kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   -20.000   -0,75%
  • USD/IDR 18.125   38,00   0,21%
  • IDX 6.038   113,48   1,92%
  • KOMPAS100 788   17,25   2,24%
  • LQ45 602   13,12   2,23%
  • ISSI 207   3,32   1,63%
  • IDX30 341   7,10   2,13%
  • IDXHIDIV20 423   9,63   2,33%
  • IDX80 90   2,01   2,29%
  • IDXV30 114   2,10   1,87%
  • IDXQ30 109   1,94   1,81%

Konflik AS-Iran Memanas, Selat Hormuz Ditutup dan Harga Minyak Dunia Melonjak


Senin, 13 Juli 2026 / 19:02 WIB
Konflik AS-Iran Memanas, Selat Hormuz Ditutup dan Harga Minyak Dunia Melonjak
ILUSTRASI. Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat setelah kedua negara saling melancarkan serangan rudal dan drone (REUTERS/Stringer)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - DUBAI/WASHINGTON. Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat setelah kedua negara saling melancarkan serangan rudal dan drone sepanjang akhir pekan hingga Senin (13/7/2026).

Eskalasi konflik tersebut memicu lonjakan harga minyak dunia seiring penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi pasokan energi global.

Pemerintah Iran menyatakan telah menyerang sejumlah fasilitas militer AS di kawasan Teluk Persia dan mempertahankan penutupan Selat Hormuz. Situasi ini memperbesar kekhawatiran pasar terhadap terganggunya distribusi minyak dan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) dunia.

Korps Garda Revolusi Iran pada Senin mengumumkan bahwa mereka telah menargetkan fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait, menghancurkan sistem radar di Oman, serta menyerang tangki bahan bakar dan gudang amunisi di Pangkalan Udara Pangeran Hassan di Yordania. Serangan tersebut disebut sebagai respons atas operasi militer AS terhadap Iran.

Di sisi lain, militer AS menyatakan telah menyerang sistem pertahanan udara Iran, radar pesisir, kemampuan rudal dan drone, serta kapal-kapal kecil Iran pada Minggu (12/7). Operasi itu melibatkan pesawat tempur, kapal perang, dan drone.

Ledakan juga dilaporkan terjadi di kota pelabuhan Bandar Abbas yang berada di Selat Hormuz dan Pulau Qeshm di sekitarnya. Kantor berita semi-resmi Mehr melaporkan insiden tersebut berdasarkan keterangan warga setempat. Namun, Reuters belum dapat memverifikasi laporan tersebut secara independen.

Baca Juga: Trump Raih Cuan Jumbo dari Kripto, Mayoritas Dana Masuk Saham dan Obligasi

Bahrain mengklaim sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat dan menghancurkan sejumlah rudal dan drone Iran pada Senin dini hari.

Perjanjian AS-Iran Kian Dipertanyakan

Rangkaian serangan terbaru menunjukkan peningkatan tajam baik dari sisi intensitas maupun jangkauan geografis dalam sepekan terakhir. Kondisi ini menimbulkan keraguan terhadap efektivitas perjanjian sementara antara AS dan Iran yang ditandatangani bulan lalu.

Kesepakatan tersebut sebelumnya bertujuan membuka kembali Selat Hormuz dan menghentikan permusuhan selama kedua negara menjalani 60 hari negosiasi lanjutan.

Dalam wawancara singkat dengan Reuters pada Minggu, Presiden AS Donald Trump menyinggung serangan akhir pekan terhadap Iran.

"Kami sedang menghajar mereka," kata Trump.

Trump juga menyatakan bahwa dirinya menganggap gencatan senjata telah berakhir, meski tetap membuka peluang untuk melanjutkan perundingan.

Nada serupa disampaikan negosiator utama Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, melalui unggahannya di platform X pada Minggu.

"Era kesepakatan sepihak telah berakhir. Kami sudah memperingatkan: tepati janji Anda atau tanggung konsekuensinya. Kenyataan sedang mengetuk pintu," tulis Qalibaf.

Perang yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari telah mengguncang stabilitas kawasan Teluk dan meluas ke berbagai negara di Timur Tengah. Iran diketahui menyerang pangkalan militer AS di sejumlah negara.

