kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45991,94   -3,77   -0.38%
  • EMAS988.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.20%
  • RD.CAMPURAN 0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.12%

Kim Jong Un Menghadapi Dilema Besar, Menelan Harga Diri atau Menolak Bantuan?


Kamis, 19 Mei 2022 / 09:39 WIB
Kim Jong Un Menghadapi Dilema Besar, Menelan Harga Diri atau Menolak Bantuan?
ILUSTRASI. Pada saat kasus yang diduga Covid-19 membuat ratusan ribu rakyatnya sakit, Kim menghadapi dilema besar. KCNA via REUTERS 


Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - SEOUL. Selama lebih dari satu dekade memimpin Korea Utara, Kim Jong Un terkenal sangat mandiri. Bahkan dia menjadikan kemandirian sebagai kunci utama pemerintahannya.

Mengutip AP, Kim menghindari bantuan internasional dan sebagai gantinya berjuang untuk menjalankan strategi domestik dalam memperbaiki ekonominya yang babak belur.

Akan tetapi, pada saat kasus yang diduga Covid-19 membuat ratusan ribu rakyatnya sakit, Kim menghadapi dilema besar.

Menelan harga dirinya dan menerima bantuan asing untuk memerangi penyakit itu, atau melakukannya sendiri. Jika Kim memilih yang terakhir, dia harus menanggung potensi kematian besar yang dapat merusak kepemimpinannya.

“Kim Jong Un berada dalam dilema, dilema yang sangat besar,” kata Lim Eul-chul, seorang profesor di Institut Studi Timur Jauh Universitas Kyungnam di Seoul kepada AP

Baca Juga: Sambut Kunjungan Biden ke Asia, Korea Utara Bakal Uji Coba Rudal dan Nuklir

“Jika dia menerima bantuan AS atau Barat, itu dapat menggoyahkan sikap kemandirian yang telah dia pertahankan dengan teguh dan kepercayaan publik kepadanya dapat melemah.”

Namun, tidak melakukan apa-apa bisa menjadi bencana.

Sejak mengakui wabah Covid-19 pekan lalu, Korea Utara mengatakan “demam yang menyebar secara eksplosif” telah menewaskan 56 orang dan membuat sakit sekitar 1,5 juta lainnya. 

Pengamat luar menduga sebagian besar kasus itu disebabkan oleh virus corona.

Apa pun yang dikatakan media yang dikontrol pemerintah Korea Utara tentang mereka yang sakit, wabah itu kemungkinan jauh lebih buruk dari yang dilaporkan. 

Alasannya, Korea Utara tidak memiliki alat tes Covid-19 yang memadai, dan para ahli mengatakan itu secara signifikan mengecilkan angka kematian untuk menghindari kemungkinan kerusuhan publik yang dapat merugikan Kim secara politik.

Baca Juga: Kim Jong Un Kecam Penanganan Negaranya terhadap Wabah Covid-19

Melansir Reuters yang mengutip media pemerintah KCNA, Korea Utara melaporkan 232.880 lebih banyak orang dengan gejala demam, dan enam kematian lagi setelah negara itu mengungkapkan wabah COVID-19 pekan lalu. Tidak disebutkan berapa banyak orang yang dites positif terkena virus corona.

Namun Korea Utara juga mengatakan situasi virus negara itu mulai berbalik arah menjadi lebih baik, dan menambahkan pertemuan partai membahas bagaimana mempertahankan peluang bagus di bidang pencegahan epidemi secara keseluruhan.

Laporan itu tidak merinci atas dasar apa Korea Utara sampai pada penilaian positif seperti itu. Negara ini belum memulai vaksinasi massal dan memiliki kemampuan pengujian yang terbatas.

Baca Juga: Bisa Picu Krisis Kemanusiaan, Korea Utara di Ambang Bencana Covid-19

Kondisi tersebut membuat banyak ahli khawatir Korea Utara mungkin akan kesulitan untuk menilai seberapa luas dan cepat penyakit ini menyebar.

Menurut KCNA, Korea Utara telah mendorong untuk lebih menangani pengumpulan, pengangkutan, dan pengujian spesimen dari orang-orang yang demam, sambil memasang fasilitas karantina tambahan.

Seorang juru bicara kantor hak asasi manusia PBB mengatakan pada hari Selasa bahwa langkah-langkah yang diambil oleh Pyongyang untuk memerangi Covid-19 dapat memiliki konsekuensi "menghancurkan" bagi hak asasi manusia di negara itu, karena pembatasan untuk mengekang virus dapat membatasi orang untuk mendapatkan kebutuhan dasar, seperti cukup makanan dan bertemu dengan orang lain. 

Korea Selatan telah menawarkan untuk mengirim pasokan medis, termasuk vaksin, masker dan alat tes, serta kerja sama teknis ke Korea Utara. Namun hingga saat ini Pyongyang belum menanggapinya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Financial Modeling & Corporate Valuation Fundamental Supply Chain Planner Development Program (SCPDP)

[X]
×