kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.713.000   -20.000   -0,73%
  • USD/IDR 17.977   -53,00   -0,29%
  • IDX 5.899   152,04   2,65%
  • KOMPAS100 781   21,64   2,85%
  • LQ45 585   16,10   2,83%
  • ISSI 202   5,19   2,64%
  • IDX30 332   9,75   3,02%
  • IDXHIDIV20 406   7,99   2,01%
  • IDX80 88   2,18   2,54%
  • IDXV30 111   2,35   2,16%
  • IDXQ30 106   1,87   1,80%

Kondisi Pasar Buruk, Qantas Tunda Gelar IPO


Rabu, 24 September 2008 / 11:45 WIB
ILUSTRASI. TAJUK - Hendrika Yunapritta


Sumber: Bloomberg | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

SYDNEY. Qantas Airways Ltd. memutuskan untuk menunda rencananya menawarkan saham perdana atau initial public offering (IPO) dari saham minoritas pada unit program penerbangan (frequent flyer). Pasar yang sedang bergejolak menjadi alasan utama dari penundaan tersebut.

Sejatinya, Qantas merencanakan untuk melakukan IPO pada tahun ini. Namun, dalam pernyataan resminya kepada Bursa Australia, maskapai penerbangan terbesar Australia itu akhirnya menunda pelaksanaan IPO hingga semester I 2009.

Menurut JPMorgan Chase & Co, maskapai tersebut berencana melepas sekitar 40% dari program kesetiaan pelanggan. Dari hajatan tersebut, Qantas menargetkan mampu meraup dana sebesar A$ 2 miliar atau setara dengan US$ 1,7 miliar.

Asal tahu saja, melalui program kesetiaan tersebut, Qantas dapat menghimpun dana dengan menjual poin pelanggan kepada sejumlah perusahaan mulai dari perusahaan kartu kredit, hotel dan pedagang retail. Sebagai gantinya, Qantas akan memberikan reward kepada pelanggannya dengan poin-poin yang dapat dipilih jika mereka menggunakan jasa layanan Qantas.  

Maskapai penerbangan lain juga sudah menjual sebagian saham mereka dari program frequent flyer serupa. Induk Air Canada, ACE Aviation Holdings Inc misalnya, sudah menjual sahamnya pada program reward pelanggan penerbangan pada 2005 silam. Program tersebut, memiliki nilai empat kali lipat lebih tinggi dari nilai Air Canada.

Sekadar informasi, sepanjang tahun ini, saham Qantas sudah anjlok sebesar 40%. Penurunan  tersebut dua kali lipat lebih rendah dari S&P/ASX 200 Index. Sementara itu, kenaikan harga bahan bakar avtur sebesar 34% dibanding tahun lalu juga memaksa Qantas untuk memangkas jumlah karyawan dan jumlah rute penerbangan. Tujuannya tak lain untuk meningkatkan keuntungan.

 

 


Berita Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×