Harga Minyak Naik Akibat Penutupan Selat Hormuz

Penguasaan Selat Hormuz kini menjadi salah satu titik utama konflik. Jalur perairan tersebut sebelumnya dilalui sekitar seperlima pengiriman minyak dan LNG dunia.

Blokade efektif Iran atas Selat Hormuz telah mendorong kenaikan harga energi dan memicu kekhawatiran terhadap meningkatnya inflasi global.

Baca Juga: Uni Eropa Luncurkan Bantuan US$ 1 Miliar untuk Pemulihan Gaza

Harga minyak mentah Brent naik lebih dari 2% pada perdagangan Senin akibat kekhawatiran terganggunya salah satu rute pengiriman energi terpenting di dunia. Meski demikian, harga masih berada di bawah puncak yang sempat tercapai pada awal konflik.

Kenaikan harga energi, terutama bensin, menjadi isu sensitif secara politik bagi Presiden Trump menjelang pemilihan anggota Kongres AS pada November mendatang.

Konflik yang berlangsung telah menewaskan ribuan orang, terutama di Iran dan Lebanon. Kantor berita semi-resmi Iranian Students' News Agency melaporkan satu orang tewas dan tujuh lainnya terluka akibat serangan udara AS pada Senin pagi.

Iran belum merilis jumlah korban secara keseluruhan akibat serangan terbaru dalam sepekan terakhir. Namun, laporan media pemerintah dan pernyataan resmi terkait sejumlah insiden menunjukkan sekitar 20 orang tewas akibat serangan terbaru AS.

Iran Upayakan Kesepakatan dengan Oman

Korps Garda Revolusi Iran menyatakan satu-satunya cara untuk memulihkan lalu lintas pelayaran normal di Selat Hormuz adalah menghentikan intervensi militer AS di kawasan tersebut.

Mereka juga memperingatkan bahwa "campur tangan yang berkelanjutan dapat memicu insiden yang lebih besar di sektor minyak dan gas global."

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan Teheran tengah berupaya membentuk mekanisme bersama dengan Oman untuk mengelola lalu lintas di Selat Hormuz. Menurutnya, tekanan AS terhadap Oman telah menghambat proses pembahasan.

Setelah mengumumkan penutupan jalur pelayaran itu pada Sabtu menyusul apa yang disebut sebagai pelayaran tanpa izin, Iran pada Minggu menegaskan bahwa Selat Hormuz masih ditutup dan izin pelayaran baru akan diberikan setelah "stabilitas dan ketenangan" kembali tercipta.

Iran juga berupaya menerapkan sistem biaya dan perizinan permanen bagi kapal-kapal yang melintasi jalur tersebut.

Di sisi lain, AS menegaskan pasukannya tetap bersiaga untuk menjamin kebebasan navigasi di kawasan itu, meskipun menghadapi apa yang disebut Washington sebagai "agresi, intimidasi, ancaman, dan deklarasi sepihak" dari Iran.

Baca Juga: China Akan Dorong Konsumsi, Targetkan Penjualan Ritel US$ 8,85 Triliun pada 2030

"Iran tidak menguasai selat tersebut. Lalu lintas pelayaran tetap berjalan," tegas pemerintah AS.

Pejabat AS menyebut sekitar 20 kapal telah dikawal melintasi Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir. Namun, data pelacakan kapal menunjukkan aktivitas pelayaran masih minim.

Perusahaan pelacak kapal MarineTraffic melaporkan bahwa aktivitas kapal di Selat Hormuz turun sekitar 52% pada periode 10–12 Juli dibandingkan pekan sebelumnya.

Pusat Informasi Maritim Gabungan yang dipimpin Angkatan Laut AS juga kembali mengingatkan bahwa, meski ancaman keamanan meningkat tajam, jalur alternatif di bagian selatan dekat Oman masih dapat digunakan untuk pelayaran dua arah.

Pada Sabtu, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa pasukan AS telah menyerang ratusan target militer Iran sepanjang pekan lalu untuk "mengurangi kemampuan Iran menyerang pelaut sipil dan kapal komersial yang melintasi selat secara bebas."

Sementara itu, Garda Revolusi Iran mengklaim telah menghancurkan pusat kendali dan hanggar drone di Yordania, menargetkan lokasi radar dan sistem peluncur roket AS di Kuwait, menyerang fasilitas pendukung kapal induk AS di Oman, serta menghancurkan pusat perawatan jet tempur di Qatar.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×