Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, mengawasi langsung peluncuran rudal balistik pada Minggu (19/4/2026) sebagai bagian dari upaya menguji efektivitas hulu ledak baru yang membawa bom tandan dan ranjau fragmentasi.
Media pemerintah Korea Utara, Korean Central News Agency (KCNA), melaporkan pada Senin bahwa uji coba tersebut bertujuan mengevaluasi daya hancur dan performa hulu ledak baru pada rudal taktis balistik jarak pendek Hwasong-11 Ra.
Peluncuran ini menjadi uji coba rudal balistik keempat Korea Utara sepanjang April dan ketujuh sepanjang tahun 2026. Langkah tersebut menunjukkan ambisi Pyongyang untuk terus memperkuat kemampuan rudal dan nuklirnya meskipun bertentangan dengan resolusi United Nations Security Council.
KCNA menyebut lima rudal Hwasong-11 Ra diluncurkan ke arah zona target di sebuah pulau sejauh sekitar 136 kilometer. Rudal-rudal tersebut menghantam area sekitar 12,5 hingga 13 hektare dengan kepadatan tinggi, yang menurut laporan menunjukkan kemampuan sistem untuk melakukan serangan penekanan secara terfokus.
Baca Juga: Thailand Siapkan Utang Baru US$ 15,6 miliar untuk Hadapi Tekanan Ekonomi
Korea Selatan sebelumnya melaporkan bahwa rudal-rudal itu ditembakkan dari dekat kota Sinpo di pantai timur Korea Utara menuju laut sekitar pukul 06.10 pagi waktu setempat. Kantor kepresidenan Korea Selatan mendesak Pyongyang menghentikan “provokasi” semacam itu.
Seorang juru bicara Kementerian Unifikasi Korea Selatan menyatakan terdapat kehadiran yang tidak biasa dari sejumlah komandan unit garis depan dalam uji coba tersebut. Hal ini dikaitkan dengan niat Kim untuk memperkuat daya tangkal terhadap Korea Selatan melalui perluasan penempatan rudal taktis.
Hubungan antara Korea Utara dan Korea Selatan masih dibayangi ketegangan karena secara teknis kedua negara masih berada dalam kondisi perang setelah Perang Korea berakhir hanya dengan perjanjian gencatan senjata, bukan perjanjian damai.
KCNA melaporkan Kim menyatakan puas dengan hasil uji coba tersebut dan menyebutnya sebagai bukti bahwa penelitian bertahun-tahun oleh tim khusus pengembangan hulu ledak rudal tidak sia-sia. Ia juga meminta para ilmuwan pertahanan untuk terus mengembangkan teknologi guna memperkuat kesiapan tempur militer.
Foto-foto yang dirilis KCNA memperlihatkan Kim didampingi putrinya, yang diyakini bernama Ju Ae, saat menyaksikan peluncuran bersama sejumlah pejabat militer. Kehadiran Ju Ae dalam sejumlah uji senjata belakangan ini semakin memunculkan spekulasi bahwa ia tengah dipersiapkan sebagai penerus Kim.
Baca Juga: Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Mulai Meningkat, Termasuk Pengiriman ke Indonesia
Sebelumnya bulan ini, Korea Utara juga menguji hulu ledak bom tandan baru pada rudal balistik serta senjata elektromagnetik. Langkah tersebut dinilai para analis sebagai upaya Pyongyang menunjukkan kapasitasnya untuk berperang dengan teknologi modern.
Pemerintah Inggris mengecam peluncuran rudal balistik terbaru Korea Utara dan mendesak negara tertutup itu untuk terlibat dalam diplomasi yang lebih bermakna.
Profesor dari Kyungnam University, Lim Eul-chul, menilai uji coba tersebut menunjukkan niat Pyongyang untuk menyerang dengan tingkat presisi lebih tinggi, jangkauan lebih luas, dan daya hancur lebih besar.
Menurutnya, jika rudal-rudal itu ditempatkan lebih dekat ke garis depan, maka Seoul dan pangkalan militer utama Korea Selatan maupun Amerika Serikat akan berada dalam jangkauan.
Konflik yang berlangsung antara AS dan Israel melawan Iran dalam tujuh pekan terakhir juga dinilai memperkuat ambisi Korea Utara untuk terus mengembangkan program rudal dan nuklirnya.
Pada akhir Maret lalu, Kim menegaskan status Korea Utara sebagai negara bersenjata nuklir tidak dapat diubah dan perluasan “daya tangkal nuklir defensif” menjadi bagian penting dari keamanan nasional negara tersebut.













