Korea Utara peringkatkan pemerintahan baru AS, ini katanya

Selasa, 16 Maret 2021 | 08:06 WIB Sumber: Reuters
Korea Utara peringkatkan pemerintahan baru AS, ini katanya

ILUSTRASI. Kim Yo Jong, saudara perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un


KONTAN.CO.ID - SEOUL. Korea Utara kembali melontarkan kritik pedas terkait latihan militer gabungan yang dilakukan Korea Selatan dan Amerika Serikat (AS).

Selain mengkritik latihan militer tersebut, saudara perempuan pemimpin Korea Utara, Kim Yo Jong, memperingatkan pemerintahan baru AS agar tidak "menyebabkan bau busuk" jika menginginkan perdamaian. 

Selasa (16/3), Kantor Berita Korea Utara melaporkan, pernyataan itu dikeluarkan sehari sebelum diplomat dan kepala pertahanan tertinggi AS tiba di Seoul untuk pembicaraan pertama mereka dengan rekan-rekan Korea Selatan.

"Kami mengambil kesempatan ini untuk memperingatkan pemerintahan baru AS yang berusaha keras untuk mengeluarkan bau bubuk di tanah kami," kata Kim dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh kantor berita negara KCNA. 

"Jika mereka (AS) ingin tidur dengan damai selama empat tahun mendatang, lebih baik tidak menyebabkan bau pada langkah pertama," lanjut Kim. 

Baca Juga: Didekati Pemerintahan Biden, Korea Utara cuek

Tidak ada tanggapan segera dari Gedung Putih dan Departemen Luar Negeri, atau pemerintah Korea Selatan terkait pernyataan Kim. Tim Biden telah melakukan peninjauan terhadap kebijakan Korea Utara, yang diharapkan akan selesai dalam beberapa minggu mendatang.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken dan Menteri Pertahanan Lloyd Austin memang sedang melakukan perjalanan ke Asia pada minggu ini untuk membahas kebijakan luar negeri dan keamanan dengan sekutu terdekatnya. Jepang dan Korea Selatan, termasuk dalam jadwal perhentian bagi kedua menteri tersebut.

Waktu komentar Kim tampaknya dirancang untuk memastikan bahwa Korea Utara akan menjadi agenda utama Blinken dan Austin ketika mereka mendarat di Seoul, kata Ramon Pacheco Pardo, pakar Korea di King's College London.

"Sampai saat ini pembahasannya terfokus pada The Quad, menangani China dan review kebijakan Korea Utara," ujarnya. "Sekarang pernyataan Kim akan menjadi pusat diskusi."

Korea Utara sejauh ini menolak permintaan dari Amerika Serikat untuk terlibat dalam dialog, Gedung Putih mengatakan pada hari Senin. Perang dingin dalam dalam hubungan AS dan Korea Utara yang dimulai di bawah Presiden Donald Trump telah meluas ke masa kepresidenan Joe Biden.

Sebelumnya, Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengadakan tiga pertemuan puncak tingkat tinggi dengan Trump dan bertukar serangkaian surat, tetapi negara bersenjata nuklir itu mengakhiri pembicaraan dan mengatakan tidak akan terlibat lebih jauh kecuali AS mencabut kebijakan permusuhannya.

Pekan lalu, Korea Selatan dan AS memang memulai latihan militer musim semi bersama, yang dibatasi pada simulasi komputer karena risiko virus corona serta upaya berkelanjutan untuk terlibat dengan Korea Utara.

"Latihan perang dan permusuhan tidak akan pernah bisa berjalan dengan dialog dan kerja sama," kata Kim Yo Jong, yang telah menjadi kritikus vokal Seoul dalam kiriman media pemerintah.

Baca Juga: AS: Korea Utara menimbulkan risiko keamanan yang signifikan bagi Amerika

Dia mengejek Korea Selatan karena "menggunakan permainan perang yang menyusut, sekarang mereka menemukan diri mereka dalam rawa krisis politik, ekonomi dan epidemi."

Korea Utara akan mempertimbangkan untuk menarik diri dari perjanjian militer antar-Korea yang bertujuan untuk mengurangi ketegangan di sepanjang perbatasan bersama mereka, dan akan meninjau apakah akan membubarkan beberapa organisasi yang bertujuan untuk bekerja sama dengan Selatan, kata Kim.

Pernyataan Kim Yo Jong, meski berwarna-warni, umumnya konsisten dengan pernyataan Korea Utara di masa lalu yang mengungkapkan rasa frustrasi pada perbedaan antara kata-kata dan tindakan, kata Jenny Town, direktur 38 North, situs web yang berbasis di AS yang melacak Korea Utara.

"Bagaimana meskipun ada kesepakatan, tindakan positif terutama dalam agenda antar-Korea masih terlalu sedikit, sementara tindakan yang memperkuat hubungan permusuhan 'lama' tetap ada," katanya.

 

Selanjutnya: Demi pasukan AS tetap di Korea Selatan, Seoul setuju mengerek anggaran

 

Editor: Anna Suci Perwitasari

Terbaru