjlok 2% Kamis (9/7), di Tengah Kekhawatiran Inflasi

Selat Hormuz kembali menjadi pusat ketegangan

Korps Garda Revolusi Iran menyatakan serangan AS serta intervensi terhadap lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz telah menghambat proses pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut.

Iran mengklaim jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz di bawah pengawasannya kini telah pulih menjadi sekitar 50% dibandingkan sebelum perang.

Namun, izin melintas hanya diberikan kepada kapal yang menggunakan jalur pelayaran yang ditetapkan Teheran.

Garda Revolusi juga memperingatkan setiap intervensi militer AS berikutnya akan dibalas dengan respons yang "menghancurkan".

Baca Juga: IMF Sambut Evaluasi Strategi Komunikasi Kebijakan Moneter The Fed

Di sisi lain, militer AS menyatakan operasi mereka bertujuan menjaga Selat Hormuz tetap terbuka setelah menuduh pasukan Iran menyerang tiga kapal tanker di kawasan tersebut.

Militer AS mengklaim telah membantu pengawalan lebih dari 800 kapal niaga dan sekitar 380 juta barel minyak mentah melewati Selat Hormuz sejak awal Mei. Washington juga menegaskan Iran tidak menguasai jalur pelayaran internasional tersebut.

Meski konflik meningkat, harga minyak dunia justru turun pada Kamis setelah sebelumnya sempat melonjak akibat kekhawatiran gangguan pasokan global.

Iran klaim serang fasilitas militer AS

Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) sebelumnya menyatakan telah menyerang sekitar 90 target militer Iran, termasuk sistem pertahanan udara, fasilitas pengawasan pesisir, serta gudang rudal dan drone.

Presiden Donald Trump mengatakan serangan tersebut merupakan balasan atas serangan Iran terhadap kapal-kapal di kawasan.

Baca Juga: Wall Street Dibuka Menguat, Saham Chip Redam Kekhawatiran Konflik AS-Iran

"Ini adalah pembalasan atas pengeboman kapal-kapal oleh Iran kemarin. Jika itu terjadi lagi, responsnya akan jauh lebih keras," tulis Trump melalui platform Truth Social.

Media pemerintah Iran melaporkan serangan AS pada 8-9 Juli menewaskan 14 orang dan melukai 78 lainnya di lima provinsi.

Kantor berita Fars menyebut salah satu serangan menghantam jembatan rel kereta yang digunakan untuk perdagangan dengan Rusia dan China.

Seorang pejabat setempat juga mengatakan sebuah proyektil AS menghantam area perimeter fasilitas nuklir Bushehr, meskipun tidak disebutkan adanya kerusakan pada instalasi utama.

Sebagai balasan, militer Iran mengklaim telah menyerang sistem pertahanan udara Patriot milik AS di Kuwait, fasilitas peringatan dini di Qatar, serta depot bahan bakar militer AS di Bahrain.

Pemerintah Kuwait menyatakan pasukannya berhasil mencegat satu rudal jelajah, tiga rudal balistik, dan 10 drone yang memasuki wilayah udaranya. Satu orang dilaporkan mengalami luka akibat serpihan rudal.

Sirene peringatan juga berbunyi di Yordania setelah rudal yang diluncurkan Iran terdeteksi memasuki wilayah udara negara tersebut.

Otoritas Yordania mengatakan delapan rudal berhasil dicegat tanpa menimbulkan korban maupun kerusakan.

Garda Revolusi Iran kemudian mengklaim telah menembakkan 10 rudal balistik ke pangkalan militer Azraq di Yordania yang digunakan pasukan AS, serta ke pusat komando militer AS di Timur Tengah.

Baca Juga: Bandara Palm Beach Resmi Berganti Nama Menjadi Donald J. Trump

Seruan kembali ke jalur diplomasi

Qatar, yang menjadi tuan rumah pangkalan militer terbesar AS di kawasan, mengecam serangan terhadap kapal-kapal komersial sekaligus menyerukan semua pihak kembali ke jalur diplomasi.

Menteri Luar Negeri Turki dan Oman juga menyampaikan pentingnya menghindari eskalasi militer lebih lanjut dalam pembicaraan terpisah dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi.

Dalam percakapan dengan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Araqchi mengecam kebijakan yang disebutnya sebagai "politik penghasut perang" Amerika Serikat.

Baca Juga: El Nino Berpotensi Sangat Kuat, Ancam Produksi Pangan dan Picu Cuaca Ekstrem Global

Sebelum konflik pecah, sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Jalur pelayaran itu kini kembali menjadi titik krusial dalam ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menegaskan Selat Hormuz hanya akan dibuka kembali sesuai pengaturan Iran, bukan melalui tekanan dari Amerika Serikat.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×