Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - KUALA LUMPUR. Kenaikan harga minyak mentah dan tarif pengiriman yang lebih tinggi, yang dipicu oleh konflik Timur Tengah dapat meningkatkan permintaan minyak sawit dari sektor biodiesel dan untuk penggunaan pangan.
Para pejabat industri mengatakan kepada Reuters, Senin (9/3/2026), kondisi ini terjadi lantaran pembeli Asia menginginkan pengiriman segera.
Produksi Indonesia dan Malaysia meningkat ke rekor tertinggi pada tahun 2025, meningkatkan stok dan menekan harga. Namun, konflik tersebut tiba-tiba membuat minyak sawit menarik bagi industri biodiesel, mendorong harga ke level tertinggi dalam lebih dari setahun.
Baca Juga: Lonjakan Harga Minyak Picu Gejolak Pasar Global, Obligasi Dunia Tertekan
"Minyak sawit sekarang diperdagangkan dengan diskon besar dibandingkan gasoil, dengan selisih harga saat ini cukup menguntungkan untuk meningkatkan permintaan dari industri biodiesel," kata Anilkumar Bagani, kepala riset dari Sunvin Group, broker minyak nabati yang berbasis di Mumbai.
Harga minyak melonjak lebih dari 25% pada hari Senin (9/3/2026) ke level tertinggi sejak pertengahan 2022 karena beberapa produsen utama memangkas pasokan dan kekhawatiran akan gangguan pengiriman yang berkepanjangan mencengkeram pasar.
Indonesia, pengguna biodiesel berbasis minyak sawit terbesar di dunia, mengatakan mungkin akan menghidupkan kembali rencana untuk meluncurkan biodiesel minyak sawit kelas B50 pada pertengahan tahun untuk melawan lonjakan harga minyak mentah.
Pada bulan Januari, Indonesia menunda rencana produksi B50, campuran biodiesel minyak sawit dan diesel konvensional dengan perbandingan yang sama, dengan alasan tantangan teknis dan pendanaan, dan melanjutkan mandat B40 sebagai gantinya.
Pergeseran kebijakan jangka panjang dari negara-negara seperti Indonesia kemungkinan hanya akan terjadi jika harga minyak sawit terus turun dibandingkan gasoil dalam jangka waktu yang lama, kata Bagani.
Baca Juga: Industri Jerman Mulai 2026 dengan Penurunan Pesanan dan Produksi yang Mengejutkan
Digunakan dalam berbagai produk, mulai dari kue dan minyak goreng hingga kosmetik dan produk pembersih, minyak sawit mencakup lebih dari setengah pengiriman minyak nabati global dan sangat populer di kalangan konsumen di pasar negara berkembang, terutama India.
Asia Tenggara berada pada posisi yang baik untuk secara konsisten memasok minyak sawit kepada pembeli di Asia, Timur Tengah, dan Eropa, kata Carl Bek-Nielsen, wakil ketua dan direktur utama di United Plantations Berhad.
Pasokan minyak sawit tetap melimpah dan dapat dikirim dengan cepat ke pembeli di Asia, tetapi sekarang harganya lebih mahal daripada minyak kedelai, yang dapat membatasi peningkatan permintaan, kata seorang pedagang yang berbasis di New Delhi dari sebuah perusahaan perdagangan global.













