kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45672,14   1,07   0.16%
  • EMAS916.000 -1,08%
  • RD.SAHAM 0.54%
  • RD.CAMPURAN 0.26%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.10%

Kota industri China yang dilanda virus corona mulai berproduksi lagi, ini ceritanya


Kamis, 20 Februari 2020 / 04:14 WIB
Kota industri China yang dilanda virus corona mulai berproduksi lagi, ini ceritanya
ILUSTRASI. Aktivitas masyarakat di China mulai hidup kembali. REUTERS/Aly Song

Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Pusat-pusat manufaktur besar di daratan China mulai melonggarkan pembatasan pergerakan orang dan lalu lintas. Sementara, pemerintah daerah mendesak pabrik-pabrik untuk kembali memulai produksi. Langkah ini dilakukan setelah pabrik berhenti produksi selama berminggu-minggu akibat wabah virus corona yang mematikan.

Melansir Reuters, dalam upaya awal mereka untuk menahan virus, pihak berwenang memperpanjang liburan Tahun Baru Imlek selama sepekan pada akhir Januari sekitar 10 hari, melakukan karantina, dan memberlakukan pembatasan lalu lintas di sebagian besar negara itu.

Alhasil, langkah-langkah ini memperlambat sektor industri, karena perusahaan tidak dapat melanjutkan produksi atau mengembalikan produksi ke tingkat normal akibat kurangnya pekerja.

Baca Juga: Efek virus corona menghantam bisnis olahraga Adidas dan Puma

Banyak juga perusahaan yang tidak dapat menerima pengiriman bahan baku atau mengirim produk ke klien karena hambatan logistik, akibat gangguan yang melanda rantai pasokan di seluruh dunia.

China sendiri yakin akan mencapai keseimbangan antara memberantas epidemi yang telah menginfeksi lebih dari 70.000 orang dan membunuh lebih dari 2.000 orang, sekaligus melindungi ekonomi yang sudah melemah dari kerusakan yang lebih parah.

Baca Juga: WHO: Ada kemajuan luar biasa dalam perang melawan virus corona

Mari kita lihat Kota Foshan. Kota ini merupakan produsen besar peralatan elektronik dan rumah tangga di provinsi selatan Guangdong. Pemerintah kota setempat mengatakan pada Selasa malam bahwa para pebisnis tidak perlu lagi meminta persetujuan sebelum melanjutkan operasi. Mereka juga tidak perlu meminta pekerja yang kembali untuk menunjukkan bukti kesehatan mereka.

Pada hari Senin, kota terdekat Zhongshan juga mencabut larangan administratif semacam itu.

Baca Juga: Harga emas melesat di tengah kekhawatiran dampak ekonomi virus corona

Di provinsi timur Zhejiang, yang dikenal dengan sektor privatnya yang ramai, kota-kota Hangzhou dan Ningbo, sejak akhir pekan lalu juga mengurangi proses persetujuan bagi perusahaan yang ingin memulai kembali.

"Data makro dan mikro menunjukkan kegiatan produksi berjalan lambat di China, mencapai 60-80% dari tingkat normal pada akhir Februari dan normalisasi hanya pada pertengahan hingga akhir Maret," tulis Morgan Stanley dalam sebuah penelitian yang dicatat.

"Jika penyebaran virus tidak dapat dibendung dalam dua minggu ke depan, gangguan produksi dapat meluas ke kuartal kedua."

Baca Juga: Baru dinyatakan positif, dua warga Iran terjangkit virus corona meninggal

Analis yang disurvei oleh Reuters memperkirakan pertumbuhan China bisa melambat menjadi 4,5% pada kuartal pertama dari 6% pada kuartal sebelumnya. Akan tetapi, beberapa prediksi yang dirilis baru-baru ini berada di kisaran 3%-4%, mengutip penundaan dalam melanjutkan produksi.

Menjemput pekerja

Seorang pejabat di Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional China mengatakan kepada Reuters, lebih dari 50% dari perusahaan industri yang lebih besar di Guangdong, Jiangsu dan provinsi besar lainnya, serta Shanghai, telah memulai kembali produksi.

Beberapa kota di Guangdong dan Zhejiang pada minggu ini mengorganisasi bus dan kereta api untuk mengangkut para pekerja kembali dari kota asal mereka.

Baca Juga: Demi cegah virus corona, Korea Utara perpanjang masa karantina jadi 30 hari

Kota Taizhou, di Zhejiang, bahkan mengatur beberapa pesawat untuk menjemput para pekerja dari Chongqing, Guiyang, Chengdu, Kunming dan Xian.

Seorang pejabat di departemen sumber daya manusia pemerintah Zhejiang, mengatakan, ada kekurangan tenaga kerja yang relatif akut di Zhejiang, Ge Pingan.

Dia menambahkan, pada hari Selasa, 21.800 pekerja telah diangkut kembali ke provinsi timur dengan penerbangan carteran atau bus.

Sebagian besar perusahaan yang terdaftar di Zhejiang diharapkan untuk melanjutkan produksi pada akhir Februari.

Wabah ini juga telah mendinginkan permintaan konsumen dan memukul sektor jasa, dengan restoran, hotel, bioskop dan agen perjalanan.

Baca Juga: Total jadi 84, Singapura laporkan tiga kasus baru corona virus

Pasar mobil China, yang terbesar di dunia, kemungkinan akan mengalami penurunan penjualan lebih dari 10% pada paruh pertama tahun 2020 karena epidemi.

Dalam upaya untuk menghidupkan kembali konsumsi, Foshan mengumumkan langkah-langkah stimulus untuk pasar mobil.

Baca Juga: Tangkal tekanan ekonomi, Kemenkeu godok stimulus lewat fiskal

Menurut sebuah dokumen yang diterbitkan pada 3 Februari di situs webnya, pemerintah kota akan menawarkan subsidi 2.000 yuan (US$ 285) untuk pembelian mobil baru dan 3.000 yuan untuk penggantian mobil yang ada.

Foshan, kota tempat Volkswagen memiliki pabrik mobil dengan FAW Group, juga akan menawarkan subsidi untuk membantu mengimbangi biaya pemasaran perusahaan mobil.



TERBARU

[X]
×