Ketegangan dengan China terus berlanjut, AS bakal batasi visa bagi karyawan Huawei

Kamis, 16 Juli 2020 | 16:43 WIB Sumber: South China Morning Post
Ketegangan dengan China terus berlanjut, AS bakal batasi visa bagi karyawan Huawei

ILUSTRASI. Logo Huawei. Ketegangan dengan China terus berlanjut, AS bakal batasi visa bagi karyawan Huawei. REUTERS/Rodrigo Garrido/File Photo


KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Pemerintah Amerika Serikat bermaksud untuk memberlakukan pembatasan visa pada karyawan tertentu dari raksasa telekomunikasi China yakni Huawei.

Tak pelak, hal ini akan memberikan tekanan lebih lanjut pada perusahaan setelah Inggris mengumumkan rencana untuk menghentikan penggunaan peralatan perusahaan tersebut dari jaringan 5G di Inggris.

Baca Juga: Inggris kerahkan kapal induk baru ke Pasifik gabung AS dan Jepang lawan China

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan pihaknya menargetkan karyawan Huawei dan kemungkinan perusahaan teknologi Cina lainnya karena peran mereka dalam memungkinkan pelanggaran hak asasi manusia di dalam dan luar negeri.

"Inggris bergabung dengan Amerika Serikat dan sekarang banyak negara demokrasi lainnya menjadi negara-negara bebas dari vendor 5G yang tidak dipercaya," kata Pompeo.

"Departemen Luar Negeri akan memberlakukan pembatasan visa pada karyawan tertentu dari perusahaan teknologi China seperti Huawei yang memberikan dukungan material kepada rezim yang terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia dan pelanggaran global," ujar dia.

Pompeo membuat pernyataan sehari setelah Presiden AS Donald Trump menandatangani Undang-Undang Otonomi Hong Kong dan perintah eksekutif yang akan menghapus status perdagangan preferensial Hong Kong. 

Baca Juga: Uber Freight dikabarkan akan dapat investasi sebesar US$ 500 juta

Perintah itu mengikuti tekad Pompeo pada bulan Mei bahwa China telah merongrong otonomi Hong Kong sampai tingkat yang memerlukan respons kebijakan pemerintah.

Washington telah mencabut akses preferensi Hong Kong ke pengecualian lisensi ekspor yang membatasi kota ini dari pengiriman teknologi sensitif dari AS sebagai tanggapan terhadap undang-undang keamanan nasional China yang kontroversial.

Editor: Tendi Mahadi
Tag

Terbaru